Oleh : Al Azizy Revolusi

Mediaoposisi.com-Tidak banyak umat Islam yang mengenal panji dan bendera nya sendiri. Akibatnya, saat ada pihak-pihak seperti Hizbut Tahrir- berusaha mengenalkan kembali bendera Islam yang notabene bendera milik seluruh kaum muslim- ada yang bersikap heran, aneh bahkan nyinyir.

Bahkan ada yang curiga dan mengaitkan bendera itu dengan terorisme. Buktinya, banyak kasus 'bom teroris' dikaitkan dengan 'barang bukti' berupa bendera Islam, yakni bendera tauhid. Ada pula yang menduga bendera yang tertulis pada nya kalimat "La ilaha illallah Muhammad Rasulullah" itu adalah bendera Hizbut Tahrir, apalagi jika berwarna hitam dan putih. Lalu dengan tuduhan itu, pembakaran bendera tauhid seolah dapat dibenarkan.
.
Begitulah saat umat sudah terjauhkan dari sejarah dan politik Islam. Umat terlalu lama hidup di bawah naungan sistem sekuler dengan konsep nasionalisme dan negara-bangsa ( _nation-state_ )-nya. Akibatnya, mereka hanya familiar dengan bendera nasionalisme atau negara-bangsa ( _nation-state_ )-nya masing-masing.

Padahal jauh sebelum era negara-bangsa yang sejatinya merupakan hasil rekayasa kafir penjajah, umat Islam selama berabad-abad dalam satu kesatuan wilayah di bawah Khilafah dengan satu bendera atau satu panji. Itulah yang dikenal dengan _al-Liwa'_ (bendera putih) dan _ar-Rayah_ (bendera hitam) bertuliskan _La ilaha illallah Muhammad Rasulullah_.
.
Sungguh kemuliaan dan kewibawaan bendera tauhid yakni _al-Liwa'_  dan _ar-Rayah_ terus terjaga selama beberapa abad lamanya hingga berakhir tragis setelah muncul dan berkembangnya nasionalisme dan negara-bangsa ( _nation-state_ ).

Keduanya menjadi faktor utama keruntuhan Khilafah Islamiyah pada 3 Maret 1924. Dalam _nation-state_, rakyat mengidentifikasi diri mereka sebagai sebuah "bangsa" ( _nation_ ), yaitu suatu komunitas manusia menganggap dirinya satu kesatuan berdasarkan etnis, sejarah, bahasa budaya, atau faktor pemersatu lainnya.
.
Setelah keruntuhan Khilafah di Turki tahun 1924 inilah negeri-negeri Islam terpecah belah atas dasar konsep _nation-state_, mengikuti hidup Barat. Gagasan _nation-state_ telah menjadi racun yang mematikan karena telah menimbulkan disorientasi jati diri juga disintegrasi kaum muslim.

Sebagai contoh, umat Islam dari berbagai bangsa, seperti Turki dan Arab, yang awalnya mengidentifikasikan diri mereka sebagai umat Islam yang dipersatukan dengan Akidah Islam. Akhirnya mengidentifikasikan diri mereka sebagai "bangsa Turki" dan "bangsa Arab". Implikasinya masing-masing negara-bangsa mempunyai bendera nasional dengan berbagai macam corak dan warna. Inilah racun yang menjadi cikal bakal disintegrasi dan perpecahan umat islam.
.
Sejak saat itulah, _al-Liwa'_  dan _ar-Rayah_ seakan-akan tenggelam dan menjadi asing dan terasingkan di tengah masyarakat muslim. Kemuliaan dan kewibawaannya seketika hilang simbol-simbol murahan yang dipaksa untuk dikeramatkan.
.
Kondisi inilah yang mengakibatkan munculnya pandangan curiga dan sinis dari kalangan sekuler terhadap bendera Islam yang bertuliskan _La ilaha illallah Muhammad Rasulullah_. Upaya mengalienasi Syariah Islam dan simbol pentingnya termasuk _al-Liwa'_  dan _ar-Rayah_, dilakukan secara sistematis oleh negara kafir penjajah dengan dibantu oleh penguasa anteknya di negeri kaum muslim.

_Al-Liwa'_  dan _ar-Rayah yang dulu dimuliakan, diagungkan bahkan orang-orang terbaik berharap untuk mengusungnya, kini distigmatisasi. Tujuannya adalah agar umat Islam menjauhinya.
.
Hal tersebut sesungguhnya lahir dari kebodohan yang nyata terhadap ajaran Islam karena adanya sikap taklid buta pada konsep _nation-state_ yang membelenggu dan memecah belah umat Islam di seluruh dunia.
.
Sudah saatnya umat Islam sadar dan kembali pada ajaran Islam yang dibawa Rasulullah _Shallallahu 'Alaihi Wasallam_  termasuk dalam persoalan bendera ini.
.
Oleh karena itu, marilah kita terus mensosialisasikan _al-Liwa'_  dan _ar-Rayah_ kepada umat, terutama karena keduanya adalah bendera dan panji resmi Khilafah Islam. Harapannya umat melihat _al-Liwa'_  dan _ar-Rayah_mereka Ingat Khilafah.

Saat mereka ingat Khilafah -beserta dengan seluruh landasan kewajibannya, ragam kebaikannya serta gilang-gemilang pada masa lalu- mereka akan merindukan kembali Khilafah itu hadir di tengah mereka. Pada gilirannya, mereka akan berjuang bersama-sama untuk sesegera mungkin menegakkan kembali Khilafah _'ala minhaj an-nubuwwah_.[MO/ge]                               

Posting Komentar