Oleh: Mira Susanti 
(Aliansi Penulis Perempuan Untuk Generasi)

Mediaoposisi.com-  Tragedi pembakaran bendera tauhid pada peringatan hari santri 22 Oktober 2018 kemaren telah memicu amarah  umat islam sedunia. Hal itu ditunjukkan dengan berbagai aksi penuntutan terhadap pelaku  dengan membawa ribuan Bendera tauhid yang bertuliskan kalimat " laa illaha ilallah muhammad rasulullah".

Meskipun dengan dalih bahwa bendera tersebut milik ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Keberadaan HTI  memang memberikan hawa sejuk tersendiri bagi umat islam yang benar -benar ingin mengamalkan seluruh ajaran islam secara kaffah. HTI hadir memberikan solusi dengan menyerukan penerapan islam melalui kepemimpinan umum bagi seluruh umat islam yaitu Khilafah.

Sungguh aksi pembakaran kalimat tauhid tersebut merupakan tindakan diluar nalar sehat seseorang yang mengatakan dirinya bagian dari umat islam dengan dalih bahwa yang mereka bakar bukan kalimat tauhid nya tapi karena bendera itu milik HTI. Padahal jelas HTI sendiri telah mengkonfirmasi bahwa HTI tidak memiliki bendera partai.

Namun sikap penguasa tetap saja memaksa bahwa oknum pembakar bendera tetap tidak bersalah justru yang disalahkan ialah pembawa bendera itu sendiri. Suasana semakin runyam umat islam pun tidak tinggal diam ketika pelaku penghinaan bendera tauhid dibiarkan. Para  ulama serta ormas islampun akhirnya menyerukan untuk melaksanakan aksi bela tauhid  211 jilid II di Jakarta.

Meskipun ada pihak yang menganggap bahwa aksi tersebut sia-sia hanya akan menghabiskan energi sebagaimana yang disampaikan oleh Wakapolri Komisaris Jenderal Polisi Ari Dono Sukmanto menyarankan warga luar Jakarta membatalkan niatnya mengikuti Aksi Bela Tauhid 211 jilid II. Ia meminta masyarakat sebaiknya berkabung atas musibah bencana yang menimpa negeri ini.(Rebuplika.co.id).

Satu hal yang perlu diketahui bahwa umat bergerak tentu ada sebabnya. Sebabnya ialah ketika penguasa negeri ini menganggap persoalan penistaan agama  hal remeh tidak perlu di gadang-gadangkan.

Sungguh sangat disayangkan seorang aparat negara memilih bersikap sebelah mata,seolah umat islam tidak memiliki rasa empati dengan semua musibah yang menimpa negeri ini.justru umat islam ingin menunjukan bahwa musibah terbesar itu ialah ketika para penghina kalimat tauhid itu dibiarkan liar tanpa kontrol sehingga akan melahirkan para penista agama berikutnya.

Upaya tersebut akan menjadi kesia-siaan karena apa? Karena pergerakan umat terjadi bukan pertimbangan untung atau rugi yang bersifat duniawi namun lebih dari itu bahwa umat di dorong oleh keimanan yang menancap kokoh di dada mereka.

Kalimat tauhid merupakan kalimat yang sangat dimuliakan bagi mereka yang memiliki keimanan yang lurus,meskipun tertulis dalam sehelai kain tapi tidak ada satu orang makhlukpun di bumi ini layak untuk membakarnya apalagi menghinakannya. Karena ia merupakan Harga mati bagi mukmin sejati. Membakar serta menghinakannya sama halnya bahwa pelaku tersebut telah Menghinakan Allah SWT dan  RasulNya pemilik jagad raya ini.

Maka jelas bahwa aksi yang dilakukan oleh umat islam  saat ini bukanlah  semata-matUna karena emosi sesaat apalagi karena kepentingan kelompok tertentu. Tapi ini menunjukan refleksi keimanan yang tumbuh dari kesadaran bahwa tidak ada yang harga mati di dunia ini kecuali hidup dan mati  dengan kalimat Tauhid.

Meskipun harus mengorbankan waktu,pikiran,harta,tenaga,bahkan nyawa sekalipun akan dikorban.Sehingga halangan,tantangan dan rintangan tidak akan menyurutkan langkah umat islam demi membela dan memuliakan kalimat tauhid.[MO/sr]








Posting Komentar