Oleh: Sitti Sarni,S.P 
Founder Komunitas Pejuang Islam

Mediaoposisi.com-Semakin dekat aksi 212, semakin banyak yang menghalangi atau menghadang aksi tersebut agar tidak dapat dilakukan, bahkan ada yang mengadakan aksi tandingan, seperti yang dilansir media online JAKARTA. Mantan pengacara Habib Rizieq Shihab, Kapitra Ampera tidak sepaham dengan acara reuni akbar alumni 212 yang rencananya akan diselenggarakan pada Minggu 2 Desember 2018 di kawasan Monas, Gambir, Jakarta Pusat.

Kapitra mengungkapkan, gerakan tersebut sudah melenceng dari nilai-nilai perjuangan bela Islam. Oleh karenanya, Caleg dari PDI Perjuangan itu akan membuat aksi tandingan diwaktu dan tempat yang sama.

Selain kapitra yang tidak setuju dengan aksi 212, kepala staf kepresidenan Moeldoko juga tidak sepakat adanya aksi ini. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengungkapkan acara Reuni 212 yang rencananya digelar di Lapangan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Minggu (2/2)

mendatang seharusnya tak perlu dilakukan. Moeldoko menilai Reuni 212 justru membuat masyarakat jadi takut dengan adanya ajakan untuk mengibarkan bendera bertuliskan kalimat Tauhid. Sehingga, ia berpesan agar tak perlu ada pengibaran bendera berlafal Tauhid dalam acara Reuni 212.

"Ya kita belum lihat ya niatnya. Tapi intinya, janganlah masyarakat menjadi takut. Karena saya sudah mendengar dari berbagai komunitas, takut menghadapi situasi-situasi seperti itu," kata Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (29/11).

Dari situlah Moeldoko berharap agar penyelenggaraan Reuni 212 perlu dipikir ulang, karena ia melihat acara tersebut tak membawa rasa damai.

Rezim Takut Dengan Persatuan Umat

Moeldoko mengungkapkan bahwa aksi 212 ini membuat masyarakat takut. Sesungguhnya masyarakat yang mana yang dimaksud ? Karena yang akan datang ikut aksi 212 adalah masyarakat seindonesia.

Mengapa Masyarakat dilarang mengibarkan bendera tauhid ? Padahal bendera tauhid ini adalah yang menentukan surga dan nerakanya kita. Bendera ini yang berlafazkan Laa illaha ilaallah yang merupakan syahadat kaum muslim dan bukti pemersatu umat, jadi apa yang harus di takuti  dari bendera ini ?

Mengatakan aksi 212 ditakutkan tidak akan berjalan damai. Dari aksi 212 sebelumnya, aksi ini selalu berjalan damai dan tidak terjadi kericuhan, jangankan terjadi kericuhan rumput pun masa aksi menjaganya. Jadi sesungguhnya apa yang ditakuti dari aksi ini ? Jawabannya tentu mereka takut dengan persatuan umat dengan berlandaskan satu ikatan yaitu ikatan aqidah, yang akan membangkitkan islam. 

Sesungguhnya dengan adanya persatuan umat islam ini,  membuat musuh-musuh islam gemetar. Mereka takut dengan adanya persatuan umat. Bila islam sudah bersatu dengan adanya kepemimpinan tunggal maka keruntuhan kapitalisme-sekulerisme anak kandung demokrasi ini semakin dekat.

Aksi Persatuan Umat Tegakan Islam

Aksi yang akan dilakukan umat Islam di Jakarta  mengingatkan kita bahwa persatuan kaum muslimin haruslah dibangun atas azas tauhid. Persatuan umat Islam bukanlah didasari atas kepentingan politik, tidak pula didasari atas manfaat duniawi, tidak pula berdasarkan batas wilayah bangsa ataupun negara.

Tapi persatuan Islam haruslah berdasarkan kalimat tauhid, kalimat lailahaillallah, yang menjadi simbol keislaman dan simbol kepatuhan terhadap Zat Pencipta dan Pengatur alam semesta.
Islam menjadikan tali Allah sebagai perekat utama dalam membangun persatuan.

Bukan tali kebangsaan. Ketika Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersatu, maka jelas yang dikehendaki adalah persatuan atas ikatan yang hakiki. Ikatan yang tidak memandang perbedaan apapun selain iman dan taqwa. Karenanya, kita selalu diperintahkan untuk bersatu dengan memegang erat tali Allah, yaitu bersandar kepada prinsip kesatuan dalam memenangkan syariat Islam. Rasanya percuma jika ada slogan persatuan umat Islam bilamana bersatu kepada selain tali Allah alias bersandar kepada selain syariat Islam. Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali-Imran; 103)

Dengan ikatan iman, Rasulullah saw berhasil mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin layaknya saudara kandung sendiri.

Mereka berbeda suku dan bangsa tapi mereka saling mencintai satu sama lain. Kaum Anshar sebagai pribumi di kota Madinah rela berkorban demi mengutamakan (itsar) terhadap kaum muhajirin yang datang dari Makkah. Sungguh persaudaraan yang sulit dicari badingannya hingga sekarang.

Allah ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Demikianlah bentuk ikatan persaudaraan yang diharapkan dalam Islam. Persaudaraan yang dibangun atas dasar iman. Tidak ada hal yang membeda-bedakan selain ketaqwaan semata.

Walaupun kabilahnya berbeda, bahasanya tak sama, warna kulit beragam rupa, tapi mereka bersaudara dalam ikatan Islam, “Semua orang mukmin adalah bersaudara,” Rasulullah mempersatukan hati mereka dengan ikatan iman tanpa memandang perbedaan apapun juga. Sungguh sebuah ikatan yang tidak mampu ditandingi oleh ikatan apapun juga yang direkayasa oleh manusia hingga hari ini.

Hari ini kita bisa melihat betapa rasa semangat membela tanah air mampu meruntuhkan ukhuwah Islamiyah yang mestinya harus kita jaga bersama. Sekali lagi, Islam tidak pernah melarang kita untuk mencintai bumi tempat kelahiran kita.

Namun kecintaan tersebut tidak boleh melampaui atau mendobrak kemulian ajaran Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri adalah sosok teladan dalam hal ini. Beliau sangat mencintai tempat kelahirannya, Makkah. Bahkan ketika diperintahkan untuk berhijrah dan terpaksa harus meninggalkan Makkah.

Beliau mencintai Makkah. Namun ketika potensi dakwahnya redup dan ajaran Islam tidak bisa berkembang, maka beliau memilih untuk meninggalkan Makkah. Beliau hijrah ke Madinah dan di sanalah beliau berhasil membangun dakwah. Kecintaan beliau pun terhadap kota Makkah diruntuhkan demi Islam.

Demikianlah hakikat cinta terhadap tanah kelahiran. Cintanya tidak boleh melampaui kecintaan kepada Sang Pencipta. Sebab prinsip seorang muslim, keridhaan Allah adalah di atas segala-galanya. Sementara dunia tidak lain hanyalah perantara semata. Jauhnya tempat tinggal dengan tanah kelahiran bukan sebuah masalah, Tapi yang menjadi masalah adalah ketika hidup tidak bisa meraih kecintaan dari Sang Kuasa.

Maka dari itu wahai kaum muslim, semoga dengan adanya aksi 212 ini menjadi aksi persatuan umat untuk menegakan islam dimuka bumi ini. Dengan adanya ikatan aqidah dalam kepemimpinan tunggal dalam daulah islam maka islam dapat diterapkan diseluruh aspek kehidupan. Maka  sudah menjadi kewajiban kita untuk menegakan agama allah di muka bumi ini.[MO/an]








Posting Komentar