Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
"Pengasuh Grup Online  Obrolan Wanita Islamis"


Mediaoposisi.com-Forum Ekonomi Dunia atau lebih dikenal dengan nama World Economic Forum (WEF) adalah sebuah yayasan organisasi non profit yang didirikan di Jenewa dan terkenal dengan pertemuan tahunannya di Davos, Swiss yang selalu mempertemukan para pemimpin atas bisnis dunia, pemimpin politik seluruh dunia, cendekiawan dan wartawan terpilih untuk mendiskusikan masalah penting yang dihadapi dunia termasuk kesehatan dan lingkungan.

Forum ini juga mengadakan "Annual Meeting of the New Champions" di Cina dan beberapa sesi pertemuan wilayah setiap tahunnya. Organisasi ini didirikan pada tahun 1971 oleh Klaus M. Schwab, seorang profesor bisinis di Swiss.

Selain pertemuan, Forum ini menghasilkan beberapa seri laporan penelitian dan melibatkan anggotanya untuk melakukan inisiatif di sektor-sektor tertentu. WEF tahunan selalu merupakan peristiwa yang ditunggu-tunggu ketika ada kehadiran banyak politisi, direktur eksekutif dan orang yang terkemuka untuk berbahas tentang masalah-masalah ekonomi besar global.

Walaupun hanya merupakan tempat untuk mengeluarkan pendapat dan pandangan, tapi WEF turut menyumbangkan suara penting, mendorong pimpinan semua negara mengusahakan solusi-solusi bersama untuk menghadapi serentetan risiko dari perekonomian global.

Konferensi WEF-ASEAN 2018 diadakan ketika ASEAN sedang membuktikan sebagai kawasan yang dinamis dan berkembang cepat. Melalui forum resmi dan sesi-sesi pembahasan ada banyak rekomendasi, gagasan dan solusi yang telah dikedepankan di konferensi ini untuk memanfaatkan peluang-peluang besar dari Revolusi Industri generasi keempat, bersamaan itu mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh era digital.

Negara-negara ASEAN melihat harus mengembangkan faktor internal, menciptakan lingkungan bagi kekreatifan dan hal baru untuk disebar-luaskan, menciptakan tenaga pendorong bagi perkembangan pertumbuhan yang makmur dalam dunia yang sedang bergerak cepat. Oleh karena itu, pada konferensi ini, negara-negara ASEAN telah  mengeluarkan solusi dan gagasan untuk memecahkan risiko dan bahaya.

Konferensi WEF-ASEAN 2018 di Kota Ha Noi belangsung pada latar belakang proses pembangunan Komunitas ASEAN sedang terus diperhebat dan dampak Revolusi Industri generasi keempat semakin mendalam.

Sukses yang dicapai konferensi ini membantu negara-negara anggota ASEAN menetapkan secara jelas pengarahan-pengarahan besar tentang perkembangan dalam Revolusi Industri generasi keempat, turut mensukseskan Visi ASEAN 2025 demi kepentingan dan perkembangan seluruh kawasan dan setiap negara.

Tantangan banyaknya SDM khususnya pemuda, ekonomi digital dan revolusi Industri 4.0, serta target pasar ASEAN, tidak akan bisa diselesaikan dengan mengikuti arus globalisasi ekonomi digital. Pasalnya, dalam globalisasi ini, negara-negara ASEAN dipaksa untuk menjadi user bukan pemegang ekonomi.

Hal ini terlihat dari tetapnya pusat digitalisasi di Silicon Valley, AS. Penguasa search engine tetap dipegang Google. Bahkan dalam dunia bisnis digital, raksasa marketplace dunia tetap dipegang oleh Amazon dan Alibaba.

Hal ini juga terlihat dari pendidikan di kawasan ini yang berfokus pada pendidikan vokasional dan training atau pelatihan untuk menguasai IT.

Menguasai IT dengan tingkat pendidikan vokasional di sekolah-sekolah menengah kejuruan, akan menjadikan SDM  pemuda ASEAN menjadi user pengguna bukan maker (pembuat). Walhasil, SDM ASEAN  hanya akan menjadi para buruh yang bekerja di raksasa-raksasa bisnis digital negara maju.

Terlebih lagi dengan adanya  RI 4.0, mesin-mesin kecerdasan artifisial akan menggantikan tenaga kerja manusia. Jika tingkat pendidikan angkatan kerja ASEAN rata-rata adalah SMK, maka mereka tidak akan terserap dalam dunia kerja. Karena dunia kerja menggunakan mesin, bukan manusia. Lantas SDM tenaga kerja ASEAN akan diserap di mana?

Pada akhirnya, ASEAN  digiring untuk menjadi kawasan bisnis digital, jasa dan pariwisata.  Wajah ASEAN  akan diubah menjadi kawasan ekonomi digital dan pariwisata. Ini adalah sebuah jeratan ekonomi yang meninabobokan ASEAN. Pasalnya, ASEAN  tidak akan menjadi negara industri. Tidak akan memproduksi apapun. Padahal jumlah SDM nya besar. Sehingga, ASEAN akan tergantung pada produksi industri dari negara maju di kawasan lain.

Hal ini seiring dengan jeratan politik dan social, yang ada dalam rekomendasi WEF, berupa muculnya pemimpin muda baru yang go digital, disrupt, dan toleran serta moderat.

Para pemimpin politik yang akan berpuas diri dengan pertumbuhan ekonomi dari bidang jasa dan pariwisata. Serta lupa pada potensi sumber daya alam yang berlimpah di negerinya.   ASEAN seolah dininabobokan dengan ekonomi digital dan dibuat lupa dengan SDA.

Inilah salah satu malapetaka yang menimpa dunia. Malapetaka akibat adanya konvensi (perjanjian-perjanjian) Internasional dan organisasi internasional. ASEAN sebagai sebuah organisasi internasional bentukan, telah menjadi kepanjangan tangan dari negara kapitalis untuk memaksakan rancangan ekonomi mereka untuk dunia.

Di Forum ASEAN, para kapitalis negara maju seolah meyakinkan bahwa negara-negara ASEAN harus go digital, harus mengikuti RI 4.0. mengikuti alur mereka untuk pertumbuhan ekonomi.

Padahal dibalik itu semua, para kapitalis maju merancang beragam cara untuk mengeruk sumber daya alam negara-negara kawasan ini, mempekerjakan buruh murah, dan menguasai jalur logistik dan distribusi ekonomi kawasan.

Seperti yang dilakukan China dengan OBOR (One Belt one Road) dan Jepang dengan konsep AAGC (Asia-Africa Growth Corridor).  WEF menjadi sebuah forum penghasil kesepakatan dan perjanjian internasional untuk legalisasi menjerat ekonomi negeri-negeri ASEAN. Sehingga berhasillah upaya para kapitalis dunia menjerat  ekonomi ASEAN.

Sungguh, yang dibutuhkan negara-negara ASEAN dan seluruh negeri di dunia ini adalah pertumbuhan ekonomi riil yang berpengaruh terhadap kesejahteraan individu rakyat. Lapangan pekerjaan riil bagi rakyat.

Harta negara yang riil, hasil produksi sumber-sumber kekayaan alam yang ada di setiap negara. Dan negara yang independen, bebas dari jeratan penjajahan ekonomi dari negeri manapun.[MO/an]

Posting Komentar