Oleh: Sri Hartati Daniel

Mediaoposisi.com- Stand up comedy adalah salah satu acara hiburan yang banyak diminati masyarakat terutama kaum muda. Acara kekinian yang sering mengangkat isu-isu yang berkembang di masyarakat baik itu masalah sosial, politik  dan budaya tak terkecuali isu SARA pun menjadi hal menarik untuk dijadikan tema bagi para komika.

Sebagaimana yang terjadi belakangan ini, yang “sukses” meramaikan jagad maya (socmed) dan membuat marah netizen  “berkat” isu agama yang mereka usung. Mengapa harus marah? Apakah tidak boleh mengangkat tema Agama di dunia stand up comedy? Hmm, ada pro kontra di sini.

Komika-komika yang belakangan ini tersandung kasus penistaan agama dengan lawakan-lawakannya antara lain ustad Ambia, Joshua Suherman, Uus, Ge Pamungkas dan yang masih segar diingatan kita, Tretan Muslim dan Choki Pardede yang menyebut babi, neraka, kurma, madu, dan cacing muallaf yang terkesan mengolok-olok. Video yang diunggah melalui akun YouTube Muslim dengan konten yang bernama Last Hope Kitchen, di video tersebut mereka memberikan lawakan yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak. Lucukah?

Kira-kira apa yang terjadi makanan haram babi ini dicampur dengan makanan barokah dari kurma dan madu,"

"Jadi bagaimana ceritanya kalau sari-sari kurma masuk ke dalam pori-pori apakah cacing pitanya akan mualaf?

Lawakan yang dibawakan dua komika tersebut kontan menyulut amarah umat Islam, kalimat-kalimat yang dilontarkan keduanya telah menistakan agama, mereka berolok-olok dengan ajaran agama. Mereka berdalih tidak bermaksud menistakan agama, materi-materi lawakan yang mereka bawakan adalah mengangkat masalah-masalah yang ada di masyarakat, menunjukkan kepada masyarakat bahwa ada hal seperti ini yang terjadi di masyarakat.

Berbeda dengan Sakdiyah Ma’ruf – komika yang sering mengangkat isu perempuan, termasuk soal hijab, dan identitas Arabnya, tentang kebangkitan gerakan fundamentalisme, serta liberalisme – menurutnya ada batasan yang harus dipegang dalam mengolah materi stand up, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dibahas, batasan itu menurutnya adalah membahas hal-hal yang kita tidak memiliki cukup pengetahuan atasnya. (BBC.com)

Mengangkat isu-isu yang terjadi di masyarakat, termasuk isu agama, menurut penulis boleh-boleh saja asal dipahami betul permasalahannya apalagi masalah agama, harus memiliki pengetahuan yang cukup terhadap masalah yang dibicarakan. Sebagaimana firman Allah SWT:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya....” (QS Al Isra: 36).

Kebebasan berpendapat dan berekspresi yang dilandasi sekularisme liberalisme telah menjadikannya kebablasan, tanpa sekat dan batas, tidak terikat oleh aturan dan norma-norma agama. Dan mirisnya, kasus-kasus seperti itu berulang kali terjadi di negeri yang mayoritas muslim ini.

Tidak hanya di panggung hiburan, di tengah-tengah masyarakat pun kerap terjadi penistaan terhadap Islam, entah pelaku hiburan yang meniru masyarakat ataukah masyarakat yang meniru pelaku hiburan. Tidak adanya sanksi yang tegas, apalagi pembiaran terhadap hal ini, menjadi penyebab berulangnya kasus-kasus serupa.

Islam telah memberikan batasan yang jelas bagaimana seharusnya berpendapat dan berekspresi. Pengetahuan yang mencukupi sebagaimana yang telah disinggung di atas, hal ini sangat penting agar tidak terjerumus mengikuti hawa nafsu belaka dan akhirnya terjebak dalam penghinaan terhadap agama dan mengolok-olok ajarannya. Dan jika dia muslim, menistakan agamanya sendiri bisa menjatuhkan nya dalam kemunafikan bahkan kafir setelah beriman. Allah Ta'ala telah menyebutkan dalam Al Qur’anul Karim:

 “Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu, niscaya Kami akan mengazab golongan disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa”. (QS. At-Taubah [9]: 66)

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa, maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat”. (QS. Al-An’aam [6]: 68)

Begitu juga dalam sebuah hadits disebutkan:

"Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa, celakalah dia celakalah dia". (HR. Abu Dawud).

Mengangkat isu agama di panggung stand up boleh-boleh saja tapi ingat batasan-batasannya, tidak untuk diolok-olok apalagi dinistakan. Standar perbuatan seorang muslim adalah halal haram, kebebasan dalam Islam adalah bebas melaksanakan syari’at tanpa persekusi, setiap aktivitas kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. kelak di Yaumil akhir.

Aturan-aturan yang jelas dan tegas di dalam Islam bukanlah untuk membuat kita kekurangan ruang gerak untuk berkreasi akan tetapi aturan-aturan tersebut menjaga kita agar tidak hancur berantakan, setidaknya begitulah orang bijak mengatakan.[MO/sr]




Posting Komentar