Oleh :Riyanti 
(Mahasiswa Hukum Keluarga UIN Banten dan Aktivis BMI COMMUNITY BANTEN)


Mediaoposisi.com-Generasi digital Gen Z adalah generasi yang lahir di tahun 1995-2010. Ada beberapa ciri khas yang dimiliki oleh generasi Z, yaitu : mereka merupakan generasi yang amat dekat dengan digital. Mereka gandrung akan teknologi informasi. Dan mereka juga mahir dalam menggunakan berbagai aplikasi komputer. Tujuan awalnya untuk mencari Informasi pendidikan agar cepat dan mudah diakses.

Pekembangan selanjutnya gen z menggunakan aplikasi di sosial media sebagai sarana kehidupan. Mulai dari pendidikan (Kursus Online, nge-google), hiburan (Gamis, chatting, tontonan), shoping kebutuhan semua tinggal klik lalu barang datang.

Akhirnya, saking dekatnya dengan dunia sosial media mereka lebih sering berkomunikasi lewat facebook, twitter, line, whatsapp, telegram, instagram, atau SMS daripada komunikasi secara langsung . Melalui media ini mereka jadi lebih bebas berekspresi dengan apa yang dirasa dan dipikir secara spontan.

Dampak media digital
Sebuah studi oleh Goldman Sachs menemukan bahwa hampir setengah dari Gen Z terhubung secara online selama 10 jam sehari atau lebih. Studi lain menemukan bahwa seperlima dari Gen Z mengalami gejala negatif ketika dijauhkan dari perangkat smartphone mereka. (Wikipedia. Com)

Beginilah jadinya ketika smartphone dan media sosial tidak hanya dilihat sebagai aplikasi dan platform, lebih fatalnya dijadikan sebagai cara hidup (life style). Dulu Internet hanya bisa di akses di warung Internet (warnet), sekarang bisa diakses dimana dan kapan saja. Kemudahan mengakses segala sesuatu bisa didapat dengan cepat melalui Internet. Akses internet telah menjadi kebutuhan bahkan candu bagi Generasi muda sekarang.

Namun dampak negatif yang dihasilkan dari kemudahan akses ini mengakibatkan 10 jam waktu mereka habiskan di depan komputer /HP untuk mengakses Internet. Mereka terbuai dengan kecanggihan dan kemudahan yang disajikan media digital.

Keterbukaan media sosial membuat para pemuda bebas mengakses apa saja, disamping hal itu baik atau buruk. Mereka juga bebas mengekspresikan diri tanpa melihat efek yang akan diterima. Banyak generasi muda terjebak pada hal negatif yang ditimbulkan media digital. Nonton video porno, candu games, bebas akses, bebas ekspresi (ikutan challange yang lagi viral misalnya).

Sistem sekuler mendukung kebebasan
Generasi muda masuk ke dunia digital dan bebas mengekspresikan apa saja untuk menshow up diri mereka agar terkenal. Sistem sekuler (faham yang memisahkan agama dari kehidupan) saat ini bahkan memberikan pintu selebar-lebarnya untuk mereka. Padahal, Ini merupakan agenda terselubung Barat agar generasi muda hari ini abai akan tugas besar mereka sebagai agen of Change . Serta menjauhkan generasi muda muslim dari ajaran Islam.

Selain lewat fun, food, dan fashion, barat juga menjajah kaum muslim lewat film yang dipublikasikan
leway media sosial. Tak hanya film, tapi juga lewat konten-konten yang berbau negatif seperti games yang membuat para penggunanya candu. Akhirnya generasi muda hari ini menjadi generasi pembebek dari apa yang disajikan sosial media. Hits, terkenal, tenar, banyak penggemar, dapat banyak uang itu yang menjadi tujuan. Akhirnya pergaulan bebas, pacaran, perzinahan, tawuran sudah menjadi kebiasaan.

Sebagaimana yang diberitakan (Tribunlampung.co.id, 02 Oktober 2018) bahwa 12 siswi SMP di Lampung Utara hamil di luar nikah. Komisi perlindungan Anak daerah Kabupaten Bekasi mendapatkan temuan terkait tindak asusila melalui aplikasi chatting (WA). Ironisnya, grup tersebut beranggotakan anak SMP di Cikarang Selatan. (Cikarang, Pikiran Rakyat, 2018)

Keluarga abai pada gen Z

Keluarga adalah unit terkecil penyangga sistem dalam negara. Keluarga juga penyalur kasih sayang dan pengontrol setiap aktivitas anggotanya. Namun di tengah bebasnya media digital, kurangnya kontrol keluarga pada generasi muda. Terlebih sistem sekuler-liberal telah menghilangkan peran kontrol keluarga. Keluarga dalam sistem ini mendukung dan Membebaskan generasi muda berekspresi. Mereka mensuport dengan pernyataan "Biarkan. Itu sebagai ajang mereka berekspresi. Menunjukkan kreatifitas yang mereka miliki agar bisa berkreatifitas".

Disisi lain orangtua lebih fokus mengejar materi. Alasannya 'untuk kebahagiaan si anak', padahal itu hanya pembenaran bagi rasa bersalah diri mereka membiarkan anak tumbuh tanpa didikan keluarga. Bagaimana orangtua mau mengontrol penggunaan media digital pada anak? Sedangkan kondisinya sebelum anak bangun orangtuanya berangkat kerja, pulang kerja anaknya sudah tidur. Tidak ada waktu untuk mengurusi anak bagaimana pergaulannya, bagaimana aktivitasnya, bagaimana pendidikan nya dan lain sebagainya .

Lebih parahnya kedua tipe orangtua ini dipengaruhi oleh sistem sekuler yang telah merenggut keharmonisan keluarga. Sistem kapitalis dan materialistik pula yang menyebabkan manusia menempatkan pengejaran kekayaan sebagai tujuan tertinggi ideologisnya. Sehingga menempatkan keuntungan materi di atas manusia keluarga. Sistem ini telah konsisten untuk fokus pada mengamankan pundi-pundi pendapatan bisnis tak menjadi pertimbangan keutuhan institusi keluarga.

Media digital mesin perusak generasi

Di zaman ini, media digital dijadikan mesin untuk merusak generasi. Bagaimana tidak, kita lihat fakta
hari ini bahwa kebanyakan pelajar, mahasiswa lebih sedih ketika baterai hp nya low daripada imannya yg low. Ujian yang dipersiapkan bukan belajar, tapi kuota dan chargeran supaya nanti bisa Google-an.

Hasilnya, nyontek menjadi tradisi yang sudah tak asing lagi ketika ujian. Maka wajar jika hari ini generasi muda tidak memiliki idealisme yang baik. Wajar ketika mereka lulus bukannya menjadi orang yg berilmu, malah menjadi orang yang keliru. Bukannya menjadi generasi pembangkit, malah menjadi generasi perusak.

Pengaturan Islam pada Gen Digital (Gen Z)

Islam tak pernah melarang ummatnya untuk tidak berkecimpung di dunia media digital/sosial, sebaliknya hal ini akan berpotensi untuk mendakwahkan Islam menjadi lebih cepat dan efektif sampai kepada masyarakat. Sekarang ini banyak selebgram, youtubers, facebooker atau pengguna medsos lainnya menggunakan medsos untuk media dakwah.

Dengan cara ini Islam akan cepat tersampaikan kepada khalayak ramai. Hingga akhirnya mereka yg malas datang ke kajian, tak lagi ketinggalan materi karena bisa liat live streaming di IG, FB. Mendengarkan rekaman ceramah ustadz-ustadz yang keren, liat video Pengemban dakwah yang aktif, bahkan kita pun bisa menjadi Pengemban dakwah sosmed.

Tak sampai disitu, Islam mengatur bagaimana negara dan orang tua mengontrol para generasi muda agar tak terjebak pada penggunaan media digital ke arah yg kelam. Islam mengatur bagaimana seharusnya penggunaan sosmed yang baik dan benar.

Pertama, Orangtua berusaha menanamkan aqidah Islam kepada anggota keluarga dan generasi mudanya agar terbentuk ketaqwaan individu yang kaffah.

Kedua, Memahamkan kepada generasi muda bahwa sosial media digunakan untuk mengedukasi ummat bukan untuk maksiat.

Ketiga, Memahamkan generasi muda bahwa tujuan hidup mereka untuk beribadah kepada Allah, bukan hanya untuk mencari kesenangan dunia.

Keempat, Memahamkan bahawa segala perbuatan ada pertanggungjawaban.

Kelima, orangtua, masyarakat dan negara harus mengontrol penggunaan sosial media di kehidupan
generasi muda.

Selanjutnya, negara harus memberi aturan tegas bagaimana penggunaan media digital yang baik dan benar menurut syariat Islam. Tidak menyebarkan berita bohong, juga menjadikan media sosial sebagai alat untuk dakwah. Jika ada yang melanggar, maka negara memberikan sanksi yang tegas.

Begitulah istimewanya Islam, seluruh aspek kehidupan ada aturan. Kemajuan digital akan menjadi baik apabila diproduksi oleh ideologi yang baik yaitu Islam. Jadikan media digital untuk meningkatkan ketakwaan bukan malah terjebak dalam jurang kemaksiatan.[MO/dr]

Posting Komentar