Oleh : Wiwit Irma Dewi, S. Sos. I

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِى ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِى عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ

" Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari [akibat] perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." [Ar Rum ayat 41]

Mediaoposisi.com-Tidakkah kita mampu merenungi arti ayat di atas? Ketika duka yang melanda tak mampu menyadarkan atas apa yang kita (manusia) perbuat.

Begitu memprihatinkan negeri ini. Musibah demi musibah datang silih berganti. Ibarat nafas, setiap helaan dan hembusan, berganti tiada henti.

Seolah-olah dengan rangkaian bencana ini Allah tengah menguji hamba-hamba Nya, menyeru manusia untuk selalu menyebut asma-Nya. Untuk kembali bersujud dan bersimpuh kepada-Nya.
Bencana demi bencana Allah timpakan, lantaran apa? Sudahkah kita bermuhasabah?

Tsunami, gempa, gunung meletus, puting beliung, banjir bandang, bahkan likuifasi datang. Memporak-porandakan rumah, menenggelamkan harta benda, mencerai beraikan keluarga, hingga menghilangkan nyawa. Namun masih saja kita enggan mengambil ibroh nya.

Kemarin saya baca berita di media massa, anak bunuh orangtua kandungnya, suami bunuh istrinya, siswi SMP hamil di luar nikah berjama'ah, LGBT semakin mewabah, narkoba merajalela, miras dan zina dimana-mana. Sungguh ini bencana.

Saya tonton televisi, berita korupsi lagi dan lagi. Siang malam hingga pagi begitu banyak tragedi, dari kalangan bawah hingga politisi. Dari si kaya sampai si miskin. Mengetahui berita seperti ini, jika tak kuat hati bisa membuat depresi, masalah psikologi. Ini pun bencana.

Bencana terbesar adalah ketika hukum Islam dicampakkan, maksiat di mana-mana, hingga membuat aqidah pun ikut rusak. Inilah pangkal bencana sesungguhnya.

Ya, bencana aqidah memang membuat resah. Munculnya nabi palsu, agama baru, dan orang-orang yang sengaja mengganggu.

Kafir penjajah sibuk dengan konspirasi, guna menyusupkan ide-ide sesat. Kapitalisme, Liberalisme, Feminisme, Gender, HAM, Demokrasi, dan Sekularisme yang notabene paham dari barat. Kemudian penista agama dan penista Al-Qur'an dilindungi bahkan dijadikan sahabat.

Orang-orang munafik berkoar kesana-kemari meneriakkan cinta mati, namun apa yang terjadi? Mereka tak ubah musang berbulu domba, tak segan merusak Islam dari dalam.

Membubarkan kajian, membubarkan ormas Islam, mempersekusi ulama, mengkriminalisasi simbol dan Syariat Islam, bahkan membakar ar royyah yang notabene bendera Rasulullah (berwarna hitam dengan kalimat Tauhid di atasnya).

Di lain sisi negara sebagai institusi yang diharapkan mampu melindungi masyarakat malah bertindak sebaliknya. Memeras dan merampas hak rakyat, bertindak semena-mena dengan segala kebijakannya, berlepas dari tanggung jawabnya sebagai pengurus umat.

Hukum-hukum yang mereka buat sering bertentangan, berseberangan bahkan tak jarang bertabrakan dengan Syariat Islam. Sungguh bencana yang luar biasa.

Tak bisa dibiarkan umat seperti ini berlama-lama. Karena kita adalah muslim, yang telah diberikan predikat sebagai Khoiru Ummah (umat yang terbaik) oleh Allah, maka saatnya kita sadar, akan apa yang terjadi di sekitar.

Sebelum bencana ini semakin membesar, mari lebih semangat untuk syiarkan Islam. Mari kita sandang kembali predikat umat terbaik, dengan cara menyeru kebaikan, mencegah kemungkaran dan terapkan Islam secara sempurna.[MO/gr]

Posting Komentar