Oleh: Endang Pamulatsih
(Aktivis Muslimah)

Mediaoposisi.com- Sudah delapan tahun berjalan, konflik di dalam negeri berhasil membuat Yaman bak kuburan massal. Jiwa-jiwa yang terenggut akibat perang terus bertambah dan kesengsaraan pun meliputi mereka yang masih hidup akibat kerusakan berbagai sarana dan prasarana. “Di sebuah rumah sakit yang saya kunjungi di Yaman Utara, bayi-bayi terlalu lemah untuk menangis karena tubuh mereka letih akibat kelaparan”, ujar Direktur Eksekutif Save the Children, Helle Thorning-Schmidt (Republika, 20/09/2018).

Konflik ini mengakibatkan bencana kelaparan dan gizi buruk di Yaman. Bisakah Anda bayangkan bagaimana kondisi bayi-bayi yang sangat kelaparan di sana, bahkan untuk menangis pun mereka tak sanggup? Allah memang telah mengaruniakan rezeki kepada setiap makhluk-Nya.

Namun, segala hal yang terjadi di Yaman seharusnya membuka mata kita bahwa ada bencana yang ditimbulkan oleh tangan-tangan manusia, sebuah kezaliman yang saat ini menimpa umat Islam. Bencana kelaparan ini diperparah dengan wabah kolera. Terhitung sejak April 2017, lebih dari 1,1 juta kasus dugaan kolera dan lebih dari 2.300 kematian menjadikan wabah kolera ini terbesar dalam sejarah Yaman.

Penderitaan rakyat Yaman terus berlanjut sejak Yaman menjadi bagian dari Arab Spring pada akhir tahun 2010. Rakyat Yaman menuntut penggantian pemimpin dan sistem pemerintahan mereka. Lengsernya Presiden Ali Abdullah Saleh ternyata tidak menghentikan gejolak di Yaman. Rezim yang berkuasa selanjutnya pun ternyata tidak mampu memenuhi tuntutan rakyatnya, tetapi malah balik menyerang rakyat secara membabi buta dengan dalih memerangi kelompok Syiah Houthi. Keadaan Yaman kian memburuk dengan adanya intervensi asing. Belakangan ini, Arab Saudi beserta negara-negara sekutu juga memerangi Yaman.

Kejahatan Kemanusiaan di Tengah Seruan Kebebasan Hak Manusia
Barat yang secara gencar menggaungkan kebebasan individual untuk memenuhi hak-hak kemanusiaan hanya diam ketika tindakan barbar pada zaman modern ini menimpa muslim Yaman. Serangan Arab Saudi dan sekutunya telah menewaskan lebih dari 14 ribu warga Yaman dan melukai puluhan ribu lainnya. Jutaan warga mengungsi dan sarana infrastruktur di sana porak-poranda. Perang yang terus berlangsung membuat bantuan makanan dan obat-obatan terhambat sehingga tidak bisa memasuki Yaman.

Mengapa dunia diam di tengah pelanggaran HAM yang notabene dijunjung tinggi? Inilah bukti hipokritnya Barat dengan slogan yang selama ini mereka gaungkan. Tidak ada pembelaan hak-hak sebagai manusia jika itu ditujukan terhadap Muslim. Ironisnya, OKI dan pemimpin-pemimpin negeri muslim pun hanya bisa terdiam dengan kejahatan kemanusiaan yang terus berlangsung di Yaman.

Kapitalisme: Pangkal Kezaliman di Yaman
Pascakeruntuhan khilafah, Yaman menjadi sebuah negeri muslim yang menerapkan kapitalisme. Kapitalisme ini adalah penyebab di balik segala kezaliman yang terjadi di Yaman dan setidaknya ada lima alasan sebagai berikut.

Pertama, penerapan kapitalisme dengan asas sekulerismenya membuat kebijakan yang diterapkan pemerintah rentan dengan kepentingan rezim yang berkuasa.

Arab Spring di Yaman merupakan salah satu upaya revolusi yang dipicu oleh rasa muak rakyat terhadap rezim yang korup. Meskipun akhirnya rezim Ali Abdullah Saleh berhasil ditumbangkan pada Februari 2012, pergantian rezim ternyata tidak membuat rakyat puas sebab sistem yang diterapkan tetaplah kapitalisme.

Kedua, Yaman merupakan bagian dari The Silk Road (Jalur Sutra), negeri yang Allah karuniai emas, mineral, minyak, dan gas bumi melimpah. Akan tetapi, kapitalisme membuat rakyat Yaman tidak dapat merasakan kekayaan negerinya sendiri.

Penerapan kapitalisme membuat perusahaan asing masuk dan mengeruk sumber daya alam mereka. Alhasil, rakyat Yaman tetap miskin dan hidup dalam penderitaan. Keadaan ini akhirnya menjadi pemicu bangkitnya revolusi di Yaman.

Ketiga, kapitalisme membuat sesama umat Islam lupa dengan ikatan akidah di antara mereka. Darah kaum muslimin menjadi halal hanya disebabkan oleh kepentingan semu yang bertujuan mengamankan kawasan. Inilah yang menjadi alasan Arab Saudi dan negara-negara sekutunya yang merupakan negeri muslim melancarkan agresi ke Yaman hingga menjadikannya korban  proxy war.

Arab Saudi dan sekutunya menjadi boneka pelaksana kepentingan Barat di kawasan Timur Tengah. Letak geografis Yaman yang cukup penting jika dinilai dari sisi geopolitik membuat Barat menggerakkan boneka-bonekanya untuk mengamankan kawasan Teluk Aden di selatan Yaman yang merupakan bagian dari checkpoint shipping in the world. Tempat tersebut adalah jalur tersibuk keempat di dunia karena dilintasi 3,3 juta barel minyak setiap harinya.

Keempat, kapitalisme melegalisasi perdagangan senjata sekalipun senjata tersebut digunakan untuk memerangi warga sipil. Inilah yang terjadi di Yaman. Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Spanyol, dan Italia tetap menjual senjatanya kepada Arab Saudi meski amnesti internasional telah memberikan peringatan bahwa penjualan senjata ke Arab Saudi akan berdampak sangat buruk terhadap warga sipil di Yaman. Negara-negara tersebut meraup keuntungan yang besar di atas genangan darah rakyat Yaman.

Kelima, penerapan kapitalisme di negeri-negeri muslim lainnya membuat mereka abai terhadap permasalahan muslimin di Yaman. Nasionalisme membuat mereka lupa bahwa ikatan akidah dengan muslimin di Yaman seharusnya membuat mereka berjuang membebaskan Yaman dari konflik kepentingan Barat.

Ironisnya, tiada satu pun pemimpin negeri muslim yang bertindak tegas menghentikan perang di Yaman. Jika seluruh negeri Muslim bersatu dan bertindak tegas, perang di Yaman tidak akan mustahil untuk dihentikan.

Kepemimpinan Islam: Solusi Konkret Konflik Yaman
Pada masa awal kedatangan Islam, penduduk Yaman menjadi bagian dari orang-orang yang berbondong-bondong memeluk agama Islam. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah dalam QS An-Nashr: 1-2 yang membicarakan penduduk Yaman.

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong”. (TQS An Nashr: 1-2)

Hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad di bawah ini menggambarkan keutamaan negeri Yaman. Allah memuliakannya setelah Mekah dan Madinah. Penduduknya adalah orang-orang yang lembut hatinya, santun tutur katanya, dan mudah menerima kebenaran.

Penduduk negeri Yaman telah datang kepada kalian. Mereka adalah orang yang paling lembut hatinya. Iman itu ada pada Yaman, fikih ada pada Yaman, dan hikmah ada pada Yaman.” (HR. Imam Ahmad)

Pada masa kekhilafahan Islam, Yaman menjadi salah satu simbol kegemilangan peradaban Islam. Namun, tidak demikian hari ini. Berkuasanya kapitalisme telah membuat Yaman penuh dengan penderitaan. PBB berulang kali gagal mengadakan perundingan untuk berdamai dalam menyelesaikan konflik Yaman.

Namun, rencana perundingan damai yang dilaksanakan pada September 2018 di Jenewa mengalami kegagalan. Kegagalan perundingan ini yang merupakan upaya untuk menghentikan konflik Yaman menjadi bukti bahwa kapitalisme tidak akan mampu menjadi solusi konflik di Yaman.

Jika pangkal dari penderitaan kaum Muslimin di Yaman adalah akibat penerapan kapitalisme, solusinya adalah menumbangkan kapitalisme. Lantas dengan sistem apa kita menggantinya? Sistem Islam yang diterapkan secara kaffah oleh sebuah negara merupakan jawaban atas konflik yang berkepanjangan ini.

Keinginan kuat revolusi di Yaman harus diarahkan agar tetap berada pada jalur perubahan yang benar. Perubahan yang mengikuti sunnah Rasulullah adalah perubahan yang mencakup seluruh dimensi kehidupan agar semata-mata mengacu kepada Alquran dan as-Sunnah.

Rasulullah saw. melakukan perubahan dengan membentuk kepemimpinan Islam yang diterapkan dalam kehidupan bernegara. Bermula di Madinah kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia, kepemimpinan Islam yang dibentuk oleh Rasulullah berhasil eksis hingga 1.300 tahun. Perubahan inilah yang berhasil membuat peradaban manusia yang awalnya berada dalam kegelapan berubah menjadi gemilang. Rasulullah saw. bersabda,

Dahulu para nabi yang mengurus Bani Israil. Bila wafat seorang nabi diutuslah nabi berikutnya, tetapi tidak ada lagi nabi setelahku. Akan ada para Khalifah dan jumlahnya akan banyak. Para Sahabat bertanya,’Apa yang engkau perintahkan kepada kami? Nabi menjawab,’Penuhilah baiat yang pertama dan yang pertama itu saja. Penuhilah hak-hak mereka. Allah akan meminta pertanggungjawaban terhadap apa yang menjadi kewajiban mereka.” [HR. Muslim].

Kepemimpinan Islam dalam konteks konflik Yaman akan menyelesaikan masalah pada dua ranah. Pertama, pada ranah domestik dalam negeri, penerapan Islam dalam sistem khilafah di setiap sistem kehidupan akan mampu meredam konflik dalam negeri yang bersumber dari ketidakpuasan rakyat terhadap kepengurusan yang dilakukan oleh pemerintah. Hal ini disebabkan khilafah akan menjadikan Alquran dan as-Sunnah sebagai sumber hukum sehingga pasti akan mendatangkan kebaikan dan keadilan.

Kedua, pada ranah luar negeri, khilafah akan menjadi benteng umat dari setiap serangan dan intervensi asing. Khilafah tidak akan membiarkan negara asing mencampuri urusan dalam negeri. Hal ini disampaikan Rasulullah saw dalam hadis berikut.

Bahwasanya Imam itu bagaikan perisai, dari belakangnya umat berperang dan dengannya umat berlindung.” [HR. Muslim]

Yaman, Kami akan Membebaskanmu !
Konflik di Yaman sesungguhnya adalah pertarungan ideologi antara kapitalisme yang berupaya untuk tetap eksis dan kehendak rakyat untuk menerapkan ideologi Islam. Di satu sisi, sosialisme pun mencoba untuk menyemai benih di sana. Maka dari itu, sungguh naif apabila muncul apatisme di kalangan kaum muslimin terhadap konflik di Yaman.

Penderitaan saudara kita di Yaman tetap akan berlangsung selama solusi yang dijalankan bukan bersumber dari Islam. Oleh karena itu, perjuangan penerapan kepemimpinan Islam oleh khilafah harus menjadi agenda global kaum muslimin di seluruh belahan dunia.

Hanya dengan ikut serta dalam perjuangan ini, kita bisa lapang saat Allah meminta pertanggungjawaban kita kelak di yaumulhisab.Wahai saudara kami di Yaman, kami akan membebaskanmu!

Kami akan mengembalikan kemuliaanmu ![MO/sr]

Posting Komentar