Oleh : Nasrudin Joha
[Sumpah Sipahit Lidah Sosmed, Serunting Sakti Nasrudin Joha]

Mediaoposisi.com-DPR diam, ketika persekusi marak dialami habaib. Dialami ulama. Dialami para ustadz. Dialami para mahasiswa. DPR tidak mengunggah satupun redaksi protes, atau setidaknya sempat menitipkan 'salam keprihatinan'.

Gedung parlemen tetap tenang, tidak ada 'rasa senasib sepenanggungan' atas derita yang dialami rakyatnya. DPR tidur, ketika negara menumpuk hutang ribuan triliun, bahkan hutang riba pada rentenir dan lintah darat dunia, hanya untuk dalih menangani bencana.

DPR tidak bergeliat, atau minimal terjaga untuk menengok dan memastikan keadaan rakyat yang dirundung musibah dan bencana, kecuali melakukan kunjungan seremonial belaka.

DPR membisu, ketika dolar mengamuk dan BBM naik lagi. Rakyat dibiarkan sendirian menanggung beban, sendirian berada dalam ancaman, sendirian bertarung nyawa hanya untuk merealisir visi 'menyambung hidup' demi alasan agar besok pagi dapat kembali melihat mentari.

DPR absen, pada soal-soal yang menyentuh hajat dan kepentingan rakyat. Bahkan menjelang Pilpres, aleg yang harusnya menjadi wakil rakyat justru sibuk menjadi wakil Jokowi.

Diskusi kesana kemari agar pilih Jokowi lagi. Lantas DPR itu dipilih rakyat atau dipilih Jokowi ? DPR itu wakil rakyat atau wakil Jokowi ?

DPR nyaris tidak pernah bersuara lantang, kecuali sekedar dan ala kadarnya. Semua beban hidup rakyat ditanggung sendiri. Tidak ada protes, tidak ada interupsi, apalagi hak angket atau interpelasi yang dilakukan DPR untuk membela rakyat.

Bahkan, dalam berbagai sidang penting DPR malah memamerkan ruang kosong paripurna, atau sidang yang dipenuhi suara bising dengkuran anggota dewan.

DPR baru bangun, bergegas, terbelalak matanya jika jiwanya terancam. DPR segera usul, gedung DPR dilapisi kaca anti peluru. DPR segera berwacana bangun gedung baru agar lebih nyaman. DPR ngamuk, jika anggaran DPR dipangkas, atau ada wacana pengetatan anggaran DPR.

DPR langsung naik pitam, jika ada kritik rakyat pada wakilnya. Bahkan, DPR langsung membuat UU jubah Fir'aun, agar DPR dapat berlindung dari kritik, dan mempidanakan rakyat yang mengkritik DPR. Sayangnya, jubah Fir'aun DPR dalam UU MD3 telah dilucuti oleh MK.

Karena itu, sejak saat ini wahai DPR, jadilah batu selamanya ! Kalian haram berbicara untuk dan atas nama rakyat. Kalian dikutuk dan tidak boleh bicara tentang rakyat.

Kalian tidak boleh lagi, mengais kepentingan pribadi dengan berdalih untuk dan demi rakyat. Kalian tidak boleh berkata, meskipun satu huruf yang mengatasnamakan rakyat. Kami rakyat menanti kabar baik, berupa tewasnya kezaliman dan keangkuhan DPR, yang telah berulang kali menipu rakyat.

WAHAI DPR, JADILAH BATU SELAMANYA ! [MO/gr].

Posting Komentar