Oleh: Al Azizy Revolusi

Mediaoposisi.com- Ketika kita mencoba melakukan survei tentang istilah yang paling populer dikalangan pergerakan/aktivis saat ini, maka kata Demokrasi akan berada pada peringkat teratas. Sebagai sebuah ide, demokrasi telah terlanjur menjadi maskot yang disakralkan; sebagai sebuah wacana, demokrasi sejak kelahirannya telah dianggap sebagai berkah bagi kehidupan; begitu pula sebagai sebuah sistem, demokrasi telah mendorong manusia untuk berusaha mewujudkannya.

Tetapi apakah benar bahwa ide ini akan menjadi solusi atas persoalan bangsa saat ini sehingga harus diperjuangkan? Apakah benar bahwa demokrasi memberikan kebaikan untuk manusia atau malah sebaliknya?

Demokrasi adalah suatu ide yang memiliki latar belakang historis yang unik, yakni di Eropa pada abad 1350 M-1600 M, Pada saat itu terjadi pergolakan yang melibatkan para penguasa di Eropa yang mengklaim bahwa penguasa adalah wakil Tuhan di muka bumi dan berhak memerintah rakyat berdasarkan kekuasaannya, sehingga terjadi kesewenang-wenangan dan kezaliman terhadap rakyat.

Dalam hal ini pendeta-pendeta menjadi corong penguasa sekaligus menjadi alat legitimasi setiap kebijakan yang dikeluarkannya. Untuk menutupi kesalahannya, penguasa juga telah menutup gerak para ilmuwan yang berusaha menyuarakan pertentangannya dengan pendapat penguasa dan kaum gerejawan.

Akhirnya muncul kekuatan dari poros lain yang dimotori oleh para filosof dan ilmuwan yang berusaha untuk merubah keadaan. Mereka mulai membahas tentang perlunya pemerintahan yang dikendalikan oleh rakyat.

Namun karena seimbangnya kekuatan kedua kubu sehingga yang lahir adalah kompromistik yang juga melatarbelakangi kelahiran faham sekularisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan. Agama hanya ditempatkan sebagai bentuk ritual manusia dengan Tuhan sedang untuk kehidupan diatur sepenuhnya oleh manusia.

Otomatis karena kekosongan aturan ditengah manusia maka lahirlah ide Demokrasi ini, jadi sudah jelas dari sejarah kelahirannya demokrasi bertentangan dengan Islam.
.
Dalam negara demokrasi, rakyatlah yang berdaulat, Rakyat dapat mengubah sistem ekonomi, politik, budaya, sosial, dan apapun yang sesuai dengan kehendaknya. Jangan pernah berharap dalam demokrasi akan dikenal pertimbangan halal dan haram, yang ada adalah apakah itu mendatangkan manfaat atau tidak.

Walhasil, dalam demokrasi, rakyat yang dijadikan sebagai 'Tuhan”. Karenanya esensi dari demokrasi yang diakui sendiri oleh penganutnya yakni suara rakyat adalah suara Tuhan (Vox Populi, Vox Dei).

 Dalam sistem demokrasi, kebenaran adalah yang didukung oleh suara terbanyak, baik secara mufakat atau voting. Misalnya, lokalisasi pelacuran itu  haram dan terlarang. Namun dalam demokrasi hal itu bisa jadi halal karena mayoritas mereka yang duduk ”disana” mengatakan boleh.

Dari sini, maka berkembanglah teori Machiavelli yang menghalalkan segala cara untuk meng-Goal-kan setiap aturan yang diinginkan. Menggunakan politik uang, politik belah bambu, manipulasi suara, bahkan sampai tindakan intimidasi adalah fenomena yang wajar dalam demokrasi.

Sementara dalam ajaran Islam, sang pembuat hukum itu  Allah. Jadi Kedaulatan seharusnya berada di tangan Allah. Akan tetapi lewat mulut orang Islam sendiri yang telah teracuni pemikirannya mengatakan bahwa Islam tidak berseberangan dengan demokrasi karena katanya dalam Islam pun mengakui demokrasi dengan adanya musyawarah.

Sungguh sangat disayangkan ketika ada umat Islam yang menerima pendapat ini. Musyawarah memang dikenal dalam Islam, begitu pula kejujuran, keadilan, kasih sayang, toleransi, juga ada dalam Islam. Tetapi tentu itu bukan alasan kita mengatakan Islam itu sama dengan demokrasi, atau Islam itu sama dengan agama lain dan ajaran-ajaran yang menawarkan konsep humanis serta moralitas. Sebagaimana kita tidak mau dikatakan sama dengan monyet hanya dikarenakan kita sama-sama punya mata, hidung, telinga, dan  suka makan pisang!

Ketahuilah, sesungguhnya menjadikan demokrasi sebagai cita-cita dan standar perjuangan adalah kekeliruan besar dan akan selamanya menjadi faktor kegagalan demi kegagalan yang kita dapatkan.  Islam tidak bisa dikompromikan dengan ide-ide yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam (baca: Demokrasi). Islam adalah ideologi kita yang mampu memberikan solusi pada semua permasalahan umat manusia. Memperjuangkan demokrasi adalah hal yang sia-sia (utopis) dan dimurkai Allah. Memperjuangkan Islam mendapat ridha dari Allah.[MO/sr]





Posting Komentar