Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Sampai hari ini, kalian masih terus berputar-putar pada dalih bendera HTI. Padahal, MUI, polisi, para ulama, Ormas Islam, Kemendagri, menyebut itu bendera tauhid, bukan bendera HTI.

Bendera tauhid adalah bendera bertuliskan Lafadz tauhid, Lafadz mulia yang disucikan umat Islam, dan kalian ? Kalian telah membakarnya.

Kalian, masih saja enggan meminta maaf. Begitu beratkah mengucap maaf ? Padahal jelas, kalian yang membakar, ditempat umum, dengan penuh kebanggaan, bahkan dengan ikhtiar mencari kertas agar bendera tauhid dapat terbakar -setelah sebelumnya- nyaris padam dan gagal terbakar.

Kalian, bersorak sorai, mengumumkan kemenangan. Kalian, mengumumkan kesombongan secara telanjang -setelah berhasil membakar bendera tauhid- dan mencampakkannya secara hina.

Seluruh mulut sudah bicara, segala kecaman telah diunggah, dari ulama hingga jawara, dari pemuda hingga mereka yang sudah tua renta, semua tidak ridlo ! Semua marah ! Semua tidak terima dengan perlakuan kalian.

Tapi sayang, ditengah kemarahan itu umat berharap air penyejuk, umat berharap kalian masih bisa menginsysfi kesalahan dan mengunggah permohonan maaf.

Nyatanya tidak ! Kalian tetap congkak ! Tetap keras kepala ! Tetap ngeyel bendera yang dibakar bukan bendera tauhid. Kalian hanya meminta maaf atas kegaduhan, bukan meminta maaf karena telah membakar bendera tauhid. Sikap kalian sama persis dan sebangun dengan kelakuan si Ahok.

Saat Ahok menista agama, menghina surat Al Maidah, Ahok sombong dan congkak. Ahok tidak pernah meminta maaf, tidak mau dipersalahkan meskipun terbukti salah.

Ketika terdesak, Ahok menyatakan permintaan maaf, bukan terhadap Penodaan Al Quran tetapi karena telah membuat gaduh !

Hai Banser ! Kalian sama persis dengan Ahok, kelakuan kalian tidak tertolong. Jika nasehat tidak lagi diterima, baiklah. Kami akan membuat perhitungan, atas penghinaan lafadz tauhid, baik secara terbuka maupun melalui doa-doa.

Hai penguasa zalim, jangan ulangi kesalahan kalian. Kalian telah fatal membela Ahok, jangan diulangi untuk kasus bendera tauhid. Segera, tangkap dan proses pelaku pembakar bendera tauhid, dan adili ormas Banser yang terbuka mendukung perilaku anggotanya.

Hai penguasa, terapkan UU Ormas terbaru, yang telah kalian ubah dengan Perppu untuk membubarkan Banser. Jangan kalian bertindak zalim, jika tidak ingin dihinakan oleh Allah SWT. Janganlah hukum hanya tajam kepada lawan politik, tetapi tumpul pada kroni dan konco politik.

Jika kalian mendiamkan penista bendera tauhid, tidak menindak tegas pembakar bendera tauhid, kami umat Islam sangat rindu datang ke Jakarta untuk mengguncang Arsy kekuasaan kalian.

Kami sangat rindu bertemu saudara kami, dan mengunggah permohonan pada Tuhan kami. Kami sangat ingin, menghimpun tujuh juta umat Islam, bahkan lebih banyak dari itu, untuk membuktikan betapa kami marah terhadap pembakaran bendera tauhid.

Pilihan itu kami kembalikan kepada kalian, bertindak adil dan menghukum pembakar bendera tauhid atau kami yang akan menghukum semuanya. Kami yang akan ambil tindakan, berdasarkan apa yang kami pahami dari akidah dan keyakinan Islam agama kami.

Hai Banser, kepala batu kalian, kecongkakan kalian akan kami hancurkan dengan persatuan. Kami tunjukkan, betapa kami tidak ridlo dengan kelakuan kalian.

Kami, tidak akan melakukan apapun -kecuali kami akan datang ke Jakarta- dan mengunggah doa bersama, agar laknat Allah SWT berlaku atas pembakar bendera tauhid. [MO/gr].

Posting Komentar