Oleh : Sitti Komariah,S. Pd. I 
(Komunitas Peduli Umat)

Mediaoposisi.com- Baru-baru ini warganet dihebohkan dengan viralnya vidio ulama ternama Kiai H. Ma’ruf Amin yang menjadi bakal calon wakil presiden di tahun 2019, beliu sedang berkumpul  bersama  dengan para pendukungnya di Tugu Proklamasi, Jakarta sebelum berangkat ke Kantor Komisi Pemilihan Umum. Ya, bagaimana tidak warganet heboh karena disana ada hal yang sangat mengejutkan dan tidak pernah dibayangkan oleh masyarakat Indonesia khususnya kaum muslimin.

Momen menarik tersebut adalah dimana Kiai H. Ma’ruf Amin tampak asyik digoyang oleh penyanyi dangdung di atas pangung (rmol.co, 22/9/2018).

Warganet menyayangkan  Kiai Ma’ruf Amin yang ikut bertepuk tangan melihat goyangan pedangdut bernama sabrina.

Presidium  Persatuan Pergerakan, Andrianto menilai, sikap warganet itu merupakan resiko yang harus ditangung oleh seorang kiai yang masuk ke pusaran politik praktis. Namun, kata dia, seharusnya koalisi partai pendukung paham akan posisi Kiai Ma’ruf Amin sebagai pemuka agama.

Inilah fakta dari rusaknya sistem kapitalis demokrasi yang telah mencampuradukkan hak dan batil dan menghalalkan segara cara untuk meraih kursi kekuasaan tanpa memperhatikan dan mempertimbangkan marwah seorang ulama atau pemuka agama.

Sistem kapitalis demokrasi adalah sistem kufur karena sistem ini berasas pada hawa napsu dan akal manusia yang lemah, terbatas dan serba kurang. Dalam sistem ini juga negara dipisahkan dari kehidupan manusia, dan begutupun dengan politik dipisahkan dari Islam. Padahal Islam bukan hanya sebagai agama spritual saja, melainkan sebagai pengatur dalam kehidupan, baik itu sistem ekonomi, sosial, termaksud politik dan kekuasaan.

Sehingga apabila seorang ulama yang masuk dalam sistem kekuasaan ini maka yakinlah dia akan terjerumus kedalam kekufuran sistem ini, bahkan dia juga hanya sebagai alat legitimasi kepentigan para panguasa untuk melegalkan kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan rakyat bahkan melanggar syariah Allah SWT.

Padahal ulama merupakan sosok manusia yang mulia, sebagai panutan bagi manusia yang lainnya untuk melangkahkan kaki mereka kejalan yang benar dan untuk mengetahui hakekat hidup sebenarnya. Bahkan  Islam menempatkan ulama sebagai sosok pewaris para Nabi yang mewarisi ilmu (pengetahuan) tentang hakikat hidup, baik hidup di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: 

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sungguh para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewarisi ilmu. Barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. at-Tirmidzi. Ahmad, ad-Darimi dan Abu Dawud).

Ulama juga harus menjadi gandan terdepan untuk menjaga umat dari kemungkaran termaksud menolak dengan keras kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh penguasa dikala kebijakan tersebut bertentangan dengan syariah Allah. Ulama harus senang tiasa mengawal kekuasaan, selalu mengingatkan para penguasa dari kelalaian atas tangung jawabnya untuk meriayah umatnya.

Sebagaimana yang telah dicontohkon para ulama terdahulu yang terekam oleh sejarah. Yaitu Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib ra. Yang dikabarkan oleh Rasulullah SAW, sebagai syahid di medan laga melawan kebatilan penguasa.  Sejarah mencatat Imam Husain enggan berbaiat kepada Yazid. Bahkan ketika diberi  masukan oleh saudaranya, Ibn al-Hanafiyah, beliau berkata,

Andai di dunia ini tidak ada lagi tempat bernaungpun aku tidak akan berbaiat kepada Yazid bin Muawiyah.

Ketika beliau diancam mati, beliau balik berkata, “Sungguh mati dalam kemuliaan jauh lebih baik daripada hidup dalam kehinaan. Aku lebih suka mati daripada hina.”

Ketika pertempuran dengan Yazid dimulai, beliau berkata, “Aku menyerahkan nyawaku dengan sukarela sebagai bentuk kesetianku kepada agama kakekku, Muhammad SAW.

Dari kalangan tabi’in ada Ibn al-Asy’ats. Ia memimpin perlawanan para fuqaha. Perlawanan ini akhirnya memakan korban para tabi’in dan fuqaha pilihan. Kemudian diakhiri dengan terbunuhnya Said bin Jubair oleh Hajjaj bin Yusuf.  Dan masih banyak ulama-ulama terdahulu yang berada pada garis terdepan untuk menolak kebijakan-kebijakan penguasa dzalim.

Dan itulah yang harus dilakukan oleh para ulama saat ini, mereka harus menjadi gardan terdepan dalam melawan kedzaliman yang terjadi di negara kita. Negara yang tercengkram sistem kapitalis yang merusak seluruh aspek kehidupan. Baik dalam masyarakat maupun negara.

Ulama harus menyadarkan umat tentang politik Islam dan bersama-sama memperjuangkan Islam agar segera diterapkan dalam seluruh sendi-sendi kehidupan. Bukan malah menjadi alat legitimasi kepentingan penguasa dzalim untuk memecah belah umat.[MO/sr]


Posting Komentar