Oleh: Iis Setiawati SE

Mediaoposisi.com- Kedudukan ulama di negeri ini memiliki tempat yang istimewa. Hal ini 
terjadi karena masyarakat negeri ini memang mayoritasnya muslim. Bagi  muslim ulama merupakan panutan. Mereka adalah penyampai ilmu agama yang  merupakan pewaris nabi sebagaimana  diungkapkan dalam beberapa hadist yang  mengatakan bahwa ulama pewaris nabi.  Mereka memiliki tugas untuk  menyadarkan umat dan membimbing umat agar tidak terpelosok dalam kubangan maksiat dan tetap berpegang dengan aturan Allah.

Namun sayang ulama saat ini  tidak lagi seperti ulama dahulu. Saat ini  banyak ulama digunakan sebagai alat untuk  memuluskan keinginan keinginan  penguasa atau kelompok tertentu.  Akibatnya merekapun tidak merasa sebagai  milik umat. Hal ini bisa dilihat ketika menjelang pesta demokrasi untuk  pemilihan presiden  periode 2019-2024.

Beberapa bulan kebelakang bursa  untuk mengisi kursi wakil presiden sempat menjadi polemik dimana beberapa  ulama menjadi kandidat untuk menjadi wakil presiden. Sampai pada akhirnya  terpilihKH. Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden yang akan mendampingi jokowi.  Tidak hanya sampai disitu kini berbagai upaya ditempuh oleh masin- masing  kubu untuk meraih suarapara ulama pun. Pesantren disambangi, kyai diundang dan digandeng.

Beberapa ulama yang tergabung dalam sebuah forum  memutuskan untuk  memberikan dukungan dan suara untuk salah satu pasangan.Keberpihakan ini dimanfaatkan untuk meraih suara umat pengikut ulama.

Hal ini sebagai bukti bahwa ulama saat ini tidak lagi berperan sebagai  sosok yang netral yang dapat mencerdaskan umat. Dengan melihat perpecahan  ditubuh para ulama sudah terbukti demokrasi berhasil membutakan makna dari  ulama yang murni. Keputusan dan perkataan ulama harusnya membawa umat  menuju jalan yang diridhoi Allah, menyadarkan umat dari kekeliruan dan  pesona dunia adalah kewajiban mereka, namun kenyataannya mereka malah terbuai dengan janji-janji sistem demokrasi.

Lantas apa yang harus dilakukan kita sebagi umat untuk menyadarkan ulama?

Kita memang bukan ulama yang dibekali ilmu agama yang banyak untuk membingbing umat kejalan yang diridhoi Allah namun kewajiban amar ma'rup nahi munkar tetap kewajiban setiap muslim hal ini tersirat dibeberapa ayat al-qur'an salah satunya dalam surat Ali imran ayat 110 yang artinya

"kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah " maka dari itu kita memiliki kewajiban untuk menyadarka ulama yang kita cintai bahwa Allah memerintahkan Kita untuk berhukum hanya dengan hukum buatan-Nya.

Tugas ulama sangatlah berat namun hal ini tidak boleh membuat mereka akhirnya memilih untuk mengambil jalan pintas dengan mengikuti serta mendukung sistem yang jelas rusak.

Perqn ulama dalam politik untuk mencerdaskan umat, karena letak kerusakan yang mendasar ada di sistemnya dan jetika sistemnya benar yakni sesuai dgn arahan sang kholiq maka siapapun bisa menjadi pemimpin ketika dia mampu menjalankan perintah-Nya  dan memenuhi syarat-syarat seorang pemimpin berdasarkan syara dan itu semua tidak terlepas dari peran ulama yang sesungguhnya yakni mencerdaskan umat dengan bekak ilmu yang telah diwariskan Rosulullah SAW.[MO/sr]


Posting Komentar