Oleh : Heni Kusmawati, S.Pd

mediaoposisi.com-Tak habis pikir terhadap perlakuan penguasa kepada rakyatnya di negeri tercinta ini. Tentu kita masih ingat dengan musibah gempa yang menimpa saudara kita di Lombok beberapa bulan yang lalu, saat itu penguasa disibukkan dengan perayaan Asian Games. Akhir bulan September lalu tepatnya tanggal 28/9/2018 di Palu, Sigi dan Donggala kembali diterpa bencana gempa, tsunami serta lumpur yang menenggelamkan perkampungan warga. Namun apa yang dilakukan mereka,  penguasa justru sibuk menyiapkan pelaksanaan Annual Meeting World Bank IMF yang akan  berlangsung pada tanggal 12-14 Oktober 2018 di Bali.

Tidak tanggung-tanggung biaya yang dikucurkan untuk pelaksanaan agenda tersebut.  Sementara warga yang terkena bencana tsunami mengalami kelaparan bahkan ada yang meninggal karena tidak adanya makanan untuk dikonsumsi.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan kalau pertemuan yang akan digelar di Nusa Dua Bali ini merupakan acara terbesar sepanjang pertemuan IMF-World Bank dilaksanakan sejak tahun 1946 silam. Jadi, otomatis membutuhkan dana yang sangat besar. Menurutnya dana yang sudah digunakan untuk saat ini sudah 866 miliar (liputan6.com, 24/9/2018).

Agenda pertemuan Annual Meeteng IMF world Bank juga adalah salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi Bali dari tiga sisi yakni, konsumsi, investasi, dan ekspor-impor. Dari segi konsumsi misalnya, delegasi bisa berbelanja sepuasnya.

Sementara dari sisi investasi, ada banyak penanaman modal di bidang infrastruktur sebagai bagian dari penyelenggaraan pertemuan bergengsi tersebut. Investasi itu di antaranya Underpass Ngurah Rai, perluasan Bandara I Gusti Ngurah Rai, perbaikan TPA Suwung dan beberapa proyek lainnya. Sementara dari sisi ekspor-impor, turis asing akan semakin banyak datang ke Bali (Liputan6.com, 22/92018).

Timbul pertanyaan, benarkah dengan adanya pertemuan annual meeteng IMF world Bank bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi Bali?

Sungguh naif jika pemerintah mengatakan bahwa agenda pertemuan annual meeteng IMF world Bank bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi Bali, karena sejarah mencatat apa yang menimpa negeri kita di pertengahan tahun 1997 silam, dimana Indonesia mengalami krisis yang parah dan puluhan juta orang terdepak ke bawah garis kemiskinan.

Namun IMF dan Bank Dunia memaksa pemerintah Indonesia untuk memangkas pengeluaran pemerintah untuk sektor sosial (subsidi), melakukan deregulasi ekonomi dan menjalankan privatisasi perusahaan milik negara.

Di negeri lain seperti Tanzania pada tahun 1985 didatangi IMF nyaris bangkrut, IMF justru mendesak pemerintah memangkas subsidi, menjual perusahaan-perusahaan negara, memprivatisasi layanan kesehatan dan pendidikan publik.

Alih-alih menyelamatkan krisis , justru sebaliknya IMF memperberat persoalan suatu negeri. Sesungguhnya masih banyak catatan sejarah yang membuktikan bahwa IMF secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi krisis beberapa negara di dunia. Karena IMF dan Bank dunia merupakan lembaga internasional yang digunakan negara imperialis  untuk meloloskan  kepentingannya.
Keberadaan  IMF dan World Bank sejatinya hanyalah penjajahan negara-negara imperialis. Rancangan program serta bantuan yang diberikan adalah racun mematikan demi  mengintervensi negara negara berkembang agar tunduk pada aturan yang mereka mainkan, sekaligus mengambil keuntungan sebesar besarnya bagi negara pemberi bantuan.

Sesungguhnya bekerjasama dengan negara-negara imperialis adalah sebuah jalan kehancuran, Sama saja seperti memberi peluang kepada mereka untuk menguasai negeri ini. Bukankah saat ini kita bisa merasakan dan melihat banyak fakta bahwa negeri ini sedang dalam cengkeraman asing.
Tingginya harga kebutuhan pokok, pencabutan subsidi BBM, biaya kesehatan dan pendidikan yang tinggi dibebankan kepada rakyat , tingginya tingkat pengangguran adalah bentuk krisis di depan mata. Bekerja sama dengan penjajah asing yang berideologi kapitalisme adalah sebuah penghianatan terhadap rakyat.

Rasulullah SAW bersabda:

“Kelak pada hari kiamat , setiap pengkhianat akan diberi bendera yang ditarik ke atas sesuai kadar pengkhianatannya. Ketahuilah, tidak ada pengkhianat yang lebih besar daripada pemimpin yang mengkhianati rakyatnya." [HR Muslim dari Abu Said al-Khudri].

Semestinya penguasa mengambil pelajaran dari apa yang menimpa negeri ini. Padahal negeri-negeri muslim pada umumnya dan Indonesia khususnya telah diberikan kelebihan oleh Allah SWT berupa kekayaan sumber daya alam yang begitu besar, yang jika dikelola dengan baik dan benar oleh negara maka bisa menyejahterakan rakyatnya tanpa harus menjadi pengekor dari negara penjajah.[Mo/an]

Posting Komentar