Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Beredar kabar, tim kampanye Jokowi minta tidak angkat isu ekonomi. Wasekjen PAN berseloroh, kampanye bahas nama ikan saja. Apa soal sebenarnya, kenapa tim Jokowi ogah bahas ekonomi sebagai komoditi kampanye ?

Pertama, tim Jokowi paham benar bahwa ekonomi Indonesia saat ini sedang buruk. Rupiah melorot, utang menggunung, BUMN merugi, target pajak meleset jauh, kemiskinan makin parah, layanan kesehatan kacau sampai BPJS di subsidi asap rokok, dll.

Tentu kondisi ini tidak menguntungkan bagi Jokowi. Dalam aspek ini, jangankan untuk mengunggah janji kampanye, mencari dalih kenapa semua ini terjadi saja Tim Jokowi sudah kesulitan.

Misalkan saja, ketika rupiah melorot sampai di angka 15.000/dolar, tim Jokowi sibuk mencari apologi. Terhitung, beberapa negara telah ketiban sial sebagai penyebab melorotnya rupiah. Tercatat, Korea Utara, Turki, Yunani, dan terakhir Italia dituding menjadi biang kerok rontoknya nilai rupiah.

Kedua, Tim Jokowi paham betul semua kegagalan di bidang ekonomi ini terjadi dibawah kepemimpinan dan kendali Jokowi. Membahas isu ekonomi berarti membahas kegagalan Jokowi, ketidakmampuan Jokowi, ketidakcakapan Jokowi, bahkan pada level tertentu ini membuka aib dan menunjukkan betapa 'bodohnya' Jokowi.

Tentu diskusi seperti ini akan merontokkan elektabilitas Jokowi. Dongeng berbusa soal infrastruktur, tidak mampu mengkompensasi kegagalan ekonomi yang dialami bangsa ini. Jokowi, tak mampu menyumpal perut rakyat yang lapar, dengan pemandangan proyek infrastruktur yang sampai saat ini juga masih banyak yang mangkrak.

Ketiga, fakta kerusakan ekonomi dan kegagalan Jokowi ini membuat tim Jokowi tidak PD jualan janji kampanye ke Rakyat. Kalau dulu, Jokowi janji ini dan itu mampu menyihir pikiran rakyat. Lah sekarang ? Belum Jokowi selesai mengumbar janji, rakyat sudah mencibir 'ini tukang hoax mau bikin hoax apalagi'. Janji kampanye Pilpres yang lalu saja diingkari, ini bikin janji lagi. Nambah dosa saja, mendengar kampanye tim Jokowi.

Jadi karena tiga alasan itulah, Tim Jokowi ogah diskusi ekonomi saat kampanye. Mereka menghindari bulying, mereka menghindari didakwa rakyat, mereka menghindari sikap tertegun, diam, dan tak tahu harus bicara apa.

Makanya, Wasekjen PAN usulkan debat nama ikan saja. Mungkin ini yang dikuasai Jokowi, karena selama menjadi Presiden Jokowi mampu menghafal beberapa nama ikan. Tapi ingat, jika ditanya nama ikan jangan jawab kecebong. Konon menurut Jokowi, Kecebong bukan nama ikan, tetapi anak kodok.

Lalu, kampanye sediakan sepeda saja. Siapa yang mampu menyebutkan nama ikan, dikasih sepeda. Atau, ada bawa buntelan kehinaan saja, kampanye keliling seluruh Indonesia menggunakan mobil, kaca mobil dibuka, lalu buntelan kehinaan itu dilempar keseluruh rakyat.

Tetapi jangan lupa, di setiap buntelan itu wajib tertulis : Jokowi dua periode, sekali Jokowi tetap Jokowi, Biar sengsara asal bersama Jokowi, pejah gesang nderek Jokowi.

Ya saya kira, itu model kampanye yang menghargai dan memosisikan Jokowi sesuai maqamnya. Menurut ajaran agama, kita dilarang membebani seseorang diluar batas kemampuannya. Memaksa kampanye isu ekonomi ke Jokowi, itu tidak proporsional, zalim.

Karenanya mari berbesar hati, dengan memberi kesempatan Jokowi untuk berkampanye tentang nama ikan. Hanya, ahli ikan perlu membuat kesepakatan untuk menjawab pertanyaan : sebenarnya kecebong itu nama ikan atau bukan ? [].Beredar kabar, tim kampanye Jokowi minta tidak angkat isu ekonomi. Wasekjen PAN berseloroh, kampanye bahas nama ikan saja. Apa soal sebenarnya, kenapa tim Jokowi ogah bahas ekonomi sebagai komoditi kampanye ?

Pertama, tim Jokowi paham benar bahwa ekonomi Indonesia saat ini sedang buruk. Rupiah melorot, utang menggunung, BUMN merugi, target pajak meleset jauh, kemiskinan makin parah, layanan kesehatan kacau sampai BPJS di subsidi asap rokok, dll.

Tentu kondisi ini tidak menguntungkan bagi Jokowi. Dalam aspek ini, jangankan untuk mengunggah janji kampanye, mencari dalih kenapa semua ini terjadi saja Tim Jokowi sudah kesulitan.

Misalkan saja, ketika rupiah melorot sampai di angka 15.000/dolar, tim Jokowi sibuk mencari apologi. Terhitung, beberapa negara telah ketiban sial sebagai penyebab melorotnya rupiah. Tercatat, Korea Utara, Turki, Yunani, dan terakhir Italia dituding menjadi biang kerok rontoknya nilai rupiah.

Kedua, Tim Jokowi paham betul semua kegagalan di bidang ekonomi ini terjadi dibawah kepemimpinan dan kendali Jokowi. Membahas isu ekonomi berarti membahas kegagalan Jokowi, ketidakmampuan Jokowi, ketidakcakapan Jokowi, bahkan pada level tertentu ini membuka aib dan menunjukkan betapa 'bodohnya' Jokowi.

Tentu diskusi seperti ini akan merontokkan elektabilitas Jokowi. Dongeng berbusa soal infrastruktur, tidak mampu mengkompensasi kegagalan ekonomi yang dialami bangsa ini. Jokowi, tak mampu menyumpal perut rakyat yang lapar, dengan pemandangan proyek infrastruktur yang sampai saat ini juga masih banyak yang mangkrak.

Ketiga, fakta kerusakan ekonomi dan kegagalan Jokowi ini membuat tim Jokowi tidak PD jualan janji kampanye ke Rakyat. Kalau dulu, Jokowi janji ini dan itu mampu menyihir pikiran rakyat. Lah sekarang ? Belum Jokowi selesai mengumbar janji, rakyat sudah mencibir 'ini tukang hoax mau bikin hoax apalagi'. Janji kampanye Pilpres yang lalu saja diingkari, ini bikin janji lagi. Nambah dosa saja, mendengar kampanye tim Jokowi.

Jadi karena tiga alasan itulah, Tim Jokowi ogah diskusi ekonomi saat kampanye. Mereka menghindari bulying, mereka menghindari didakwa rakyat, mereka menghindari sikap tertegun, diam, dan tak tahu harus bicara apa.

Makanya, Wasekjen PAN usulkan debat nama ikan saja. Mungkin ini yang dikuasai Jokowi, karena selama menjadi Presiden Jokowi mampu menghafal beberapa nama ikan. Tapi ingat, jika ditanya nama ikan jangan jawab kecebong. Konon menurut Jokowi, Kecebong bukan nama ikan, tetapi anak kodok.

Lalu, kampanye sediakan sepeda saja. Siapa yang mampu menyebutkan nama ikan, dikasih sepeda. Atau, ada bawa buntelan kehinaan saja, kampanye keliling seluruh Indonesia menggunakan mobil, kaca mobil dibuka, lalu buntelan kehinaan itu dilempar keseluruh rakyat.

Tetapi jangan lupa, di setiap buntelan itu wajib tertulis : Jokowi dua periode, sekali Jokowi tetap Jokowi, Biar sengsara asal bersama Jokowi, pejah gesang nderek Jokowi.

Ya saya kira, itu model kampanye yang menghargai dan memosisikan Jokowi sesuai maqamnya. Menurut ajaran agama, kita dilarang membebani seseorang diluar batas kemampuannya. Memaksa kampanye isu ekonomi ke Jokowi, itu tidak proporsional, zalim.

Karenanya mari berbesar hati, dengan memberi kesempatan Jokowi untuk berkampanye tentang nama ikan. Hanya, ahli ikan perlu membuat kesepakatan untuk menjawab pertanyaan : sebenarnya kecebong itu nama ikan atau bukan ? [MO/an]

Posting Komentar