Oleh : Raden Ayu Ekalina 
Amd.Tex (anggota komunitas revowriter)

Mediaoposisi.com-Berawal dari pembakaran bendera warna hitam yang berlafadz tauhid oleh anggota Barisan Ansor Serba Guna (Banser) pada Senin (22/10/2018) , yang merupakan salah satu organisasi sayap Nahdlatul Ulama, menuai banyak kecaman publik.

Lewat tayangan Video berdurasi 02.05 menit itu, pembakaran bendera terjadi saat peringatan Hari Santri di Alun-alun Limbangan Garut. Alasan mereka membakar karena menurut mereka bendera tersebut milik salah satu organisasi terlarang di Indonesia, HTI.

Sementara juru bicara HTI Ismail Yusanto sudah menegaskan berkali-kali bahwa bendera yang dibakar di Garut bukanlah bendera HTI, ia mengatakan bahwa organisasinya tidak punya bendera.

Tak ayal lagi, berbagai aksi serentak digelar dibeberapa daerah. Hal ini di sebabkan karena ummat islam merasa terluka oleh peristiwa pembakaran tersebut. Bagaimana tidak, dalam selembar kain hitam yang dibakar itu terdapat lafadz tauhid, La illa ha illallah.

La illa ha illallah adalah kalimat tertinggi bagi seorang muslim. Kalimat yang menjadi pemisah antara islam dan kesyirikan. Selain itu  kalimat tauhid secara subtansi juga berisi pengakuan kita atas keesaaan Allah dan sebaik-baik dzikir.

APA ITU AR-RAYAH DAN AL-LIWA?

Sejatinya, yang namanya bendera merupakan sebuah simbol. Simbol biasa dipakai untuk meringkas makna. Oleh sebab itu setiap negara mempunyai bendera sebagai simbolnya, dengan warna yang berbeda-beda.

Bukan hanya negara,  berbagai kelompok, organisasi, komunitas, lembaga, dan perusahaan; biasanya memiliki simbol.

Ar-Rayah dan Al-Liwa adalah salah satu dari sekian banyak variasi bendera dan panji dalam Islam. Cirinya adalah warna dasar putih dan hitam. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits-hadits shahih:

"Rayyah nabi berwarna hitam dan Liwanya berwarna putih. (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, Thabrani)

Imam Ahmad dan Tirmidzi, melalui Ibnu Abbas meriwayatkan: “Rasulullah Saw telah menyerahkan kepada Ali sebuah panji berwarna putih, yang ukurannya sehasta kali sehasta. Pada liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang) terdapat tulisan ‘Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah’.

Pada liwa yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih.”

APA FUNGSI DAN KEGUNAANNYA?

Dahulu kala, seluruh ummat islam hidup dalam naungan daulah khilafah sehingga mereka tidak merasa asing dengan bendera dan panji Rasulullah ini, karena sudah biasa dilihat setiap hari.

Pun hanya satu-satunya bendera inilah yang mereka cintai dan perjuangkan, karena memang dengan kalimat syahadat itu mereka belajar Islam, mengamalkan hingga mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru dunia.

Al-liwa adalah bendera yang berada di tangan penguasa, sementara Ar-Rayah, adalah panji yang dimiliki oleh setiap pemimpin divisi pasukan, di mana seluruh pasukan pada saat itu disatukan di bawah panji tersebut. Liwa hanya berjumlah satu buah untuk keseluruhan pasukan.

Al-liwa juga  digunakan sebagai patokan pasukan ketika mereka merasa perlu untuk menyampaikan keperluan mereka ke hadapan penguasa (Imam). Liwa berwarna putih, bertujuan agar bisa dibedakan dengan panji-panji berwarna hitam yang ada di tangan para pemimpin divisi pasukan.

SEPENGGAL KISAH PERJUANGAN PARA SAHABAT.

Adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, ia seorang cerdas dan pendirian yang kuat. Beliau tak lain adalah paman Nabi dan saudara sepersusuannya. Dia memeluk Islam pada tahun kedua kenabian. Ia juga hijrah bersama Rasulullah SAW dan ikut dalam perang Badar.

Pada Perang Badar, Rasulullah menunjuk Hamzah sebagai salah seorang komandan perang. Ia dan Ali bin Abi Thalib menunjukkan keberanian dan keperkasaannya yang luar biasa dalam mempertahankan kemuliaan agama Islam dan berhasil memenangkan perang.

Tetapi pada perang Uhud, Hamzah gugur diujung tombak seorang budak bernama Washyi bin Harb atas perintah Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan bin Harb.

Beliaupun mati syahid karena mempertahankan bendera dan panji Rasulullah. Sejak itu Rasul menjulukinya dengan "Asadullah" (Singa Allah) dan menyebutnya "Sayidus Syuhada" (Penghulu atau Pemimpin Para Syuhada)

Demikian pula dengan Mush'ab bin Umair ra, pemuda yang lahir dari keluarga kaya raya namun lebih memilih hidup sederhana demi memperjuangkan kejayaan islam. 

Pada perang uhud ia rela kehilangan kedua tangannya karena ditebas oleh Ibnu Qumaiah dan musuh-musuhnya saat mempertahankan bendera tauhid,

kemudian dengan segala daya dan upaya terakhirnya beliau memeluk bendera tauhid itu dengan kedua lengannya hingga dadanya menghembuskan nafas terakhir.

Tak luput pula dari catatan sejarah, kisah nama-nama  sahabat Rasul lainnya, seperti  Zaid bin Haritsah, ja'far bin abi thalib, dan Abdullah bin Rawahah, mereka mati syahid karena mempertahankan bendera dan panji-panji Rasulullah.

BANGGA DENGAN ISLAM

Dari penjabaran diatas, jelaslah bahwa Ar-Rayah dan Al-Liwa merupakan simbol resmi yang mewakili ummat islam dibelahan bumi manapun. Sedangkan lafadz tauhid yang tertulis didalamnya adalah syahadat kita, pondasi akidah kita.

Kita selaku ummat islam berkewajiban mengedukasi ummat agar tidak terjebak dalam stigma negatif terkait Ar-Rayah dan Al-Liwa ini. Mari tebarkan kebaikan dengan membangun opini islam yang benar.

Laa illaaha illa Allah Muhammad Rasulullah..dengan lafadz ini kita hidup dan dengan lafadz ini pula kita mati. [MO/gr]











Posting Komentar