Oleh:Arini Nurhaqiqi Aminudin  
(Fakultas Farmasi Universitas Padjajaran)

Mediaoposisi.com- Perhelatan akbar politik secara nasional sudah di depan mata, tinggal menghitung bulan menuju pemilihan presiden dan wakil presiden pada bulan April 2019 mendatang. KPU bahkan telah menetapkan dua pasangan calon presiden dan wakil presiden yaitu pasangan petahana Jokowi-Ma’ruf dan pihak oposisi Prabowo-Sandiaga.

Pertandingan politik sudah mulai terlihat, silaturahmi gencar dilakukan oleh kedua belah pihak. Sudah menjadi rahasia umum bahwa silaturahmi dilakukan demi mendapat dan memastikan dukungan dari pihak yang didatangi. Menariknya, salah satu kalangan yang disambangi oleh para calon berasal dari kelompok ulama.

Pemilihan ulama sebagai objek politik merupakan strategi jitu. Umat saat ini berpikir bahwa ulama adalah pemimpin yang harus diikuti karena kapasitas keilmuan agama yang mereka miliki. Hal ini terlihat dari kalahnnya Ahok pada pemilihan Gubernur DKI Jakarta lalu oleh pasangan Anies-Sandi yang secara tidak langsung didukung oleh para ulama.

Namun sangat disayangkan bahwa disini terjadi politisasi peran ulama demi mendulang suara dalam pilpres mendatang. Hal ini terlihat dalam beberapa rangkaian kejadian yang terjadi belakangan ini diantaranya dilakukannya deklarasi ijtima ulama II GNPF Ulama yang mendukung pasangan Prabowo-Sandi serta deklarasi 400 kiai dan pengurus Pondok Asshiddiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat pada Sabtu, 15 September lalu.

Peran ulama sejatinya adalah cendekiawan di bidang agama yang menuntun umat untuk cerdas berpolitik sesuai dengan tuntunan agama. Ulama tidak seharusnya menjadi alat politik apalagi bila tujuannya demi mendapatkan kekuasaan. Jangan sampai para ulama menggadaikan aqidah mereka demi mendapatkan uang dan kekuasaan yang semu.

Semoga para ulama tetap menjadi ‘alim dalam bidang agama, tidak tergiur dengan kenikmatan dunia yang sifatnya hanya sesaat. Umat membutuhkan ulama untuk mencerdaskan, bukan sebagai alat politik demi keuntungan pihak tertentu. Politik Islamlah yang seharusnya dipegang teguh oleh para ulama, memilih Islam sebagai satu-satunya sumber aturan yang diterapkan dan pemimpin yang mau mewujudkan hal tersebut.

Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah adalah ulama” (Qs. Fathir: 28)

Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Seorang ulama menjalankan peran sebagaimana para nabi, yakni memberikan petunjuk kepada umat dengan aturan Islam, seperti mengeluarkan fatwa, laksana bintang-bintang di langit yang memberikan petunjuk dalam kegelapan bumi dan laut” (HR. Ahmad).

Ulama merupakan penjaga umat, sosoknya haruslah berpedoman kepada Al-Qur’an dan Assunnah, bukan sekadar figur yang melegalisasi kalangan politik tertentu. Apabila peran ulama benar telah bergeser sedemikian jauh, ulama bukan lagi sosok peri’ayah umat namun sebenarnya tengah menggiring menuju proses kehancuran umat demi hawa nafsu duniawi kalangan tertentu semata. Astaghfirullahal’adzhim.[MO/sr]

Posting Komentar