Oleh: Merli Ummu Khila 
(Pegiat Dakwah, Kontributor Media) 

Mediaoposisi.com- Aku tulis pamflet ini
Karena lembaga pendapat umum
Ditutupi jaring labah-labah.
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
Dan ungkapan diri ditekan
Menjadi peng-iya-an.

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
Maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam.
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan.
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Puisi keadilan berjudul Aku Tulis Pamflet Karya : W.S Rendra ini menggambarkan rasa keadilan yang hampir hilang dari negeri ini. ketika kedzaliman di pertontonkan penguasa, rakyat semakin tidak percaya akan lembaga hukum negeri ini.

Setelah ramai nya aksi pengecaman atas pembakaran bendera tauhid oleh ormas dan masyarakat berbagai daerah, masyarakat dikejutkan oleh keputusan  Polda Jawa Barat dan Polres Garut yang membebaskan dan menyatakan tidak bersalah kepada tiga orang pelaku.

Terhadap tiga orang anggota Banser yang membakar tidak dapat disangka melakukan perbuatan pidana karena salah satu unsur yaitu niat jahat tidak terpenuhi,” kata Karopenmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada Republika.co.id pada Kamis (25/10).

Dan yang lebih miris lagi, justru polisi menahan orang yang membawa bendera tersebut dengan alasan bahwa jika orang tersebut tidak membawa bendera tauhid tersebut maka aksi pembakaran tidak akan terjadi. Bagaimana mungkin tidak ada niat jahat dalam aksi pembakaran tersebut jika hal itu di perbuat dengan kesengajaan karena di dalam video jelas ada korek api yang di pegang dan di saksikan orang banyak di serta nyanyian mars banser.

Dari keputusan ini masyarakat bisa membaca bagaimana perlakuan penguasa atas ormas yang belakangan memang mendukung pemerintah ini. tentu saja hal ini membuat Banser di atas angin. seolah apa yang sudah mereka perbuat bukanlah kesalahan, maka muncul juga video seorang Ketua banser yang meminta polisi untuk tembak mati siapa saja yang membawa bendera tauhid.

Banyak nya klarifikasi dari pemerintah yang lagi lagi bernarasi bahwa bendera yang di bawa pelaku adalah bendera HTI sehingga seolah olah membenarkan tindakan penghinaan terhadap simbol islam. Bahkan pemerintah menganggap bahwa aksi pengecaman merupakan isu-isu yang digalakkan kubu oposisi.

Narasi ini yang menggiring opini publik bahwa yang di bakar adalah bendera HTI hanya karena setiap kegiatan ormas sebelum BHP nya di cabut ini memang memakai bendera tauhid tersebut  hal ini bertujuan untuk mempopulerkan kembali panji Rasululladan bendera ini ada jauh sebelum HTI ada bahkan di Nusantara.HTI tidak punya hak eksklusif, semua boleh pakai.

Banser lebih sering bertindak arogan terhadap ormas dan ulama tertentu dengan mengambil alih wewenang aparat dalam penegakan hukum. dan penguasa seolah membiarkan. ini tentu saja semakin memperuncing perbedaan. kebencian antar ormas membuat umat islam terpecah belah.

Dari semua kejadian ini hendaknya semua pihak khusus nya generasi muda negeri ini mulai merenungkan apa yang sebenarnya ada dibalik ini semua.

Jangan-jangan ada pihak yang mau adudomba?. karena Banser maupun HTI ini umat Islam. ada sebuah kekuatan besar yang bermain di balik ke pongahan ormas banser. ormas ini hendaknya introspeksi diri bahwa apa yang sudah mereka lakukan justru berbanding terbalik dengan visi yang mereka gembor - gembor kan yaitu menjaga NKRI. [MO/sr]







Posting Komentar