Oleh: Nina Marlina, A.Md.
(Member Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com- Sejumlah daerah di wilayah Indonesia sedang mengalami krisis air bersih. Diberitakan oleh Tribunjabar.id bahwa air Situ Cipanunjang sudah surut dan nyaris kering, hanya tinggal bagian tengah. Begitu juga Situ Cileunca sudah berkurang.

Kedua situ yang berlokasi di Pangalengan Kabupaten Bandung sebagai pemasok Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtawening Kota Bandung. “Sekitar 60-70 persen pasokan air PDAM Tirtawening Kota Bandung mengandalkan Situ Cipanunjang dan Situ Cileunca, ujar Direktur Utama PDAM Tirtawening Kota Bandung, Sonny Salimi, ketika meninjau Situ Cipanunjang (26/09/2018).

Air merupakan sumber kehidupan. Air digunakan oleh manusia untuk berbagai aktivitas. Bisa dikatakan air adalah sesuatu yang vital dan sangat dibutuhkan. Namun, kini semenjak 2 bulan terakhir air bersih sulit didapatkan di beberapa daerah. Salah satu penyebabnya, karena musim kemarau panjang. Hujan belum turun lagi.

Meski beberapa hari ke belakang sempat turun. Namun, hanya dengan intensitas yang kecil. Menurut data BMKG Awal Musim Hujan 2018/2019 di 342 Zona Musim (ZOM) diprakirakan umumnya mulai bulan Oktober 2018 sebanyak 78 ZOM (22.8%), November 2018 sebanyak 147 ZOM (43.0%), dan Desember 2018 sebanyak 85 ZOM (24.9%). Puncak Musim Hujan 2018/2019 di 342 Zona Musim (ZOM) diprakirakan umumnya terjadi pada bulan Januari 2019 sebanyak 150 ZOM (43.9%) dan Februari 2019 sebanyak 77 ZOM (22.5%). (www.bmkg.go.id)

Kebutuhan masyarakat terhadap air sangat besar. Apalagi dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah. Pada tahun 2016 saja, sebanyak 120 juta penduduk Indonesia belum bisa mengakses air bersih secara mudah (republika.co.id). Padahal di sisi lain, negeri ini merupakan negara kelima dengan kekayaan sumber daya air terbesar di dunia. ‪

Kedua, krisis air ini disebabkan oleh pengelolaan yang kurang baik. Terkadang juga penggunaan yang boros. Ketiga, akibat terjadinya pencemaran lingkungan. Misal membuang sampah sembarangan ke sungai. Begitu pun dengan limbah industri atau pabrik yang telah banyak mencemari air sungai tanpa pengolahan terlebih dahulu.

Adapun, akibat dari krisis air bersih ini, sudah pasti menghambat aktivitas masyarakat. Memasak, mencuci dan mandi pun sulit. Bahkan pondok pesantren di Kabupaten Rembang ada yang memulangkan santrinya untuk sementara waktu. Salah satunya adalah di Ponpes Al-Hadi, Desa Sumbergirang, Kecamatan Lasem.

Separuh dari total jumlah santri yang menuntut ilmu di pondok terpaksa dipulangkan. Hal tersebut karena kondisi air yang serba berkekurangan. Pengurus ponpes Al-Hadi Lasem, Muhammad Hasyim mengatakan, persediaan air bersih yang ada di Ponpes hanya cukup untuk dikonsumi sekitar 50 santri per harinya. Sehingga diberlakukan sistem pulang bergilir karena stok air yang tidak mencukupi. (detikNews.com, 09/10/2018).

Untuk itu, krisis air bersih ini perlu ditangani secara serius. Pemerintah harus cepat tanggap. Meski, Pemerintah daerah pun sudah membantu masyarakat dengan mengirimkan mobil tangki pengangkut air bersih. Juga ada LSM yang sudah berperan dalam membantu pendistribusian air bersih. Namun, tentu tidak cukup sampai disitu. Kedepannya, Pemerintah dan para ahli perlu membuat terobosan agar dapat mengelola SDA air dengan baik. 

Menurut Islam, air termasuk kepemilikan umum yang harus dikelola oleh negara. Kemudian dipergunakan oleh masyarakat secara cuma-cuma atau gratis. Sumber mata air tidak boleh dikelola oleh pribadi atau swasta. Jadi air bukanlah barang komersil.

Rasulullah SAW telah menjelaskan barang yang termasuk kepemilikan umum. Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Kaum Muslimin bersekutu dalam tiga hal : air, padang dan api.” (HR. Abu Dawud). Anas meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas tersebut dengan menambahkan : wa samanuhu haram (dan harganya haram).

Islam memandang bahwa penguasa berhak untuk ‘memagari’ lahan-lahan konservasi yang merupakan tempat cadangan air tanah dan wajib memulihkan fungsi-fungsi sumberdaya air yang telah rusak sekaligus memelihara dan menjaga agar tidak rusak (An Nabhani. T. An-Nizhomul Iqtishody fil Islam. Darul Ummah. Beirut. 2004).

Sebagai manusia dan hamba Allah yang lemah, kita juga patut untuk introspeksi diri. Jangan sampai keberkahan dari bumi tidak keluar. Dari langit pun tak turun. Akibat kemaksiatan yang telah kita lakukan. Sudah selayaknya kita bertaubat dan konsisten untuk taat kepada-Nya. Selain itu, manusia harus dapat mengelola SDA di bumi Allah ini dengan bijak dan benar. Allah SWT berfirman :

Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf : 96)[MO/sr]






Posting Komentar