Oleh: Armayanti
Ibu Rumah Tangga, Tinggal di Depok

Mediaoposisi.com-Keprihatinan, kemirisan, tentunya menyulut hati bagi mereka yang peduli terhadap generasi, terutama generasi muda yang akan menjadi cikal bakal peradaban.

Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia ini (PKBI) Lampung, Dwi Hafsah Handayani menemukan sebanyak 12 siswi di satu sekolah SMP di Lampung hamil, yang terdiri dari siswi kelas VII, VIII, dan IX.

Hafsah pun menyampaikan, ia pernah melakukan survei ke apotek di sekitar kampus dan daerah kos-kosan. Dari survei tersebut diketahui ada sekitar 100 kondom terjual dalam satu bulan.

Berita grup percakapan WhastApp bernama “All Stars”,  yang dilansir dari pikiran rakyat.com tanggal 03/10/2018, Komisi Perlindungan Anak Kabupaten Bekasi mendapatkan temuan terkait tindak asusila melalui grup aplikasi pengobrol, whatsapp (WA).

Grup tersebut berisikan para siswa di satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) Cikarang Selatan. Grup itu beranggotakan 24 siswa-siswi kelas IX dari berbagai kelas.

Kasus itu terbongkar saat pihak sekolah merazia handphone milik siswa. Berbagai percakapan tidak senonoh, berbagai video porno (ada 42 video porno), hingga ajakan berbuat asusila dan tawuran, beredar di grup tersebut.

Begitu juga warga Garut dibuat heboh dengan temuan kasus grup facebook gay siswa SMP/SMA, jumlah anggota di grup tersebut sudah mencapai 2600 orang lebih.

Sesungguhnya maraknya pergaulan bebas yang terus meningkat, bermuara pada satu penyebab, yakni akibat penerapan sistem sekuler.

Cara pandang ini telah mengalihkan ketundukan seorang hamba yang sejatinya hanya taat kepada Allah SWT kemudian tunduk kepada nafsu kebebasan.

Akibatnya halal dan haram tidak menjadi pertimbangan dalam berbuat/bertindak. Terbukti bahwa sistem ini melahirkan generasi yang rusak bagi masa sekarang dan masa yang akan datang.

Media Digital Sebagai Perusak Generasi Muslim

Generasi Milenial tak dapat dilepaskan dari teknologi, khususnya media digital. Sebab perkembangan teknologi adalah sebuah keniscayaan.

Hari ini internet tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari anak muda zaman sekarang. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), remaja usia 13-18 tahun menempati posisi ketiga dengan porsi 16,68%.

Sementara sebanyak 49,52% pengguna internet di tanah air adalah mereka yang berusia 19-34 tahun/kelompok usia produktif. Pengguna terbanyak kedua 35-54 tahun 29.55% dan pengguna dengan usia di atas 54 tahun 4,24%.

Sejatinya media digital adalah teknologi yang bersifat netral. Sebagai produk teknologi Barat yang merupakan madaniyah dan mempunyai potensi bisa untuk kebaikan atau keburukan, tergantung pada ideologi apa yang digunakan.

Ketika Barat berhasil memimpin peradaban dunia dengan sekulalisme maka media yang ada sarat dengan hadlarah barat dan terbukti sebagai mesin perusak dan penghancur generasi Muslim. Media digunakan sebagai alat penebar kerusakan (pornoaksi, pornografi, LGBT, kekerasan, dan ide sesat).

Kecanggihan teknologi telah disusupi dengan berbagai macam pemahaman dan tayangan yang serba bebas. Siapapun bisa mengakses dengan mudah dan tidak ada kontrol dari negara. Bahkan menjadi mesin pembunuh masal generasi bangsa. Membunuh idealisme dan identitas muslim generasi muda.

Sistem Sekuler  Tidak Mampu Menyelesaikan Masalah

Sekuler kapitalisme adalah sistem sosial yang didasarkan pada pengakuan hak-hak individu. Para-digma mendasar sekularisme tentang pemisahan agama dari kehidupan telah berhasil menjebak generasi masa kini dalam jebakan liberalisme.

Ide kebebasan menjadi senjata bagi remaja bertindak bebas bahkan kebablasan. Tak hanya di dunia nyata tapi juga merambah ke dunia maya. Bahkan pergaulan bebas tidak dengan lawan jenis saja namun dengan sesama jenis.

Fenomena seks bebas yang semakin dipandang wajar membuat penularan HV, AIDS menjadi semakin tidak terkendali di kalangan remaja. Tak sedikit remaja yang berhubungan seks di luar nikah, serta berganti-ganti pasangan.

Ditambah kampanye keamanan seks dengan kondom yang menjadi pemicu semakin suburnya perkembangan HIV, AIDS di Indonesia.

Peran keluarga, masyarakat dan negara mengabaikan keadaan ini, sebagai contoh: Keluarga memberikan kebebasan berperilaku bagi anak-anaknya. Masyarakat terbiasa melihat pasangan yang menikah dalam keadaan hamil dan negara abai terhadap realitas remaja.

Terbukti solusi sistem sekuler tidak akan mampu menyelesaikan masalah pergaulan bebas secara tuntas. Bahkan menyimpan bom waktu masalah yang siap meledak untuk menghancurkan peradaban manusia. Nilai-nilai dan gaya hidup bebas ala Barat semakin terpatri dalam diri generasi melalui mesin perusak yaitu media digital hasil dari sistem sekularisme.

Islam Solusi Tuntas Pergaulan Bebas
Remaja merupakan generasi penerus sebelumnya. Karena itu ada ungkapan dalam Bahasa Arab Syubanu al-yaum rijalu al-ghaddi (pemuda hari ini adalah tokoh pada masa yang akan datang).

Karena itu, Islam memberikan perhatian besar kepada mereka, bahkan sejak dini. Di masa lalu, banyak pemuda hebat, karena generasi sebelumnya adalah orang-orang hebat. Karena itu, khilafah memberikan perhatian besar pada generasi muda ini.

Di masa lalu, keluarga kaum Muslim menjadi madrasah pertama bagi putra-putrinya. Sejak sebelum lahir dan saat balita, orang tuanya telah membiasakan putra-putrinya yang masih kecil untuk menghapal Al-Qur’an dengan cara memperdengarkan bacaanya.

Rutinitas itu membuat mereka bisa hapal Al-Qur’an. Sesuai ajakan Nabi SAW yang mengatakan “Muru auladakum bi as-shalati wa hum abna’ sab’in.” (ajarkanlah kepada anak-anakmu shalat, ketika mereka berusia tujuh tahun).

Hadits ini sebenarnya tidak hanya menitahkan shalat tetapi juga hukum syara. Di masa kini ketika keluarga tidak mendidik sesuai ajaran Islam maka yang terjadi pada anak adalah kebebasan dalam bertindak sesuai rancangan Barat.

Di masa lalu kehidupan masyarakat yang bersih yang membentuk karakter dan kepribadian generasi muda di zaman itu. Kehidupan pria dan wanita pun dipisah.

Tidak ada ikhtilat, khalwat, menarik perhatian lawan jenis (tabarruj) apalagi pacaran hingga perzinaan. Kehormatan (izzah) pria dan wanita, serta kesucian hati (iffah) mereka pun terjaga.

Semua itu selain karena modal ilmu, ketakwaan, sikap dan nafsiah mereka. Juga sistem yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat oleh negara di masa kini, masyarakat sudah terbiasa dengan kehidupan berikhtilat, berkhalwat dan bertabarruj.

Kehormatan pria dan wanita sudah tidak terjaga bahkan sudah tercemar dan itu dianggap biasa saja.

Di masa lalu negara mengurusi umatnya dan hampir semua rakyatnya yang ada di naungannya merasakan kesejahteraan termasuk sistem pendidikan yang menghasilkan generasi berakhlakul kharimah dan fikrul mustanir. Di masa kini negara terkesan abai terhadap urusan umatnya.

Pandangan Islam terhadap Media Digital

Islam memandang media massa baik media digital maupun media analog memiliki fungsi strategis bagi negara dan kepentingan dakwah Islam yaitu melayani ideologi Islam.

Sedang di luar negeri media massa berfungsi untuk menyebarkan Islam baik dalam suasana perang maupun damai untuk menunjukkan keagungan ideologi Islam dan sekaligus untuk membongkar kebobrokan ideologi kufur buatan manusia.

Maka, peraturan hidup yang diterapkan masyarakat saat ini adalah sekuler kapitalistik yang nyata-nyata telah menghancurkan generasi muda, sehingga telah menghancurkan tatanan keluarga.

Keluarga adalah lingkup kecil dari masyarakat dan berdampak pada generasi muda yang bebas bertindak.

Karakteristik umat Islam yaitu amar ma’ruf nahi munkar sudah tergerus oleh sistem kufur tersebut. Generasi muda harus diselamatkan dengan cara kembali ke peraturan Allah SWT, agar kehidupan dan kehormatan umat manusia akan terlindungi.

Dan penerapan syariah Islam secara kaffah dalam institusi negara yaitu Khilafah `ala Minhajin Nubuwwah. Insya  Allah.[MO/gr]

Posting Komentar