Oleh : Isturia

Mediaoposisi.com-Bencana tidak hanya menimpa Lombok dan Palu. Tapi juga menimpa generasi. Kerusakan demi kerusakan terjadi. Generasi kian larut dalam kubangan syahwat. Sebanyak 12 siswi SMP di satu sekolah di Lampung diketahui hamil. Temuan di salah satu daerah di Bumi Ruwa Jurai tersebut, menjadi perhatian serius Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung.

Direktur PKBI Lampung, Dwi Hafsah Handayani menyebutkan, 12 siswi SMP di satu sekolah di Lampung diketahui hamil tersebut, terdiri dari siswa di kelas VII, VIII, dan IX. Koordinator Pencegahan HIV PKBI Lampung, Rachmat Cahya Aji menambahkan pantauan PKBI, persoalan kehamilan yang tidak diinginkan di kalangan pelajar, terjadi merata, baik sekolah-sekolah yang ada di Kota Bandar Lampung maupun di kabupaten-kabupaten.
"Hampir di setiap sekolah ada persoalan kehamilan di luar nikah tadi. Bahkan, beberapa kasus terjadi di SMP," ujarnya.

Menurut Aji : "Bahkan sekarang itu, banyak pelajar SMA yang ke lokalisasi. Bahkan, 20 persen pelanggan pekerja seks itu adalah pelajar SMA. Jadi dari 10 pelanggan seorang pekerja seks, itu 2 orang di antaranya adalah pelajar. Mereka itu awalnya ingin coba-coba, tahu dari teman, sampai ada yang langganan meski jarang-jarang. Bahkan, ada pelajar yang pacaran sama pekerja seks," kata dia.
(tribunlampung.co.id,2/10/2018).

Begitulah generasi muda. Pergaulan bebas sudah menjadi sarapan pagi bagi mereka. Hal yang dulunya tabu dan terlarang kini menjadi lumrah. Apalagi didukung media digital yang bisa diakses siapapun dan kapanpun. Baru-baru ini ditemukan Grup percakapan Whatsapp bernama “All Stars” itu beranggotakan para siswa dan siswi kelas IX dari berbagai kelas di salah satu SMP di Cikarang Selatan. Grup berisi percakapan tidak senonoh, berbagai video porno hingga ajakan berbuat asusila. (pikiran rakyat,3/10/2018)

Ini adalah gambaran generasi muda dalam sistem sekuler. Sistem yang melahirkan generasi rusak pada masa sekarang dan masa depan. Muara pergaulan bebas adalah kebebasan tanpa batas. Mengikuti keinginan diri tanpa mau aturan illahi. Didukung sistem pendidikan sekuler. Output pendidikan jauh dari nilai-nilai Islam. Mengharapkan generasi seperti mush'ab bin Umair jauh panggang dari api.

Islam Menjaga Generasi

Islam di turun Allah dengan sempurna. Mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk dalam pergaulan laki-laki dan perempuan. Islam mengatur pergaulan antara laki-laki dan perempuan agar tidak terjerumus pada khalwat (berdua-duaan) dan ikhtilat (campur-baur antara laki-laki dan perempuan) apalagi zina. Aturan ini tidak untuk mengekang kebebasan berkumpul, berinteraksi dan berorganisasi tapi bertujuan untuk menjauhkan dan menghindari perbuatan zina, maksiat dan sebagainya.

Negara mengontrol media yang ada. Dengan  meniadakan setiap tayangan yang membangkitkan nafsu syahwat liar, memblokir grup-grup maksiat, menyajikan edukasi dalam bentuk tulisan, lisan dan audio visual untuk mendidik generasi agar pemikirannya cemerlang dan terbebas dari pikiran mesum.

Negara memberlakukan sistem pendidikan islam. Output sistem pendidikan islam adalah generasi yang bersakhsiyah islam. Totalitas ketaatan hanya kepada pencipta yaitu Allah bukan hawa nafsu.
Negara memberi sanksi hukum tegas kepada pelaku maksiat. Hukum tersebut sebagai efek jera bagi yang lain sehingga tidak melakukan kemaksiatan.


Intinya negara harus kembali kepada aturan sempurna dan paripurna yaitu islam. Agar keeusakan demi kerusakan tidak melanda generasi dan negeri ini.[MO/an]

Posting Komentar