Oleh: Murni Arpani 
(Aktivis Muslimah)

Mediaoposisi.com- Jika hujan reda, perairan akan cukup tenang sejauh mata menyapu pandang. Nampaklah nanti kapal-kapal tongkang, kapal offshore, kapal rig raksasa, berbaur dengan kapal angkutan dan nelayan mengapung di Teluk Balikpapan. Teluk yang konon melimpah ruah kekayaan sumber daya di perutnya. Burung-burung berparuh besar pemangsa ikan melalang di atas dua pelabuhan yang merentangi dua kota berkembang.

Di tahun politik ini pula kota Balikpapan dan kabupaten Penajam sedang sibuk-sibuknya memekarkan wilayah. Berlomba-lomba mengembangbiakkan roda perekonomian. Berebut antrian pemasok APBN tertinggi. Seraya berburu wisatawan domestik dan mancanegara. Desas-desus Kabupaten Penajam menjadi kandidat pemindahan ibukota negara selain Palangkaraya, tentu saja berimbas pesatnya pembangunan daerah. Jembatan lintas laut, kereta api, tekno park, dan masih banyak lagi.

Kota Balikpapan sendiri sudah sejak lama dikenal dengan nama Kota Minyak, atau kota industri. Sejak masa reformasi, pembangunan terus digalakkan. Gedung Pemkot yang semula tertinggi bertingkat lima-enam lantai, kini bukan apa-apa lagi. Sebutlah nama perusahaan multinasional, perusahaan properti kelas kakap, sudah mulai tumbuh mereklamasi bibir pantai.

Imigran dari Indonesia Timur tumpah di jalan-jalan kota. Turis lokal maupun mancanegara bernaung di sentra souvenir dan pusat perbelanjaan. Bahkan tiga pasar tradisional paling hits, Pasar Pandan Sari, Pasar Sepinggan, Pasar Klandasan, tidak pernah sepi pengunjung berhari-hari.

Kata orang, Balikpapan menjanjikan kesempatan. Peluang peruntungan selalu ada bagi mereka yang berminat. Bohong kalau orang Balikpapan tak memakan isu dari jagad maya. Richeese factory ada. Ice kepal ada. Kue artis ada. Bahkan artis dangdut yang sedang tenar juga ada. Hanya ada dua alasan orang kurang beruntung di Balikpapan. Pertama, benar-benar malas mengubah nasib. Kedua, persaingan kerja dan tingginya standar lowongan kerja.

Ada cerita menarik datang dari laki-laki paruh baya di Pasar Pandan Sari. Dengan modal gerobak seadanya ia berjualan kantong keresek selama puluhan tahun. Nasibnya sendiri ya begitu-begitu saja. Pergi pagi pulang sore setiap hari. Tidak juga mengubah status sosialnya ke kasta yang lebih tinggi. Tidak pula hatinya mengeluhi keadaan.

Kalau mau protes sebenarnya dia bisa saja meneriaki Walikota, Pemerintah Daerah dan jajarannya. Kadung urat saraf terlanjur penat, menurutnya, membesarkan hati anak-anaknya jauh lebih baik. Sekarang, anak bapak tua itu sedang menempuh Strata 2 di ibukota. Melanjutkan perjuangan mengubah nasib keturunannya.

Memang, kemiskinan tidak dapat menurun secara genetik. Tapi kemiskinan yang paling kejam merupakan buah dari penerapan sistem yang carut marut. Segitiga sosiologi dipuncaki oleh sebagian kecil pemilik modal, gajah partai dan petahana, 90% sisanya jelantah dan remah roti.

Siapa bilang Kota Balikpapan tidak menyumbang daftar angka kemiskinan skala nasional? Angka kriminal melaju sebanding dengan jumlah lonjakan angkatan kerja. Pengangguran dan pelakor (eh) dimana-mana. Anak jalanan dan WTS menghiasi taman kota. Pengemis mengampar tikar di pelabuhan dan islamic center.

Setidaknya, sejak insiden tumpahan minyak di sepanjang Teluk Balikpapan hingga Selat Makasaar kemarin, teman pena saya di pulau seberang akhirnya tahu seperti apa wajah kota Balikpapan. Puluhan media massa mengekspos kota Minyak dan kawannya, Gerbang Madani (Penajam).

Instansi pemerintah kota terus berusaha menutup-nutupi "apa" di balik punggungnya. Melempar kesalahan pada satu orang nahkoda yang langsung dicopot pakaiannya. Malas-malasan menanggung kerugian dan takziyah korban yang notabenenya nelayan biasa.

Siapa sebenarnya yang memeras ketiak Banua Etam? Petani laut itukah, penambang minyak bumi? Yang satu mengisi ember ikan untuk melanjutkan hidup. Yang satunya datang untuk mengisi lambung kapal lalu pergi dan datang lagi. Sama-sama mencari peruntungan, katanya.

Jika hujan telah reda dan awan mendung bergeser. Ketika nanti sistem kehidupan berjalan sewajarnya mengikuti pola aturan semesta. Nanti akan saya perlihatkan betapa menariknya kota ini. Tapi nanti, belum sekarang.[MO/sr]

Posting Komentar