Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com- Ingat, ini bukan insiden, ini bukan dilakukan oknum, tapi ini sebuah rencana jahat yang dilakukan Banser untuk melecehkan kalimat tauhid. Ini dilakukan secara terbuka, penuh bangga, dengan seragam resmi, atas restu pimpinan dan dipertontonkan secara terbuka.

Bukan hanya Banser, rezim pun mendiamkan, rezim pun tutup mulut, tidak mengeluarkan satu patah pun kalimat pengecaman. Tapi Klo gereja yang diusik, Meiliana yang dipenjara karena menghina azan, rezim ikut angkat suara dan memberikan dukungan pembelaan. Bahkan, barisan ulama jahat membuat pernyataan tidak perlu mempersoalkan.

Jadi kita-lah yang wajib membela, siapa lagi ? Kita-lah yang harus angkat bicara, siapa lagi ? Menanti Jokowi memimpin pembelaan ? Menanti Jokowi pidato dengan nada tinggi mengecam pembakaran bendera tauhid ? Ngimpi !

Kita saksikan bersama, bagaimana rezim ini memiliki segudang preseden menyakiti umat Islam. Dari persekusi ulama, kriminalisasi hingga pembelaan rezim pada penista agama. Kasus Ahok menjelaskan dengan gamblang, bagaimana rezim berdiri tegak membela Penista Agama dan menelantarkan aspirasi umat Islam.

Rezim tidak pernah sensitif terhadap persoalan umat Islam, tetapi justru perhatian pada isu PKI. Ada atribut PKI bertebaran, rezim minta aparat tidak lakukan sweping. Rezim malah mensponsori simposium nasional untuk menulis ulang sejarah PKI, dari pelaku pemberontakan dan pembantaian menjadi korban pesakitan. Bahkan, meminta negara meminta maaf, membayar sejumlah kompensasi, dan pada akhirnya meminta kembali melegalkan PKI.

Jadi jelas, siapa yang membela agama ini dan siapa yang justru konsisten menyudutkannya. Umat Islam wajib bersatu, membela kalimat tauhid, membela bendera Rasulullah, dengan segenap daya dan upaya.

Bendera Rasulullah adalah bendera tempat bernaung kaum muslimin kelak dihari kiamat, bendera yang menghimpun umat Nabi SAW, jika umat ini diam maka pastilah kelak Allah SWT akan mendiamkan siapapun yang mengacuhkan kalimat-Nya.

Buya HAMKA berkata, jika kita diam padahal agama kita dihina, maka lebih baik kita menggunakan kain kafan. Imam syafi'i berkata, jika kita tidak marah padahal sudah dibuat marah, maka sama saja kita ini keledai. Apakah kita ini keledai ? Atau bahkan keledai yang terbungkus kain kafan ? Tidak !

Kita adalah umat Nabi SAW, kita adalah cucu-cucu Abu Bakar, Cucu-cucu Umar, cucu-cucu Usman, cucu-cucu Ali Karomallhu Wajhah. Kakek Buyut kita adalah Zaid Bin Haritsah, Ja'far bin Abi Thalib dan Abdulah Bin Rawahah. Mereka telah membela bendera rasul pada perang Mu'tah sampai terpotong tangannya, kakinya dan akhirnya menjemput kemuliaan Syahid di jalan Allah dengan membela bendera Rasulullah.

Karena itu, jadilah Zaid Bin Haritsah abad ini. Jadilah Ja'far bin Abi Thalib abd ini. Jadilah Abdulah Bin Rawahah abad ini. Bela dan lindungi bendera Rasul dengan segenap daya dan upaya. Bungkam mulut-mulut busuk yang hendak memadamkan cahaya Islam.

Datangi setiap pintu-pintu umat, kabarkan bahwa kalian adalah penjaga dan pembela bendera Nabi. Buat penguasa sombong itu mendapat balasan akibat kezalimannya, tuntut semua pihak yang terlibat pembakaran bendera Nabi untuk bertanggung jawab.

Buatlah aksi-aksi besar, dengan membawa bendera tauhid, kibarkan bendera tauhid menjulang ke angkasa. Buat semua antek antek PKI seperti cacing kepanasan, karena melihat syiar kebesaran panji Islam. [MO/sr]

Posting Komentar