Oleh: Novita Sari Gunawan
"Aktivis Akademi Menulis Kreatif"

Mediaoposisi.com-Industri generasi ke-empat atau Industri 4.0 saat ini sedang menjadi pokok pembicaraan di jajaran pemerintahan. Presiden Jokowi beserta Kementerian Perindustrian sedang menyusun roadmap yang berjudul Making Indonesia 4.0.

Dengannya, menjadi harapan besar bahwa daya saing industri nasional dapat meningkat dalam persaingan global. Bahkan, menjadi bagian dari deretan 10 besar ekonomi dunia di 2030 adalah prospek yang utama.

“Sejak tahun 2011, kita telah memasuki Industri 4.0, yang ditandai meningkatnya konektivitas, interaksi, dan batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen melalui teknologi informasi dan komunikasi,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara Sosialisasi Roadmap Implementasi Industry 4.0 di Jakarta, Selasa (20/3).(www.kemenperin.go.id)

Pada revolusi industri keempat ini, menjadi lompatan besar bagi sendi-sendi  kehidupan, dimana teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan sepenuhnya tanpa terkecuali. Aspek penguasaan teknologi adalah kunci penentu daya saing di era ini. Adapun lima teknologi utama yang menopang pembangunan sistem Industri  4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing.

Tentu saja, dengan harapan pencapaian kualifikasi kelima teknologi utama tersebut menuntut adanya upgrading kualitas SDM tanah air. Mereka digenjot untuk segera menguasainya dalam rangka memastikan kesiapan industri nasional dalam revolusi industri 4.0. Maka dari itu, Kemenperin berencana membentuk Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Industri. Badan ini akan bertugas dalam meningkatkan kompetensi SDM di sektor industri, terutama untuk menghadapi revolusi industri 4.0.

Jika ditelaah, tujuan dari teknologi ialah untuk memecahkan suatu problem, membuka kreativitas, meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam melakukan aktivitas. Dengan kata lain adalah meningkatkan life hack yang akan mengoptimalkan kualitas hidup. Akan tetapi, fungsi dua mata pisau pun berlaku padanya. Kemajuan teknologi dapat menjadikan SDM sebagai pahlawan maupun korban. Sifat dari teknologi tak lain adalah netral, tergantung pada basis ideologinya.

Ideologi kapitalisme yang bertujuan semata-mata untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya meniscayakan pemanfaatan teknologi industri sebatas mencetak rupiah bagi para pemegang kekuasaan, pemodal dan pemangku kepentingan dibalik kedok ideologi yang digadang-gadang sudah jempolan.

Baik asing, aseng, maupun antek dan boneka-bonekanya. Sahihnya, maslahat tadi tak akan menyentuh hingga ke akar rumput. Para SDM mumpuni tersebut menjadi korban dari pengokohan eksistensi ideologi yang cacat ini. Maka kembali ditegaskan, siapa yang sesungguhnya disejahterakan dari situasi ini?

Belum lagi para oknum yang memanfaatkan kemajuan teknologi untuk kemaksiatan yang menghancurkan moral dan akhlak generasi penerus bangsa.

Salah satu contohnya adalah mereka menyediakan akses yakni situs-situs yang mengandung unsur pornografi baik berupa gambar maupun video serta pengaruh budaya asing yang tidak normatif. Bahkan dengan kemampuan Artificial Intelligence, seseorang dapat menciptakan boneka seks yang serupa dengan keotentikan tubuh wanita. Sungguh tak berfaedah dan merusak.

Berbeda halnya jika Islam menjadi ideologi yang diterapkan menjadi sistem bernegara. Profesionalisme dalam hal ini adalah adanya keterkaitan antara kepakaran dalam teknologi dengan ruh yaitu kesadaran akan tujuan hidupnya sebagai Khalifatullah yang memakmurkan bumi dan terikat dengan hukum dan aturan dari penciptanya.

SDM yang lahir dari ideologi Islam paham akan konsekuensi dan tanggung jawab atas ilmu yang dikuasainya. Menggunakan sebaik-baiknya untuk kemajuan bangsa dan membela agamaNya.

Tentunya pendidikan dalam Islam yang akan membekali SDM dengan pemahaman tersebut. Menjadi penggerak teknologi yang memanfaatkan sarana digital ini agar menyejahterakan seluruh rakyat tanpa terkecuali. Dengannya seluruh SDA dalam negeri dapat dikelola dengan mandiri dan berdaulat terlepas dari perangkap asing.

Dimana penjajahan dibalik topeng atas nama kekuatan adidaya yang sesungguhnya membuat mayoritas penduduk pribumi miskin di negeri gemah ripah loh jinawi. SDM seperti inilah yang pantas disematkan dengan sebutan pahlawan sesungguhnya di era industri 4.0.[MO/an]













Posting Komentar