Oleh: Sera 

Mediaoposisi.com- Dalam rangka menyambut para tamu pertemuan IMF dan World Bank pada tanggal 8 sampai 18 oktober 2018, terlihat pemerintah semakin matang mempersiapkan segala sarana dan prasarana yang sekiranya mendukung acara tersebut. Mulai dari Kapal pesiar raksasa asal Hongkong 'MV Genting Dream' yang akan mengangkut 5.000 wisatawan mancanegara dari China, Eropa dan berbagai negara di dunia, Helikopter sebanyak 30 unit yang disiapkan untuk mengevakuasi para kepala negara, Kapal Rumah Sakit Apung yang sudah dilatih, Kapal selam, dan sebagainya yang akan terjejer beberapa hari menjelang pelaksanaan pertemuan IMF-WB. (https://www.merdeka.com)

Bahkan PT Pelindo III akan menghabiskan anggaran hingga Rp 700 milyar untuk proyek pendalaman Pelabuhan Cruise Benoa hingga 12 meter agar kapal pesiar raksasa MV Genting Dream bisa bersandar. (https://m.liputan6.com). Selain itu, seperti yang di ungkapkan oleh Ketua Pengurus Panitia Harian Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018 Susiwijono Moegiarso menambahkan, pemerintah telah mengalokasikan anggaran multiyears sebesar Rp 855,5 miliar untuk acara ini. (https://amp.kompas.com)

Semua ini di lakukan pemerintah Indonesia guna membuktikan bahwa Indonesia adalah tuan rumah pertemuan perhelatan IMF-Word Bank yang sangat serius dalam menyambut dan melayani tamunya. (Mungkin lebih tepatnya para pemilik modal kapitalis,, he h h ). Namun hal ini berbanding terbalik dengan  keseriusan pemerintah dalam menolong rakyatnya sendiri di Palu, Sigi, dan Donggala yang sedang terkena musibah gempa dan tsunami yang sangat besar dampak kerusakannya.

Hal ini bisa kita lihat dengan kasat mata, coba kita sama-sama melihat kira-kira ada berapa helikopter dan pesawat herkules yang diturunkan pemerintah untuk mengevakuasi rakyatnya yang menjadi korban bencana? Ada berapa kapal perang yang dikerahkan untuk mengangkut bantuan? Sudah berapa besar dana yang dikeluarkan dan disiapkan untuk para korban? Sudah seberapa besar
pemerataan bantuan untuk para korban ? Apakah sudah di pastikan para korban mendapatkan tempat mengungsi yang layak seperti hotel mewah yang disiapkan para tamu IMF ?

Hingga hari Rabu 3 Oktober 2018, masyarakat  korban gempa dan tsunami di Palu, Sigi, dan Donggala dalam kondisi kesulitan makanan atau lebih tepatnya kelaparan. Padahal, musibah sudah masuk hari ke 6. Gerak pemerintah yang konon memiliki banyak sumber daya, namun tampak begitu sangat lambat menolong rakyatnya. Bahkan Adelia Wilhelmina istri dari Pasha Ungu yang kini menjabat Wakil Wali Kota Palu mengatakan melalui akun Instagram miliknya bahwa warga Palu yang terkena bencana saat ini kondisinya kelaparan, kehausan dan minim sekali bantuan dan hal ini membuat masyarakat Palu mulai tidak kondusif. (http://bangka.tribunnews.com)

Dari sinilah kita patut bertanya. Lalu sebenarnya untuk siapakah semua sumber daya yang dimiliki oleh pemerintah? Untuk Rakyat atau untuk para pemilik modal kapitalis? Kan ya miris !
Apakah tujuan Pragmatis itu lebih manis daripada jeritan dan kesedihan rakyat Palu yang tiap hari menangis ? Apakah prakiraan dampak ekonomi dari pertemuan IMF ini lebih gurih daripada rakyat Palu yang saat ini dukanya semakin Perih ? Entahlah !

Dari data Bappenas, Luhut menyebutkan dari pertemuan IMF-Word Bank ini diperkirakan akan terjadi pertumbuhan sebesar 6,45 persen dan ada 32 ribu lapangan kerja yang tercipta. Hal ini juga akan berimplikasi pada destinasi wisata selain Bali seperti Lombok, Labuan Bajo, Borobudur, dan Danau Toba. (https://m.liputan6.com). Mungkin karena inilah pemerintah begitu ngotot tetap ingin meyelenggarakan pertemuan ini walau banyak penolakan dari berbagai pihak termasuk serikat buruh, LSM dan organisasi yang tergabung dalam gerakan rakyat. (https://tirto.id/)

Tapi mau bagaimana lagi, ketika rezim melihat sesuatu itu ada keuntungan materi walau itu pragmatis ya tetap akan di laksanakan, tidak peduli seberapa banyak jeritan yang ada di belakang. Maka inilah perilaku dzalim rezim khas Demokrasi. Memang hanya Islam yang mampu dan terbukti selamatkan negeri.

Karena dalam Islam menjadi pemimpin itu bukan hanya masalah jabatan atau mata pencaharian yang mengahasilkan materi, tapi dalam Islam menjadi pemimpin berkaitan erat dengan Surga dan Neraka, Pahala dan dosa yang semua akan dimintai pertanggung jawabannya.[MO/sr]


Posting Komentar