Oleh : Dinar Khairunissa

Mediaoposisi.com-Pada Suatu masa, 14 abad silam lamanya, kaum muslimin dihadapkan pada perang melawan negara adidaya Romawi. Kurang lebih 3000 pasukan kaum muslimin berhadapan dengan kurang lebih 200.000 pasukan Romawi.

Jumlah pasukan yang sangat tidak imbang, namun kaum muslimin harus menghadapi peperangan dengan gagah berani. Melihat kekuatan yang dimiliki Romawi, pasukan nya tentu bukanlah militer dengan didikan main-main.

Mereka memiliki badan yang besar, tegap, dan ahli dalam peperangan. Sementara kaum muslimin harus menelan ludah saat mengetahui jumlah pasukan yang sangat besar itu.

Hingga sebelum berangkat berperang, bendera kemuliaan itu Rosululloh saw titipkan pada Panglimanya. Zaid lah orang pertama yang mendapat kehormatan sekaligus mendapat kabar bahwa Ia akan gugur di medan peperangan.

"Ar-Rayah dipegang oleh Zaid, lalu ia gugur. Kemudian diambil oleh Ja'far, lalu ia gugur. Kemudian diambil oleh Ibn Rawahah dan Ia pun gugur" (HR. Bukhori).

Tak usah ditanya bagaimana kaum muslimin bisa sehebat itu dalam mengumpulkan keberanian menghadapi Romawi.

Tak usah ditanya pula, bagaimana tragisnya kematian Zaid, Ja'far, dan juga Abdullah bin Rawahah saat menjadi panglima perang.

Tubuh mereka tercabik, tangan mereka terputus, tapi dengan sisa-sisa tenaganya mereka tetap mempertahankan Ar-Rayah ditubuh mereka.

Digenggam dengan sisa lengannya hingga digenggam dengan giginya. Menjaga kemuliaannya jangan sampai menyentuh tanah.

Ketika panglima pertama gugur, maka Ar-Rayah itu langsung disambar oleh panglima selanjutnya, begitu seterusnya hingga pasukan kaum muslimin dapat pulang dengan membawa pelajaran dan hikmah yang amat berharga dipimpin oleh Khalid bin Walid dengan strategi perang out of the box nya.

Ya, pada suatu masa, 14 abad silam lamanya, hingga masa-masa setelahnya, banyak pemuda yang rela mati demi mempertahankan bendera kemuliaan umat islam ini. Ar-Rayah dan Al-Liwa yang didalamnya bertuliskan kalimat tauhid adalah bendera milik seluruh kaum muslimin.

Dikabarkan oleh Rosululloh saw. bahwa kelak bendera itulah yang akan menaungi kaum muslim. Ia nya adalah simbol persatuan, siapapun yang bersyahadat, maka itulah benderanya. Tak tersekat negara, tak tersekat perbedaan bangsa. Kaum muslimin adalah satu dimanapun mereka berada.

Namun kini banyak sekali yang telah salah sangka. Bendera itu dilihatnya sebagai bendera salah satu organisasi yang mereka benci. Bendera berlambangkan tauhid itu dibakarnya hingga habis. Sambil melompat-lompat kegirangan, bernyanyi riang, mereka bakar bendera tauhid itu dengan penuh kebencian pada Hari Santri Nasional.

Hari dimana Indonesia sedang merayakan dan mengapresiasi siapa saja yang sempat mengenyam pendidikan sebagai santri.

Tentunya pendidikan pondok menempa mereka untuk menjadi insan mulia, berakhlaqul karimah, beradab dan menjadi representasi islam bagi selain mereka yang awam.

Namun jauh sekali dari bayangan akhlaqul karimah, mereka yang mengaku kelompoknya paling toleran, paling pancasilais dan paling nyantri ini justru membakar Ar-Rayah bendera persatuan umat islam.

Reaksi umat islam langsung bergejolak dalam waktu singkat. Iman dan perasaan islam dalam hati mereka langsung panas.

Marah dan sakit terasa dalam dada mereka saat menyaksikan video tersebut berputar. Saat kalimat tauhid itu dilalap api.

Hati muslimin yang terpatri syahadah dalam hati mereka menangis. Begitukah akhlaq kelompok yang mengaku sedang menjaga NKRI? Terlebih mereka mengaku sebagai bagian dari Nahdatul Ulama. Mereka jelas-jelas mencoreng nama dan kesucian perjuangan Nahdatul Ulama saat ini.

Sejuta alasan dikumandangkan. Petinggi-petinggi mereka berkoar, sibuk menebar bela. Yang penting anak buah mereka tidak salah.

Dengan dalih membakar Ar-Rayah karena ingin menyelamatkan kalimat tauhid, sampai ke pernyataan tidak terimanya mereka bahwa bendera tauhid itu sering dipakai dan dibawa oleh organisasi dakwah Hizbut Tahrir Indonesia.

Kebencian telah menutupi akal sehat mereka. Segala penjelasan tak bisa masuk dalam otak mereka. Ketika didakwahi mereka berkata NKRI harga mati. Pancasila tak boleh terganti. Hanya itu sepertinya pembelaan yang bisa mereka lakukan.

Membubarkan pengajian, menjaga panggung dangdutan, menjaga gereja, dan berbuat onar mereka tampakkan sebagai cara untuk menjaga kedaulatan NKRI tercinta. Ironi dan menyedihkan.

Satu Terbakar , Sejuta Berkibar. 
Begitulah cara Allah membalas makar orang -orang yang dzolim itu. Ketika mereka berusaha untuk terus melancarkan fitnah,

mencaci dan menebar benci juga opini bahwa itu adalah bendera milik satu organisasi terlarang.

Mereka terus melakukan pembenaran, hingga jajaran polisi justru membebaskan ketiga pelaku pembakaran dan menangkap orang yang membawa bendera.

Disitulah ummat islam justru semakin terbuka hati dan pikirannya pada kebenaran.

Berbondong-bondong mereka condong pada ulama-ulama yang menyampaikan agama Allah dengan kejujuran. Dari berbagai daerah mereka beraksi dan bereaksi, bersama menyatakan keberpihakan membela kalimat tauhid.

Bersama hati mereka sakit, saat kalimat suci itu habis dilalap api. Air mata yang sama, perasaan yang sama. Itulah perasaan islam yang ada dalam hati orang-orang beriman.

Sudah saatnya ummat bersatu dalam semangat tauhid. Mencampakkan perbedaan fiqih, cara berdakwah, dan hal-hal lain yang memicu pertikaian internal.

Saatnya sesama muslim saling merangkul, menguatkan dan menyatukan langkah menuju kemenangan islam. Sudah terlalu lama ummat menanti tindakan heroik pembela agama Allah.

Sudah lama ummat merindu tindakan tegas dari hukum-hukum Allah yang kelak akan menjaga keadilan bagi sesama.

Sesungguhnya, persatuan ummat islam lah yang paling musuh-musuh Allah itu takutkan. Karena ketika kaum muslimin kembali menyatukan langkah, disitulah musuh-musuh Allah dan RosulNya tidak bisa berbuat semena-mena.

Karena pada hakikatnya musuh-musuh Allah itu tidak bersatu. Mereka yang mengolok, menghina dan melecehkan agama Allah hatinya terpecah belah. Seperti orang Yahudi yang Allah sebutkan dalam al-Qur`an:

تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ

Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah [Al-Hasyr:5] [MO/gr]





Posting Komentar