Oleh : Mimin Mintarsih
Ibu Rumah Tangga

Mediaoposisi.com-Pada puncak peringatan hari santri nasional di Lapangan Gasibu kota Bandung, Jawa barat, Presiden Joko Widodo berpesan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah rumah nya para santri.

Ia pun menyampaikan kepada para santri untuk menjaga rumah tersebut dengan baik, “NKRI adalah rumah sendiri yang harus di rawat dan di jaga” kata Jokowi.

Menurut Jokowi, santri memiliki tradisi menghormati dan menghargai hubungan sesama manusia serta menjunjung hubungan dengan Tuhannya. Tradisi ini sangat dibutuhkan untuk menjaga persatuan negara yg memiliki beragam perbedaan.

Selain berpesan pada santri agar menjaga ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathoniyah Jokowi berpesan juga agar umat tidak saling mencela, menjelekkan dan memfitnah karena itu kerap muncul menjelang pemilu, agar santri menghormati pilihan orang lain.

Kata santri secara spesifik, merujuk kepada pemuda dan pemudi muslim yg menuntut ilmu di pesantren.

Mereka adalah generasi muda islam calon ulama, yang menjadi tumpuan dan harapan untuk meneruskan estafet pembinaan kaum muslimin, yang juga akan memegang kepemimpinan di masa datang.Karena itu peran santri sangat lah penting dalam menentukan masa depan umat.

Pada masa dahulu santri memiliki peran besar dalam penyelamatan umat dari cengkraman penjajah, mereka dengan sangat berani melawan kezholiman yg saat itu berkuasa di bawah komando penjajah secara fisik.

Bahkan di antara banyaknya pahlawan indonesia yang berkemauan kuat untuk menghilangkan penjajahan adalah kalangan santri dan ulama. Dari ujung barat hingga timur mereka bersama-sama bersuara lantang, berjihad melawan kekuasaan zholim saat itu.

Itu semua adalah bukti bahwa ketakutan ulama dan penerusnya hanya pada Allah SWT, bukan kpd hamba yg tengah berkuasa.

Dari kisah sejarah ini maka begitulah seharusnya posisi santri masa kini, santri seharusnya mempersiapkan diri menjadi sosok penerus ulama untuk mengakhiri segala kezholiman yang ada.
Namun sayang saat ini hal ini hampir kita sulit jumpai.

Santri justru menjadi salah satu pihak yang tunduk di bawah pengaruh para elit politik untuk mendulang suara demi melanggeng kan kekuasaan mereka.

Hendak nya santri meneladani kemurnian ulama terdahulu dalam mengamalkan ilmunya. Artinya posisi santri harus dipahamkan untuk bisa kembali membangkitkan umat.

Apabila kebangkitan umat hanya bisa di tempuh setelah menyadari harus ada kebangkitan pemikiran, maka langkah awal yg harus di lakukan pun harus lah membangun kembali struktur pemikiran yg lurus di benak setiap santri,

pemikiran yang jernih dan cemerlang dari keagungan khazanah Islam semata. Bukan pemikiran yg terkontaminasi barat, karena itu akan menjauhkan pemahaman Islam sebagai ideologi yg bisa dipakai untuk urusan ibadah sehari-hari ataupun untuk urusan mengatur negara dan membangkitkan umat.

Sehingga santri akan memiliki sikap yang muncul dari kesadaran bahwa kondisi saat ini sama dengan kondisi jahiliyah di masa sebelum Islam datang.

Dan kesadaran ini akan memunculkan sikap peka terhadap segala persoalan umat hingga akhirnya mereka rela mengambil peran amar ma'ruf nahi munkar di tengah masyarakat.

Mereka tak akan mau lagi menjadi tumbal kapitalisme yg jelas-jelas berupaya membelokkan potensi santri untuk mengokohkan eksistensi rezim sekuler apalagi perpanjangan tangan hegemoni kapitalisme,

menolak segala bentuk deideologisasi ajaran Islam dalam kurikulum pesantren, hingga pemanfaatan sebagai kantong suara ketika pemilu tiba, pun mereka akan menjaga jarak dengan penguasa zholim apalagi jika nampak indikasi jika penguasanya berlaku keras dan tidak adil pada kaum muslimin.[MO/gr]

Posting Komentar