Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com- Bukti dan saksi tidak lagi berarti saat hukum tidak berpihak kepada kebenaran. Asumsi dan praduga yang tidak jelas telah menggantikan saksi dan bukti yang nyata. Itulah jika hukum tidak lagi berpihak pada umat namun kepentingan politik penguasa. Yang jelas salah dibela dan dibebaskan tanpa diproses secara hukum. Sementara yang benar dipersalahkan dengan berbagai alasan yang dicari-cari.

Yang jelas melakukan tindakan anarki dibiarkan dan dilindungi tetapi yang menyampaikan kebenaran yang semata-mata dari ajaran Islam dipersekusi dan dianggap makar. Banyak tindakan anarki dilakukan hanya untuk alasan mempertahankan NKRI. Pancasila dijadikan alasan dan alat untuk menggebuk dan menghancurkan lawan politik tanpa proses hukum. Mengaku pancasialis tetapi banyak melanggar nilai-nilai pancasila yang ditafsirkan sesuka hati sesuai dengan kepentingan politiknya.

Ormas dikumpulkan agar bisa memberi dukungan atas putusan hukum penguasa yang tidak berpihak pada umat. Sudah dipastikan hasilnya umat yang diundang digiring untuk menyepakati keputusan penguasa. Mereka yang diundang adalah orang-orang yang pro dengan penguasa. Sementara aksi bela bendera tauhid tidak didengar padahal itu adalah suara umat yang sebebarnya. Mereka yang bela panji rasullukah di halang-halangi dan bahkan yang di Malang ada yang pukuli.

Satu persatu dicari pihak yang bisa dipersalahkan. Mulai dari yang membawa bendera tauhid, orang yang pertama kali merekam dan mengunggah video insiden pembakaran bendera tauhid, yang menyebarkannya sampai satu ormas Islam disalahkan karena sudah mendorong tiga oknum banser untuk melakukan pembakaran bendera Rasullulah yang dipikir bendera ormas Islam yang mereka benci. Padahal ormas Islam ini sudah  dibubarkan oleh keputusab hukum sepihak dari penguasa.

Ormas ini dianggap menginspirasi para oknum Banser untuk membakar bendera tauihid. Padahal kika ketahui bersama bahwa ormas tidak memiliki bendera. Sungguh mereka sudah melanpaui batas

Umat yang cerdas dan lurus tidak akan mau menjadi corong penguasa untuk memusuhi dan menggebuk saudaranya sendiri. Mereka juga tidak akan mungkin membakar bendera tauhid yang merupakan simbol pemersatu umat Islam. Hanya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, kebencian pada saudaranya sendiri yang mampu melakukan semua itu. Apapun alasannya mereka sudah melakukan kesalahan dan layak dapat hukuman setimpal.

Lebih dari itu, tidak nampak rasa penyesalan pada para pelaku karena mereka dilindungi dan didukung oleh penguasa dan aparat. Siapa yang paling dirugikan atas insiden ini. Yang pasti adalah umat Islam. Mereka diadu domba oleh musuh umat Islam. Mereka ada dibalik insiden ini dan sedang menikmati perpecahan umat Islam.

Wahai umat Islam, jangan mau dipecah belah karena kalian akan menjadi lemah. Bersatulah dan bela panji Rasullulah. Jangan biarkan mereka yang memusuhi Islam tertawa karena telah berhasil membuat kalian terpecah belah. Bersatu akan membuat umat Islam menjadi kuat untuk merubah negeri ini menjadi negeri yang kita impikan bersama disaat Islam bisa diterapkan secara kaffah dan Islam sebagai rahmatan ll'alamin bisa terwujud dalam kehidupan yang nyata.[MO/sr]

Posting Komentar