Oleh: Nasrudin Joha

mediaoposisi.com-Saya agak kurang enak hati, merasa agak kurang percaya diri, jika terpaksa harus berdiskusi dengan Toti, sirigu, perin, alisio parigno, lazzari, caldara, dll. Coba kalau mereka tanya : "Mas Joha, kenapa Mbok Sri nyalahin Italia ketika rupiah melemah terhadap dolar ? Salah dan dosa kami apa ?".

Anda tentu bisa membayangkan, betapa merah muka saya menanggung malu. Sebab, apa hubungan kasualitasnya antara pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika, dengan Italia ? Kenapa kita buang badan ke Italia ? Harusnya langsung salahkan Amerika, dan buat pernyataan "Rupiah melemah akibar Amerika songong,dollar ogah ditawar".

Kalo nyalahin Amerika memangnya Ga berani ? Takut ? Terus kenapa rupiah melemah, Italia yang kena getahnya ? Emang apa salah dan dosa Italia ? Coba eta tersangkanlah .....

Mbok Sri ini setali tiga uang dengan koleganya, Enggar dkk. Beras mahal ? Tawar ! Daging mahal ? Makan bekicot ! Beras mahal ? Diet ! Listrik mahal ? Copot meteran ! Sarden ada cacing ? Protein !

Cobalah berhenti buang badan, nampaknya Legacy Jokowi selaku pemimpin yang langsung menjadi teladan dan dicontek habis para menteri bawahannya adalah gaya 'buang badannya'. Cuma jokowi kurang kreatif, cuma bisa anu, apa ? Anu, apa ? Ujung-ujungnya, bukan urusan saya !

Menteri di era kabinet kerja-kerja-kerja (lupa mikir) ini lebih kreatif gaya buang badannya. Ada yang menyebut naiknya harga telur karena piala dunia, ada yang menyebut rupiah melemah karena jamaah haji, dan hari ini rupiah tembus 15.000, salahkan Itali.

Cobalah berbesar hati, terpuruknya rupiah ini karena ada salah urus di internal negeri. Kalau neraca kita surplus, target pencapaian pajak bagus, pertumbuhan ekonomi bagus, hutang rendah, sektor real bekerja, tentu dolar Amerika tak akan mampu menekan rupiah, apalagi Italia.

Lah ini ? Kondisinya buruk. Neraca Defisit, perlambatan pertumbuhan, utang menumpuk, BUMN merugi, target pendapatan meleset, kok terus cari kambing hitam di luar negeri ? Kambing nya ada didalam negeri, segera urusi !

Nanti kalau kepepet bisa keluar kata-kata ajaib yang butuh kamus bahasa yang baru, keluar dari pakem JS BADUDU. Seperti misalnya : tidak ada penjarahan, cuma ambil barang. Ini perlu tafsir bahasa khusus untuk memahaminya.

LBP saja pernah mengeluarkan Mantera "Bukan Rupiah Melemah, Tapi Dolar Lagi Menguat". Waduh ? Edan tenan negara sodara. Nanti muncul terminologi baru : "Bukan miskin, tapi tak mampu mencukupi kebutuhan. Bukan di pukul, hanya memar saja kepalanya. Bukan banyak utang, hanya deposit piutang jauh lebih kecil ketimbang nilai utang. Bukan dianiaya, tapi ..... ? Ups, nanti kembali ke urusan oplas.

Kembali kepada Mbok Sri. Sri ? Kapan kowe Bali ? Bali eling marang teori ekonomi logis. Terlalu sering pembesar di negeri ini mengeluarkan teori ajaib. Jika diteruskan, saya khawatir negeri ini jatuh ke lubang krisis dan kemudian nanti ada lagi yang berdalih : ini bukan krisis, hanya kondisi ekonomi sedang tidak baik. Ngawur ! [MO/an].

Posting Komentar