Oleh: Dwi Rahayuningsih, S.Si


Mediaoposisi.com-Kabar mengejutkan kembali menguar dari dunia remaja. Seperti dilansir dari TribunLampung.co.id, Selasa (2/10/2018), Hafsah mengatakan kejadian dimana satu SMP di Lampung ada 12 siswinya yang hamil. Siswi tersebut terdiri dari kelas VII, VII, dan IX. “Sekolah bilang bersih. Tapi, cek di guru BK ternyata ada muridnya yang hamil,” katanya. Hafsah juga menyampaikan bahwa dirinya pernah melakukan survei ke apotek di sekitar kampus dan kos-kosan. Dari survei tersebut diketahui ada sekitar 100 kondom terjual dalam satu bulan.

Di Cikarang juga ditemukan tindak asusila melalui group whatsapp (WA) yang anggotanya terdiri dari 24 siswa dan siswi satu sekolah menengah pertama. Para anggota group saling berbagi video porno. Mirisnya lagi, mereka juga saling mengajak untuk berhubungan badan. Hal ini diketahui saat salah satu anggota group terkena razia oleh guru dan diambil telpon selulernya. (PikiranRakyat.com, 03/08/2018)

Seolah tak cukup dengan hal itu, kabar serupa datang dari Kabupaten Blora Jawa Tengah. Empat siswa SMP di Blora melakukan adegan mesum dan foto-fotonya beredar luas. Akibat perbuatan tersebut 5 orang siswa mengundurkan diri. (Tribunnews.com, 9/10/2018)

Jerat Liberalisme Kian Kuat

Banyak yang menyebut bahwa biang keladi dari kerusakan moral generasi muda saat ini adalah teknologi. Smartphone yang begitu “smart” memudahkan segala akses bagi siapapun. Keberadaannya
bagai dua sisi mata uang. Bisa memberikan banyak kemudahan dan kemanfaatan sekaligus merugikan dan menghancurkan. Benarkan teknologi canggih ini yang merusak generasi muda?

Tentunya sebagai muslim harus bijak dalam menyikapi hal ini. Dari sisi kebolehannya, teknologi adalah madaniyah yang mubah untuk digunakan. Dia hanyalah sarana. Yang perlu di evaluasi dan dikritisi adalah sistem kapitalis sekuler yang melahirkan kebebasan berperilaku. Konten-konten yang dijajakan sengaja dibuat untuk tujuan komersil. Apapun yang mampu meraup pundi-pundi uang lebih banyak, maka akan diproduksi besar-besaran. Tidak peduli apakah hal itu membuat generasi muda tumbang dan tidak berdaya.

Sistem ini telah berhasil melahirkan generasi bebas yang tidak mau terikat dengan aturan. Kekebasan
yang tanpa batas, telah menjadi budaya dan kegemaran kaum muda. Melibas segala tatanan moral dan meluluh lantakkan pendidikan yang telah dibangun keluarga. Sekulerisme adalah suatu paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Paham ini telah menjadikan generasi muslim terjauhkan dari aturan Islam. Mendewakan kebebasan, hingga berujung pada kehancuran.

Agama tidak diberi ruang sedikitpun untuk mengatur segala sisi kehidupan kecuali urusan ibadah. Manusia harus diberi kebebasan untuk melakukan apapun “semau gue” tanpa dibatasi oleh “aturan yang mengikat”. Akibatnya generasi muda banyak yang terjerembab dalam lumpur nista yang penuh dosa. Konten porno dengan kemudahan aksesnya menjadi “guru” dalam membesarkannya. Tak ayal mereka berduyun-duyun untuk memraktikkannya.

Mengurai Benang Kusut Kemaksiatan

Tampaknya musibah yang melanda negeri secara bertubi-tubi, belumlah cukup untuk menjadi peringatan. Sehingga perilaku maksiat terus-menerus dipelihara. 

“Jika zina dan riba telah tersebar luas di suatu negeri, sungguh penduduk negeri itu telah menghalalkan bagi diri mereka sendiri azab Allah.” (HR. Hakim)

Untuk itu perlu adanya upaya untuk mencegah dan menyelesaikan persoalan ini, diantaranya:

Pertama: Keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak harus menjalankan fungsinya sebagai pendidik dan pembina anak. Orang tua harus menanamkan akidah sejak dini sebagai benteng pertahanan dari segala pemikiran dan budaya yang merusak. Memahamkan kepada anak tentang bahaya pergaulan bebas serta akibat yang ditimbulkannya. Tidak lupa selalu memberikan pengawasan terhadap perilaku
anak dan memposisikan dirinya sebagai teman curhat baginya supaya orang tua bisa mengontrol perilakunya.

Orang tua wajib pula mempersiapkan anak untuk menyongsong masa baligh dengan memahamkan bahwa kewajiban bagi seorang mukallaf adalah terikat dengan hukum Allah. Halal dan haram menjadi tolak ukur dalam perbuatan. Semua perbuatan akan dipertanggungjawabkan masing-masing. Sehingga mereka harus berhati-hati dalam melakukan segala sesuatu. Mereka harus mampu menjaga dirinya dari perkara-perkara yang mampu menjerumuskannya ke lembah dosa. 

“Hai orang-orang yang beriman jaagalah dirimu dan keluargamu dari sikasa api neraka…” (TQS. At-
Tahrim:6)

Kedua: Masyarakat wajib peduli dengan lingkungan sekitarnya. Tidak membiarkan lingkungannya terkotori dengan pergaulan bebas. Dengan menjalankan fungsi kontrol terhadap akhlak dan norma-norma kesopanan. Melakukan amar ma’ruf nahyi munkar terhadap segala bentuk kemaksiatan yang ada. Dan tidak menerima pergaulan bebas remaja sebagai suatu perbuatan yang wajar dan tidak berdosa.

“Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangan. Apabila tidak mampu hendaklah mengubahnya dengan lisan. Dan apabila tidak mampu hendaklah ia mengubahnya dengan hati. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Ketiga: Negara sebagai pimpinan tertinggi, harus berperan aktif dalam memelihara akidah dan akhlak
warga negara agar tidak tercemar dengan budaya asing yang menjerumuskan. Negara juga wajib memberlakukan sanki yang tegas terhadap para pelaku zina, produsen video porno serta penyebarnya.
Disamping itu Negara juga harus menerapkan hukum dan aturan yang sesuai dengan Islam serta tidak
memberikan akses terhadap konten-konten porno. Membatasi informasi dan teknologi hanya untuk menyebarkan pengetahuan yang bermanfaat dan menanamkan aqidah serta memblokir link-link yang
sesat dan menyesatkan.

Islam sebagai agama yang sempurna terbukti telah berhasil menciptakan manusia yang unggul, berprestasi dan bertaqwa. Sudah seharusnya negara mengambil Islam sebagai hukum dalam mengatasi segala persoalan yang melanda bangsa. Tak terkecuali problem remaja. Karena aturan Allah telah nyata mampu menghentikan kemaksiatan. Aturan yang berasal dari Allah Sang Maha segalanya. Tak perlu diragukan lagi. Apalagi sampai dipersekusi. Telah jelas kerusakan yang terjadi di muka bumi ini akibat kesalahan manusia bukan yang lain.

“Telah Nampak kerusakan di daratan dan di lautan, akibat ulah tangan-tangan manusia, supaya Allah
merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan
yang benar).” (TQS. Ar-Rumm: 41)[MO/dr]

Posting Komentar