Oleh : Rengganis Santika

Mediaoposisi.com-Istilah Radikalisme kini tengah mengalami penyempitan makna. Padahal kata radikal yang berasal dari bahasa latin berarti suatu yang mendasar, perubah. Jadi sesungguhnya mengandung makna positif. Saat ini kata radikalisme selain berkonotasi negatif juga sering diidentikan dengan islam, islam senantiasa terpojokan. 
Padahal faktanya kelompok-kelompok yang radikal tidak hanya dari kalangan muslim atau berbasis islam. 
Padahal tidak sedikit di dunia internasional kelompok atau ormas yang non muslim berhaluan sekuler juga radikal tepatnya ekstrim bahkan kriminal. Adapula di indonesia, kelompok yang mengaku pancasilais, demokratis juga melakukan tindakan-tindakan "radikal", brutal ditengah masyarakat. 
Dari tulisan ini saya berharap agar kita semua, bagian dari masyarakat bisa lebih objektif dalam melihat fakta.
Sekarang istilah radikalisme menjadi lebih sempit lagi dan menyasar kelompok masyarakat (muslim) yang justru berpikiran kritis terhadap keterpurukan yang terjadi di negri ini. Terutama dari lingkungan kampus termasuk kalangan intelektual, akademisi seperti para dosen dan mahasiswa, termasuk kini para guru dan pelajar pun bisa menjadi sasaran label radikal.  
Mereka yang menginginkan kondisi negara lebih baik dengan aturan terbaik dari zat yang maha sempurna Allah SWT, justru dianggap radikal dan mengancam eksistensi bangsa. 
Negara lewat arahan adidaya melancarkan War Of Terorism (WOT) kini menjadi lebih spesifik War Of Radicalism (WOR). Para pemangku negri sibuk melabeli radikalisme pada siapa saja yang tidak " pro" dengan kebijakan mereka. Sesuai peribahasa "buruk rupa kaca dibelah"
Sementara penguasa negri ini lupa bahwa borok-borok negri ini kian menganga dan berbau busuk. Korupsi masal para wakil rakyat, bahkan derita gempa lombok pun menjadi ladang cari untung para koruptor dan mereka yang haus pencitraan. 
Rupiah terpuruk, daya beli rakyat  sekarat, hutang negara yang fantastis. Buruknya layanan kesehatan akibat defisitnya BPJS padahal itu uang iuran rakyat sementara fasilitas kesehatan sejatinya hak rakyat dan negara wajib memenuhinya. Sampai-sampai kini ada istilah "merokok mengancam jiwa .... namun dapat menyehatkan BPJS" ya! Cukai rokok jadi penyelamat BPJS. 
Sekuat apapun negara mengelak dari realitas kemiskinan rakyat dengan memanipulasi data (BPS), tidak akan mampu menutupi bahwa tekanan hidup rakyat makin berat. 
Negri ini ibarat orang kampung yang sudah sakit  parah namun tetap saja bertahan tidak mau berobat karena kebodohannya, malah mengandalkan dukun (demokrasi, kapitalisme) karena merasa sudah biasa, hingga menunggu kematiannya.
Negara kini sudah kehilangan begitu banyak aset dan potensi bangsa. Kekayaan sumberdaya alam beralih pada swasta asing, sampai-sampai tak ada lagi aset kekayaan tersisa, dana hajipun dipakai, hutang negara jadi andalan, pajak rakyat digenjot habis-habisan. 
Sejatinya negara masih memiliki aset berharga potensi bangsa di masa depan, yaitu para pemuda khususnya dikalangan kampus. Mereka adalah sedikit dari puluhan juta pemuda negri yang beruntung mengenyam pendidikan tinggi. 
Mereka adalah orang yang masih bisa membaca dan melihat fakta dengan jernih dibungkus dengan semangat idealisme kritis. Dan diantara mereka ada yang menjadikan islam adalah solusi hakiki. Mereka hanya ingin membuat negri ini bangkit lebih baik. 
Ironisnya negara termasuk mentri nya (menristekdikti) alih-alih membangun dialog, dan diskusi sebagai wujud karakter kalangan terdidik, dengan para akademisi. Malah langsung "men-cap" kampus-kampus radikalisme. 
Padahal kampus yang di cap diantaranya adalah kampus-kampus terbaik aset bangsa. Sungguh ini adalah pembodohan publik, isu radikalisme hoax karena dibangun tanpa landasan data dan logika sehat. Bahkan tak ditunjang argumen yang kuat. Yang ada hanya memberangus ide-ide kritis anak muda.
Mari kita sejenak menengok ke belakang, dalam sejarah perjalanan Indonesia, dari mulai era kolonialisme, kemudian bergolaknya revolusi, disusul pergantian rezim dari orde lama ke orde baru, hingga jatuhnya rezim orde baru yang berkuasa selama kurang lebih 32 tahun, dipastikan selalu ada pemuda, pelajar dan mahasiswa yang menjadi pelaku penting sejarah tersebut. 
Itulah mengapa pemuda, pelajar dan Mahasiswa adalah "agen of change" atau agen perubahan. Mereka bergerak mewakili aspirasi rakyat, disaat negara, wakil rakyat, gagal merespon hak-hak rakyat. Para pemudalah, atau kaum intelektual muda seperti pelajar, dan mahasiswa yang menjadi jembatan aspirasi masyarakat. 

Realitas negri kita hari ini tengah mengalami keterpurukan diberbagai bidang. Bukan karena negri ini tak memiliki aset untuk mensejahterakan rakyatnya, namun justru negri ini memiliki potensi kekayaan yang nyaris sempurna. Hanya saja negri ini tidak dikelola sesuai kehendak sang pemilik bumi dan langit yaitu Alloh SWT. 
Walhasil hukum kapitalisme, demokrasi menjadikan negri ini berada dibawah kuasa rezim yang dzalim. Diantara suara para pemuda dan mahasiswa, ada yang lantang menolak sistem tak berkeadilan saat ini. 
Namun bukan suara kebencian pada sesama manusia apalagi ingin merusak negara mereka sendiri. Pemuda mahasiswa ini yang tersisa diantara jutaan pemuda lainnya yang jadi korban sistem tak beradab kini..mereka terhempas narkoba, pergaulan bebas, kemalasan berfikir, kehancuran keluarga-keluarga liberal.
Pemuda mahasiswa yang terlanjur dicap radikal ini, ingin semua elemen negri ini bersatu. Islam sebagai agama yang kaaffah (menyeluruh) mengharamkan perpecahan. 
Pemuda ini walau dipersekusi tetap meyakini dunia akan berubah karena janji Allah itu pasti, sementara janji manusia palsu (apalagi janji ketika kampanye dulu dan kini), PHP!! Mereka adalah generasi anak cucu  mush'ab bin umair, usamah bin zaid, muhammad al fatih, sholahuddin al ayubi.[MO/sr]

Posting Komentar