Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Sontoloyo adalah kata yang terucap saat seseorang merasa kecewa, marah dan tidak senang atas tindakan atau perbuatan seseorang yang melampaui batas.

Saat satu tujuan politik terhambat karena satu manuver lawan politiknya, terlontarlah satu kata yang tidak elegan, politik sontoloyo. Sungguh, politik ala demokrasi pada hakekatnya adalah sontoloyo.

Praktek kotor sudah biasa di alam demokrasi. Sungguh, mereka orang -orang sontoloyo yang tidak segan menggunakan cara kotor untuk mencapai  tujuan politiknya.

Di alam demokrasi tidak ada teman sejati yang ada hanyalah kepentingan abadi. Sontoloyo, dikhianati teman sudah biasa.Dicurangi adalah cara yang lumrah.

Memfitnah atau membunuh karakter lawan politik itu juga biasa. Menfitnah, mempersekusi pihak yang bersebrangan dan membahayakan seolah keharusan. Siapa saja yang dianggap membahayakan kedudukan politiknya disingkirkan.

Berbagai cara ditempuh agar karir politiknya lancar melenggang tanpa hambatan.

Cara hoaxpun ditempuh agar bisa memenangkan pertarungan politik untuk mempertahankan atau merebut kekuasaan.  Sandiwara politik dimainkan sehingga sulit menentukan antara lawan dan kawan.

Sontoloyo, cara-cara kotor dalam alam demokrasi itu biasa. Menghalalkan segala cara itu wajib. Sikut kanan sikut kiri itu biasa. Kalau tidak mencurangi, ya dicurangi. Itulah politik sontoloyo ala demokrasi. Bila perlu teman dikorbankan agar bisa melenggang menuju kursi kekuasaan.

Sontoloyo, politik juga mengintervensi proses hukum dan peradilan. Yang salah dibebaskan, sementara yang benar dikriminalkan. Keadilan hanyak milik orang yang berkuasa dan yang dekat dengan penguasa. Saksi dan bukti tidak lagi diperlukan jika itu tidak menguntungkan.


Sungguh berbeda dengan politik dalam pandangan Islam. Aktifitas politik untuk tujuan mengurusi urusan rakyat. Kekuasaan hanyalah cara agar bisa menerapkan hukum Islam sehingga rakyat bisa hidup sejahtera.

Sungguh, politik dalam Islam adalah aktifitas mulia sehingga hanya orang yang baik dan berkarakter mulia yang mau berpolitik dalam sistem Islam. Mereka hanya menggunakan cara baik saat berpolitik. Hoak atau bermain curang tidak dikenal dalam politik Islam.

Politik dalam Islam hanya menghasilkan orang-orang yang mulia yang perduli pada sesama. Hanya orang yang perduli dengan urusan umat saja yang akan terjun ke dunia politik. Politik bukan untuk kepenting pribadi tetapi kepentungan umat yang menjadi tujuan para politisi dalam sistem Islam.

Sementara dalam sistem demokrasi hanya orang-orang buruk dan haus kekuasaan yang akan terjun ke dunia politik praktis. Mereka yang baik tidak mau menerima sebuah tawaran kekuasaan kerena dia yang cerdas akan bisa melihat bahwa dua hanya akan dimanfaatkan saja.

Saat dia tidak lagi bermanfaat dan bisa mendongkrak popularitas dan perolehan suara umat, diapun akan dicampakkan. Itulah gambaran politik sontoloyo ala demokrasi. Sebaliknya, politik dalam pandangan Islam adalah mulia.[MO/gr]


Posting Komentar