Oleh : Sartika Yuniarti
Ibu Rumah Tangga

Mediaoposisi.com-Hati ini terusik, cemas tak terkira ketika melihat gelagat generasi zaman now yang semakin jauh dengan Rabb-Nya.

Ibu mana yang tak akan merasakan sakit hati, ketika anaknya yang didik dengan baik di rumah, ditanamkan pemahaman agama, tiba-tiba terseret oleh pergaulan bebas, saking derasnya pengaruh lingkungan luar.

Ya, pengaruh lingkungan luar begitu kuat mencengkram generasi saat ini, apalagi diperkuat dengan penyalahgunaan media digital yang semakin canggih.

Jika ngobrol dengan ibu-ibu tentang pergaulan bebas saat ini, ditanya tentang kadar kekhawatiran ketika memiliki anak laki-laki atau perempuan, apakah lebih khawatir ketika memiliki anak laki-laki atau perempuan, maka jawabannya ternyata sama saja kadar kekhawatirannya.

Sebagai contoh kasus, dahulu yang rawan jadi korban "pemerkosaan" adalah perempuan, sedangkan saat ini laki-laki pun rentan menjadi korban "pemerkosaan" ketika bergaul dengan orang-orang yang sakit "mental" (baca: LGBT), atau lingkungan sekitarnya ada yang memiliki penyakit tersebut.

Selain contoh real kasus diatas, masih banyak kasus-kasus pergaulan bebas yang melanda generasi saat ini. direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung Dwi Hafsah Handayani mengatakan, dirinya pernah melakukan survei ke apotek di sekitaran kampus dan kosan.

Dari hasil survei ditemukan, ternyata barang yang paling laris dibeli di apotek adalah kondom dan testpack (alat tes kehamilan). Bahkan diakuinya, ada kejadian di satu sekolah menengah pertama di Lampung, sebanyak 12 anak didiknya hamil.

Selain itu, kasus lain juga tak kalah mencengangkan. Dilansir dari pikiran-rakyat.com (3/10/2018), Komisi Perlindungan Anak Daerah Kabupaten Bekasi mendapatkan temuan terkait tindak asusila melalui grup aplikasi mengobrol, whatsapp (WA).

 Ironisnya, grup tersebut berisikan para siswa di satu sekolah menengah pertama di Cikarang Selatan. Selain tindak asusila, di grup yang berisikan 24 siswa dan siswi itu, para anggota saling berbagi video porno.

Dari video tersebut, para anggota saling mengajak untuk berhubungan badan. Selain hal yang berbau mesum, didapati percakapan ajakan untuk melakukan tawuran. Ada juga foto siswa yang memegang senjata tajam di dekat sekolah.

Nau'udzubillah. Itulah fakta real permasalahan generasi zaman now. Permasalahan pergaulan bebas yang semakin mengganas ini bak fenomena gunung es, yang tak kunjung selesai dan terpecahkan permasalahannya secara tuntas.

Hal ini tentunya ada andil dari penerapan sistem sekuler kapitalisik, dimana pada sistem ini menihilkan aturan Rabb-Nya, yang telah menciptakan manusia.

Ya, pada sistem ini, manusia yang memiliki banyak kekurangan dengan sombongnya membuat aturan sendiri untuk mengatur kehidupannya.

Di balik nama HAM dan ide kebebasan berperilaku, manusia bebas berperilaku sesuai keinginan hatinya. Jika hal ini dibiarkan secara terus-menerus, maka sama saja dengan mengundang azab dari Allah.

Allah SWT. berfirman yang artinya, “Dan peliharalah diri kalian dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian, dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfaal [8]: 25).

Imam Ibn Katsir menyatakan bahwa ayat ini merupakan peringatan dari Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman tentang fitnah, yaitu ujian dan bencana, yang tidak hanya dikhususkan bagi ahli maksiat dan pelaku dosa saja,

namun berlaku umum, terhadap orang yang melakukan kemaksiatan ataupun tidak. Hal ini terjadi karena orang-orang yang tidak melakukan perbuatan dosa tadi tidak berupaya mencegah dan menghentikan kemaksiatan para ahli maksiat.

Kita tentunya tidak boleh hanya berdiam diri saja melihat fakta ini. Harus dicari solusi yang benar-benar solutif dalam menyelesaikan permasalahan pergaulan bebas ini.

Solusi sistem sekuler tidak akan mampu menyelesaikan masalah pergaulan bebas secara tuntas, bahkan menyimpan bom waktu masalah yang siap meledak untuk menghancurkan peradaban manusia.

Islam sebagai agama yang sempurna, memiliki solusi tuntas dalam menyelamatkan generasi dari pergaulan bebas dan mengelola media untuk penanaman aqidah, ketaatan terhadap Islam, dan pencerdasan umat tentang Islam sebagai ideologi.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita kembali kepada fitrah manusia, yaitu sebagai hamba bagi Rabb-Nya dan berkewajiban untuk menerapkan kembali aturan yang telah dibuat oleh Allah, tuhan semesta alam.[MO/gr]




Posting Komentar