Oleh: Dwi Rahayuningsih, S.Si

Mediaoposisi.com-Karut marut perekonomian negeri ini menjadikan kondisi pemerintahan limbung. Utang negara semakin menggunung. Rupiah melemah di hadapan dollar AS. Perempuan sebagai bagian dari warga negara digadang-gadang mampu mendongkrak perekonomian Negara melalui Pemberdayaan Ekonomi Perempuan (PEP).

Dalam pertemuan tahunan (Annual Meeting) International Monetary Fund (IMF) dan Word Bank dimana salah satu acaranya adalah seminar bertajuk Empowering Women in the Workplace, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan perempuan sangat berperan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebuah negara (detikfinance.com, 9/10/2018). Menurutnya, yang harus ditingkatkan sebuah negara adalah partisipasi tenaga kerja perempuan, baik untuk perekonomian, untuk perempuan, dan untuk keluarganya.

Kapitalisme Menjerat Perempuan Menjadi Budak Materi

Racun berbalut madu. Itulah ungkapan yang cocok untuk Women empowering. Dengan terjun aktif
dalam bidang perekonomian taraf hidup perempuan akan meningkat. Perempuan tidak harus bergantung pada laki-laki untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Bahkan dengan bekerja, dapat membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Lebih jauh lagi, perempuan diharapkan ikut aktif dalam menggerakkan roda perekonomian negara.

Pemerintah sebagai pembuat kebijakan, telah membuat proyek besar pemberdayaan perempuan. Isu ini diangkat dalam kancah internasional. Artinya mega proyek ini melibatkan seluruh perempuan di dunia, khususnya negara-negara berkembang. Sebagai wujud kepedulian pemerintah terhadap nasib perempuan supaya bisa sejajar dengan laki-laki. Hal ini sejalan dengan tuntutan kaum feminis yang meminta supaya perempuan diberikan hak yang sama dengan laki-laki di sektor publik.

Terlepas dari hal itu, sejatinya perempuan adalah makhluk sosial yang sangat tangguh. Ia mampu bekerja keras dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab. Sehingga wajar jika perempuan diberikan porsi yang sangat besar dalam mengembangkan ekonomi negara. Sifat alami perempuan yang mudah silau dengan materi, dimanfaatkan untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah. Wajar jika saat ini banyak perusahaan maupun lapangan kerja yang lebih mendahulukan kaum Hawa dibanding kaum Adam. Selain penurut, pekerja perempuan lebih murah dari pada laki-laki.

Kapitalisme telah memperalat perempuan menjadi budak materi. Perempuan sengaja digiring untuk menjadi pelaku ekonomi dengan segala bentuknya. Sebagai pekerja, produsen, sekaligus sebagai konsumen. Empowering mowen hanyalah topeng untuk menutup wajah asli kapitalisme di negeri ini.
Dengan modus PEP, kapitalis akan lebih dalam menancapkan kuku-kukunya di Indonesia dan negeri-
negeri muslim lainnya. Menjerat perempuan atas nama pemberdayaan dan kesetaraan. Memaksa kaum ibu untuk keluar dari tempat aslinya.

Sayangnya, perempuan yang dibidik untuk menjadi sasaran kapitalisme ini menerima dengan senang hati. Mereka rela mengorbankan keluarganya demi mendapatkan pekerjaan. Merelakan dirinya menjadi tumbal kapitalis yang menyengsarakan. Meninggalkan anak-anaknya dalam pengasuhan orang lain dan tanpa pengawasan. Mandiri secara financial menjadi cita-cita hidupnya. Akibatnya negara kehilangan generasi berkualitas karena anak-anak ditinggalkan oleh ibunya. Mereka tumbuh dan berkembang dengan lingkungan bebas tanpa bimbingan orang tua, terutama ibu.

Mengembalikan Fitrah Perempuan

Islam menempatkan posisi perempuan sejajar dengan laki-laki. Bukan di bawah sebagai pihak nomor
dua. Keberadaan perempuan untuk membersamai perjuangan laki-laki dalam mengarungi biduk rumah tangga supaya menjadi keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah. Tentunya hal ini sesuai dengan perannya masing-masing. laki-laki sebagai pencari nafkah bagi dirinya dan keluarga. Sementara perempuan (istri) sebagai pendamping suami sekaligus pendidik anak-anak. Perempuan telah diciptakan Allah dengan segala fitrah dan tanggung jawabnya. Menjadi ummun wa rabbatul bayt adalah tugas pokok perempuan. Dengan menempatkan perempuan pada posisi alaminya, maka negara tidak akan kehilangan generasi penerus.

Mencukupi kebutuhan keluarga di dalam Islam adalah tanggung jawab laki-laki. Hal ini bukanlah hal
istimewa yang harus dicemburui oleh kaum Hawa. Dan apabila suami tidak mampu memenuhi kebutuhan istri dan keluarganya, maka tanggung jawab ini juga berlaku bagi kerabatnya. Sehingga perempuan tidak perlu disibukkan dengan urusan ekonomi yang akan melalaikan tanggung jawabnya
sebagai ibu pencetak generasi.

Namun apabila perempuan tidak memiliki kerabat, maka negara wajib menanggung keuangannya serta melindungi dirinya dari segala ancaman yang mengganggu kehormatannya, serta memastikan standar hidup yang layak baginya. Sehingga perempuan tidak akan dipusingkan dengan urusan finansial yang akan menjerumuskan dirinya dalam jurang kenistaan. Hal ini sesuai dengan sabda rasulullah SAW,
“Barangsiapa (mati) meninggalkan harta, maka hartanya itu untuk ahli warisnya dan barangsiapa
meninggalkan keluarga yang miskin, maka menjadi tanggungan kami.” (HR. Bukhari)

Dengan demikian, perempuan akan tetap berada pada peran dan posisinya. Tidak meninggalkan fitrahnya sebagai Ibu pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. Pencetak generasi pembangun
peradaban, yang akan mengembalikan kejayaan Islam. Wallahu a’lam bish-shawab.[MO/dr]

Posting Komentar