Oleh : Sri Anggriani Madanua 
(Mahasiswi UHO)

Mediaoposisi.com- Kekerasan diartikan sebagai tindakan agresi dan pelanggaran (penyiksaan, pemukulan, pemerkosaan, dan lain-lain) atau dimaksudkan menyebabkan penderitaan atau menyakiti orang lain.

Kembali, perilaku kekerasan terhadap perempuan semakin meningkat dikota bertakwa. Rumpun perempuan Sultra (RPS) kembali membangun koordinasi dengan pemerintah untuk layanan korban kekerasan dan sosialisasi, seperti yang diungkapkan Koordinator Program Rumpun perempuan Sultra mengatakan “Kekerasan perempuan dalam undang-undang no. 23 tahun 2004 didefinisikan sebagai setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan."(Rakyat Sultra/18/09/2018).

Perempuan dalam Kekerasan: Lemahnya Penjagaan dari Negara
Perempuan kerap  diidentikkan dengan kelemahan dan ketidakberdayaan termasuk dalam hal menjaga dirinya sendiri.  Tidak mengherankan jika perempuan menjadi sasaran empuk dalam perilaku kekerasan.

Pada bulan Agustus 2018 tercatat ada 28 kasus terdiri dari 19 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 9 kasus kekerasan terhadap anak (penasultra.com. 12/09/2018) dengan menempatkan daerah Konawe sebagai daerah tertinggi dalam kasus kekerasan perempuan dan anak.

Perilaku kekerasan ini bahkan  tiap tahun mengalami peningkatan disamping itu ada banyak kasus lain yang terjadi. Tetapi tidak tercatat, karena masyarakat memilih untuk menyembunyikan dengan dalih sebagai permasalahan keluarga.

Penyebab terjadinya  kekerasan didominasi oleh faktor ekonomi yang lebih banyak dialami masyarakat menengah kebawah dan penggunaan media sosial yang berbau pornografi atau dampak penyalahgunaan yang berbau pornografi (Republikaco.id/18/01/2018), serta adanya tindakan pemerkosaan adalah satu dari kesekian faktor tindak kekerasan terhadap perempuan.

Melihat fakta yang ada, keamanan yang dijamin oleh Negara hanya sekedar menjadi jaminan tanpa adanya tindakan lanjut untuk menghentikan kasus kekerasan yang lajunya semakin meninggi tiap tahun. Pun begitu juga hukuman yang dijatuhi para pelaku tindak kekerasan tidak memberikan efek jera sehingga para pelaku merasa aman dengan perbuatannya.

Demokrasi-Liberalisme sebagai pengusung kekebasan dari semua batasan yang ada dalam hal kepribadian telah menghantarkan manusia bebas melakukan apa saja termasuk melakukan tindakan kekerasan terhadap sesama manusia.

Islam: Menjaga dan Menghormati Wanita
Islam memosisikan perempuan sebagai kehormatan yang wajib dijaga. Islam memberi perhatian besar terhadap status perempuan sejak mereka kecil. Rasulullah saw bersabda:
Janganlah kalian membenci anak-anak perempuan karena mereka adalah penghibur (hati) yang amat berharga" (HR Ahmad dan ath-Thabarani).

Dalam Daulah Islam untuk melaksanakan perannya dalam menjaga kehormatan seorang perempuan adalah sebagai berikut :

Pertama, Negara akan menerapkan syariah Islam yang dengan tegas menjaga kehormatan seorang perempuan.

Salah satu aturannya adalah keharusan meminta izin ketika memasuki kehidupan khusus orang lain agar perempuan yang ada didalamnya boleh melepas jilbab dan tidak terlihat auratnya oleh laki-laki yang bukan mahramnya.

Kedua, Negara akan menjaga keamanan bagi perempuan baik didalam rumahnya maupun diluar rumahnya, juga akan memberlakukan hukum cambuk dan rajam bagi pezina dan hukum tazir (berupa denda, cambuk, atau kurungan) bagi pelaku khalwat, pelecehan, dan lain sebagainya. Hukum-hukum tersebut akan menjamin keamanan, kehormatan, dan kemuliaan perempuan.

Ketiga, Negara akan menguasai media massa sehingga tayangan-tayangan seperti pornografi-pornoaksi ataupun bersifat kekerasan akan ditiadakan karena tayangan tersebut akan menumbuhkan kemaksiatan ditengah-tengah masyarakat yang berakibat pada pelanggaran kehormatan perempuan.

Demikianlah Islam dengan hukum-hukum syariahnya yang diterapkan sedemikian rupa untuk menjaga dan melindungi perempuan, penjagaan kehormatan oleh daulah Islam telah banyak dibuktikan salah satunya dalam sejarah Pada zaman Nabi saw, seorang muslimah berbelanja di pasar Bani Qainuqa.

Seorang Yahudi mengikat ujung pakaiannya sehingga ketika berdiri aurat perempuan tersebut tersingkap diiringi oleh tertawaan orang-orang Yahudi disekitarnya. Perempuan tersebut berteriak kemudian salah seorang Sahabat datang menolong dan membunuh pelakunya.

Namun kemudian, orang-orang Yahudi  menyerang dan membunuh Sahabat tersebut. Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah saw beliau mengumpulkan tentaranya. Pasukan Rasulullah saw mengepung mereka dalam jarak yang dekat selama 15 hari hingga akhirnya Bani Qainuqa menyerah karena ketakutan.

Seperti itulah, Islam yang menempatkan perempuan dan memberi mereka perhatian dan penjagaan dengan cara memenuhi hak-hak mereka sesuai dengan hukum syariah. Sungguh menerapkan Islam dalam kehidupan maka kemuliaan perempuan akan selalu dilindungi dan dijaga kehormatannya.[MO/sr]


Posting Komentar