Oleh : Yusriani Rini Lapeo, S. Pd
(Pemerhati Sosial)

Mediaoposisi.com-Dalam pertemuan pemerintah dengan IMF di Bali baru-baru ini, pemerintah membahas tentang krisis moneter yang tengah menimpa Indonesia di tahun 2018 ini.

Krisis multidimensi yang tengah terjadi memberi dampak negatif bagi seluruh sektor. Pasalnya, akibat dari krisis tersebut, Indonesia harus berusaha mengeluarkan diri dari ketergantungannya pada bantuan IMF dan lembaga keuangan dunia lainnya guna memulihkan keadaan ekonomi negara.

Sebagai konsekuensi dari ketergantungan tersebut, pemerintah harus rela melakukan syarat-syarat yang diajukan IMF. Tidak hanya itu, pemerintah pun turut menyeret keberadaan kaum hawa sebagai salah satu penghasil devisa, dalam hal ini pemberdayaan kaum wanita dalam bidang ekonomi.

Mengutip pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang menyebutkan, “Yang pertama harus dipahami dari sebuah negara itu harus ditingkatkan partisipasi tenaga kerja perempuan, baik untuk perekonomian, untuk perempuan dan untuk keluarganya".

Hal tersebut dilontarkan dalam seminar Empowering Women in the Workplace, di Hotel Westin, Bali, Selasa (09/10/2018).

Dirinya berpendapat bahwa perempuan sangat berperan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di sebuah negara. Karena itu peran perempuan dalam sebuah pekerjaan harus ditingkatkan.

Selain Sri Mulyani dan  Director IMF Christine Lagarde, ada beberapa pembicara ternama yang menekankan pentingnya peran wanita dalam pembangunan ekonomi.

Intinya, mereka mendorong Internasional Monetary Fund (IMF) dan World Bank (WB) agar turut menyokong peran perempuan dalam kegiatan ekonomi.

Kapitalis Memandang Perempuan

Dalam pertemuan bergengsi dengan IMF-WB di Bali, dibicarakan pentingnya peran perempuan dalam dunia kerja dan pertumbuhan ekonomi di negaranya.

Memprihatinkan, saat seminar, Sri Mulyani sempat menantang Lagarde untuk mengkaji usulannya yakni kegiatan perempuan dalam mengurus rumah tangga seperti mengasuh anak agar dimasukkan dalam komponen produk domestik bruto (PDB).

Ia menyebutkan kegiatan ini memiliki nilai yang tinggi.

Tak mengherankan, dalam pandangan kapitalisme, uang dan keuntungan adalah segalanya, Bahkan telah menjadi tujuan hidup para penyongsongnya.

Para feminis, menjadikan  keberhasilan dan kesuksesan bagi wanita sebagai tolak ukur. Sebagai contoh, para feminis mengatakan seorang wanita bisa dikatakan berhasil dan sukses.

Jika mereka bisa menghasilkan uang, mempunyai kedudukan tinggi, mempunyai posisi yang tinggi, dan kuat secara fisik sebagaimana seorang laki-laki.

Pandangan tersebut juga melahirkan paradigma bahwa bukan hanya laki-laki saja yang mampu bekerja dan menghasilkan uang. Wanita pun bisa. Alhasil, tugas utama seorang wanita sebagai ibu hanya dianggap sebagai fatamorgana.

Mereka menganggap bahwa seorang ibu cukup hanya dengan menjadi ibu yang baik dan mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Bahkan, tak jarang seorang ibu menitipkan anaknya kepada pengasuh, tanpa memahami bahwa tanggung jawab seorang ibu terhadap anak-anaknya.

Pandangan kaum feminis yang ingin menyamakan pria dan wanita dalam semua hal adalah paaradigma yang keliru. Mereka telah gagal memahami bahwa seorang wanitapun derajatnya sangat tinggi, tanpa harus bekerja dan menyamai peran suami sebagai kepala rumah tangga.

Terlebih, Women empowering adalah kedok mengokohkan hegemoni kapitalisme. Dimana, perempuan digiring menjadi pemutar roda industri kapitalis sekaligus target pasar; perempuan dijauhkan dari peran politik dan strategisnya sebagai ibu generasi pencetak peradaban Islam.

Para wanita didorong untuk turut bekerja dengan konsep “perempuan harus maju”. Tetapi bukan maju dari peran politik dan pencetak generasi peradaban Islam, melainkan menjadi tumbal atas utang luar negeri.

Kerusakan rumah tangga merupakan akibat langsung dari “kemajuan” ini. Pada tahun 1994, sebanyak 1,2 juta perceraian terjadi di Amerika Serikat.

Para ahli memprediksi bahwa setengah dari seluruh perkawinan baru akan berakhir dengan perceraian. Sebuah sistem yang tidak adil hanyalah mengubah bentuk-bentuk eksploitasi.

Mereka tak dapat memperbaiki maalah-masalah di dalam rumah. Karena itulah mereka “membebaskan” para wanita dari rumah.

Logika jungkir balik terjadi di sini. Ketika seorang wanita melayani suami dan mengurus anak di rumah dianggap sebagai perbudakan. Sedangkan bekerja di luar rumah, seperti menjadi pembantu rumah tangga dianggap sebagai emansipasi.

Hal inilah, yang dapat menghambat  muslimah dalam menyongsong kebangkitan. Mengapa? Karena seorang ibu seharusnya bertanggung jawab atas anak-anaknya serta menjadi madrasah pertama di rumah bagi anak-anaknya.

Wanita dan Kemuliaan

Salah satu kekuasaan Allah ialah menciptakan pria dan wanita dengan hak dan kewajiban yang sama. Salah satu kewajiban tersebut adalah mereka sama-sama wajib memenuhi ibadah kepada Allah Swt,

sama-sama wajib untuk mencintai Allah dan rasul-Nya lebih daripada yang lainnya, serta sama-sama wajib dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Di sisi lain, perempuan dalam Islam memiliki hak kepemilikan, juga warisan. Ia pun memiliki hak-hak dalam pernikahannya sebagaimana suaminya.

Jauh dari ketidakdewasaannya yang digambarkan oleh Barat, ia bertanggungjawab atas manajemen yang efektif di rumahnya dan membesarkan anak-anaknya. Hal itu merupakan suatu pekerjaan yang sangat mulia.

Terlebih, kebaikan seorang suami dinilai dari perlakuannya yang baik pada istrinya. Untuk membesarkan seorang anak perempuan dengan penuh kasih sayang merupakan jaminan bagi ayahnya agar terhindar dari api neraka.

Nah, sementara model feminis bergantung pada friksi, relasi yang dibangun dalam Islam merupakan relasi yang berlandaskan pada cinta dan penghormatan, serta memandu pada kedamaian dan keharmonisan. Inilah emas yang sesungguhnya.

Mengapa ada saja yang mau menukarnya dengan serpihan logam berkilau yang tak berharga?

Ketika seorang muslimah benar-benar menginginkan kebangkitan Islam, maka perannya dalam menyongsong kebangkitan sangat dibutuhkan.

Peran tersebut di antaranya, pertama, menjadi panutan bagi kaum dan lingkungan tempat tinggalnya. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.

Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”(TQS an-Nahl:125).

Kedua, menjadi shahabat bagi suaminya. Banyak sekali hadits yang mengabarkan tentang pentingnya peran wanita dalam rumah tangga, khususnya perannya menjadi shahabat bagi suaminya.

Hal ini berarti bahwa wanita yang telah dan akan menjadi istri sangatlah besar pengaruhnya pada aktivitas sang suami.

“Ingatlah, aku telah memberitahu kalian tentang istri-istri kalian yang akan menjadi penduduk surga, yaitu yang penyayang, banyak anak, dan banyak memberikan manfaat kepada suaminya;

yang jika ia menyakiti suaminya atau disakiti, ia akan segera datang hingga berada di pelukan suaminya, kemudian berkata,

”Demi Allah, aku tidak bisa memejamkan mata hingga engkau meridhaiku” (HR Baihaqi).


Ketiga, menjadi teman bagi anak-anaknya. Kata-kata ”wanita adalah tiang suatu negara” tampaknya bukanlah sesuatu yang berlebihan, bahkan bisa menjadi ”wanita adalah tiang peradaban”.

Banyak sekali hadits yang mengabarkan keutamaan wanita. Ini bisa dilihat pada fungsi seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya. Anak adalah cerminan orangtua, seorang anak yang besar biasanya lahir dari keluarga yang baik.

Dan ibu memegang peranan yang sangat penting dalam pengajaran ini. Oleh Allah swt. seorang ibu telah ditempatkan pada kemuliaan yang sangat tinggi menyangkut masalah pendidikan anak. Itulah mengapa tolak ukur seorang anak ditentukan dari ibunya.

Walhasil, peran seorang muslimah dalam menyongsong kebangkitan umat sangatlah diperlukan. Bukan sebagai alat pemberdayaan ekonomi perempuan, melainkan sebagai pengatur urusan rumah dan pendidik generasi peradaban.[MO/gr]

Posting Komentar