Oleh: Eva Yulia

Mediaoposisi.com-  NEW YORK - Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi, mengatakan peningkatan jumlah perempuan dalam pasukan penjaga perdamaian di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait dengan misi di negara konflik atau pascakonflik menjadi isu deklarasi politik.
Saat ini jumlah perempuan dalam pasukan perdamaian masih sangat sedikit, sekitar 3 persen dari total pasukan yang ada,” kata Menlu Retno saat menghadiri KTT Perdamaian Dunia di New York, Amerika Serikat, Senin (24/9).

Peningkatan peran pasukan berjenis kelamin perempuan tersebut menjadi salah satu tema untuk deklarasi politik dalam KTT Perdamaian Dunia yang digelar PBB guna memperingati ulang tahun ke-100 Nelson Mandela,” imbuh Menlu RI.

Disampaikan oleh Menlu RI bahwa korban dari setiap konflik dan pascakonflik sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak. “Secara tradisi mereka (perempuan korban konflik) lebih nyaman berhubungan dengan perempuan,” ungkap dia.

Kali ini lagi-lagi perempuan yang menjadi sasaran, perempuan dianggap menjadi alasan damai atau tidaknya suatu negara. Kapitalis menjadikan perempuan sebagai objek baru untuk dimanfaatkan baik itu dalam masalah ekonomi maupun tenaga. Perempuan dimanfaatkan untuk memasarkan produk kapitalis baik itu dibidang agama, politik, dan budaya hingga semua produk perempuan yang dijadikan bahan pameran dalam semua bidang.

Banyak perempuan yang tidak sadar bahwa mereka hanya dimanfaatkan dengan iming-iming kecantikan, tren, dan fashion. Menjadikan perempuan lupa dengan kodratnya dan melupakan apa tujuan Allah menciptakannya.

Banyak perempuan yang mengira bahwa dirinya adalah kaum yang diciptakan untuk dinikmati. Kapitalis menjadikan perempuan lebih mengutamakan kecantikan serta keindahan tubuh, karena dengan hal dengan demikian perempuan-perempuan bisa mendapatkan pekerjaan dan menjadi perhatian banyak orang.

Ironisnya, banyak yang tidak menyadari permainan kapitalis ini, bahkan banyak perempuan yang terbawa kenikmatan dalam lingkaran setan kapitalis yang menindas. Hal ini terjadi karena sistem kapitalis sudah melekat pada diri setiap perempuan baik itu dalam pendidikan orangtua bahkan hingga pendidikan sekolah.

Namun perempuan dalam Islam sangat dijaga kehormatannya dan dimuliakan. Islam memerintahkan manusia untuk menghormati ibu (perempuan) tiga kali lebih dulu dibandingkan ayah. Dari hal itu bisa disimpulkan betapa mulianya perempuan, namun banyak perempuan yang menyepelekan hal itu dalam sistem demokrasi ini.

Perlindungan dan penjagaan kehormatan perempuan bahkan rakyat secara keseluruhan oleh Negara Khilafah telah banyak dibuktikan dalam sejarah pemerintahan Islam. Dengan diterapkannya seluruh aturan Islam bagi seluruh rakyat khilafah, maka umat akan terjamin.

Perlindungan khilafah terhadap kaum perempuan telah menorehkan tinta emas dalam sejarah yang tidak akan terlupakan sepanjang zaman. Tidak dijumpai pada masa Khilafah yang berjalan selama 130 abad lamanya tindak kekerasan dan pelecehan kepada perempuan.[MO/sr]

Posting Komentar