Oleh: Dwi Rahayuningsih, S.Si

Mediaoposisi.com-Tidak cukup dengan menghadang laju dakwah kaum muslimin, tangan-tangan jahil berani membakar bendera tuhid bertuliskan “Laa ilaha illallah Muhammadarrsulullah”.

Atas nama membela Negara dengan menyanyikan lagu hubbul wathan minal iman, mereka berani menghinakan simbol-simbol Islam.

Lebih dari sekadar simbol, karena kalimat tauhid adalah kalimat sakral yang diagungkan oleh setiap muslim. Bahkan kaum muslim rela mati demi menjaga dan membela tegaknya kalimat ini.

Sayangnya, pemuda muslim yang mengaku pembela negara telah mencederai keagungan kalimat ini. Tidakkah mereka belajar dari sejarah yang membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah atas berkat Rahmat Allah SWT?

Seolah mereka lupa bagaimana perjuangan para ulama dalam mengusir penjajah dari negeri nusantara ini.

Telah nyata kebencian mereka terhadap kebangkitan Islam. Berbagai macam cara dilakukan untuk menghancurkan Islam. Sungguh Allah sebaik-baik pembuat makar.

Melalui tangan mereka sendiri, Allah telah menyingkap apa yang ada dalam dada-dada mereka. Mulut mereka bersenandung cinta tanah air. Namun perbuatan mereka menggambarkan sebaliknya.

“…Sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat lagi…” (QS. Ali-Imran: 118)

Inikah Islam nusantara yang mereka dengungkan dan perjuangkan selama ini. Islam yang katanya sangat toleran dan menjaga persatuan, nyatanya justru memecah belah umat dan radikal.

Mereka menuduh para pejuang Islam dengan radikal, faktanya mereka sendiri yang lebih brutal. Apa yang mereka lakukan saat ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Abu Lahab dan istrinya.
Apakah itu yang diinginkan?

Dibinasakan Allah sebagaimana Abu Lahab dibinasakan? Wahai para pembakar bendera tauhid, kalian adalah muslim. Kalian adalah saudara kami. Tidakkah kalian takut akan azab Allah di akherat kelak?

Marilah kita bersama berjuang, bergandengan tangan mengembalikan kemuliaan dan kejayaan Islam. Bukan sebaliknya, menjadi kacung para penjajah yang memecah belah.

Sungguh, seandainya kalian tahu betapa agungnya kalimat tauhid yang kalian hinakan itu. Mengagungkan kalimat tauhid adalah bukti ketakwaan, lalu membakarnya sebagai bukti apa?

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

Wajar saja jika kaum muslimin marah melihat perbuatan keji ini. Karena kemarahan umat telah digerakkan oleh iman. Perjuangan umat untuk membelanya juga karena iman.

Karena simpul iman yang paling kuat adalah cinta dan marah karena Allah. sebagaimana sabda Rasulullah:

“Simpul ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah, dan marah karena Allah.” (HR. Ahmad dan al-Hakim)

So, meski sama-sama berjuang jadilah pejuang Islam yang benar. Pejuang yang membela dan memperjuangkan tegaknya kalimat tauhid di muka bumi ini, bukan penghalang dakwah sebagaimana Abu lahab. [MO/gr]

Posting Komentar