Oleh : Trisnawaty A
(Peserta Kongres Mahasiswa Islam Indonesia, Jakarta 2009&Peserta Aksi Bela Islam 299 dari Makassar)
Mediaoposisi.com-Potensi dan Pergerakan Pemuda “Beri aku seribu orangtua niscaya  akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku sepuluh orang  pemuda niscaya akan kuguncang dunia”. Kalimat ini keluar dari  presiden pertama Republik Indonesia  Soekarno.

Yang memberikan gambaran akan kedahsyatan pemuda sebagai agen of change. Pemuda dalam bahasa Indonesia berarti orang yang masih muda  atau belum sampai setengah umur dan terkadang diartikan sebagai  belum cukup umur.

Dalam bahasa Arab, kata pemuda sama dengan kata syābb atau fatā. Syābb berarti anak muda yang telah mencapai usia akil baligh dan belum memasuki usia dewasa. Fatā berarti pemuda yang telah menapaki masa mudanya namun belum dewasa.

Maka apa yang disampaikan oleh Soekarno   bukan sesuatu yang berlebihan jika yang dimaksud

adalah pemuda yang berkualitas, yang matang, baik secara jasmani, perasaan maupun akalnya,

sehingga  wajar jika pemuda-mahasiswa  memiliki potensi yang besar dibandingkan dengan kelompok yang lain.

Berbagai perubahan di negeri ini lahir dari pergerakan yang dilakukan oleh pemuda-mahasiswa.

Secara overview, gerakan mahasiswa dapat dibagi menjadi 4 fase besar dari tinjauan sejarah Indonesia. Yang pertama pergerakan nasional (1900-1945),

yang kedua periode lama (1945-1965), yang ketiga periode orde baru (1965-1998) dan yang terakhir adalah periode reformasi (1999-sekarang).

Pemuda Harapan Umat


 Kepekaan dengan daya kritis yang tinggi terhadap persoalan yang pelik menjadikan pemuda  tumpuan harapan umat,

baik buruknya nasib umat sangat tergantung pada pemuda hari ini.

Pergerakan yang dilakukan pemuda-mahasiswa telah dilakukan sejak 1970 dengan melancarkan kritikan dan koreksi

terhadap pemerintahan pada rezim orde baru, peranan pemuda mahasiswa dalam lahirnya reformasi 1998.

Era reformasi (Era Pasca Orde Baru) dimulai pada pertengahan 1998, saat presiden Soeharto mengundurkan diri dan digantikan wakil presiden Badaruddin Jusuf  Habibie.

Sejak orde reformasi mahasiswa kembali bebas mengekspresikan dirinya sebagai agen kontrol dan agen perubahan.

Berbagai persoalan yang terjadi didepan mata mulai dari kenaikan BBM, kenaikan TDL, persoalan import, kemiskinan, pendidikan tak layak, korupsi  dan berbagai kezaliman lainnya mendorong  pemuda mencoba mencari solusi akar persoalan yang melanda, mereka meraba dan terus meraba.

Namun sayang, berbagai pergerakan yang dilakukan oleh pemuda hingga hari ini untuk melepaskan umat dari tirani kezaliman masih terus terkunkung dan  terpenjara dalam kezaliman.

Fenomena  ini terjadi,  karena mereka masih  mengambil solusi dengan  berpijak pada demokrasi yang berasal yunani kuno justru mandul. Demokrasi sebagai government of the people, by the people, for the people yakni pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, jauh panggang dari api!.

Demokrasi yang tampak berhasil di negeri maju sejatinya menyimpan bom waktu yang akan meledak pada masa depan di negeri mereka sendiri, pasalnya mereka tampak ‘makmur’ bukan karena mereka menerapkan sistem demokrasi,

namun sesungguhnya porsi besar penunjang kemakmuran mereka adalah dengan neo-imprealisme atas negara lainnya.

Bangkit hanya dengan Islam

Kegagalan dalam memahami akar persoalan dengan menjadikan demokrasi sebagai jalan perubahan, maka tidak ada pilihan lain kecuali  menjadikan islam

sebagai solusi satu-satunya untuk perubahan menuju kebangkitan yang hakiki, karena  islam bukan hanya sekedar agama tetapi juga  sebagai problem solving .

Teladan terbaik adalah mengikuti metode perubahan yang dilakukan Rasulullaah SAW

di Makkah yaitu dengan melakukan ta’lim dan tatsqif di rumah sahabat Arqam bin Abi Arqam, yang hadir diantara mereka  adalah para pemuda.

Para sahabat yang telah matang dari segi aqidah dan kepribadian islam serta tsaqafah islamiyah disatukan dalam sebuah kutlah(kelompok) yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW untuk  melakukan interaksi ditengah- tengah masyarakat dalam rangka mengubah sistem tatanan sosial

masyarakat kafir qurays pada saat itu, disamping itu Rasulullah SAW melakukan thalabun nushroh. Contoh terbaik pemuda  yang telah tercatat dalam sejarah adalah Ali bin Abi Thalib R.A yang menggantikan Rasulullah SAW diatas tempat tidur beliau pada saat hijrah ke Madinah.

Mushab bin Umair pemuda yang dijuluki Almuqarri sebagai utusan Rasulullah SAW ke Madinah selama satu tahun telah berhasil menjadikan islam buah bibir di masyarakat Madinah.

Maka pemuda adalah pelopor kebangkitan umat pelanjut estafet dan pemimpin masa depan menuju kebangkitan yang hakiki dengan kembali kepada islam yaitu mengikuti metode perubahan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah kagum kepada seorang pemuda yang berjiwa lurus.” (HR. Ahmad). [MO/gr]

Posting Komentar