Oleh: Ropi Marlina, SE., M.E.Sy.

Mediaoposisi.com- Perempuan memiliki peran besar dalam perubahan, terutama dalam masalah ekonomi. Banyak program yang diluncurkan Barat sebagai upaya untuk pemberdayaan perempuan. Di Era Revolusi Industri 4.0 sekarang ini, program mempekerjakan perempuan kian gencar. 

Revolusi Industri 4.0 (Industry Revolution 4.0) merupakan perkembangan teknologi yang terjadi secara eksponensial, sehingga terwujud performa mutakhir industri seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI), robotisasi, otomatisasi dan digitalisasi.

Dalam sistem Kapitalis, perempuan dijadikan sasaran yang paling empuk untuk mendongkrak pundi-pundi uang dalam menghasilkan pendapatan negara. Perempuan dituntut berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi, dimana posisi perempuan disejajarkan dengan laki-laki yakni, sebagai pencari nafkah.

Mereka harus bekerja siang malam tanpa henti, seolah-olah merasa wajib melakukannya. Mereka dibuat merasa bersalah jika tidak aktif bekerja. melihat potensi perempuan yang luar biasa menggiurkan, seperti yang terjadi di Indonesia, saat ini 63 % dari 5 juta pelaku ekonomi didominasi perempuan.

Pada Sidang Umum ke-35 International Council of Women (ICW) serta Temu Nasional Seribu Organisasi Perempuan Indonesia di Yogyakarta 13 – 14 September 2018 menjadi momentum untuk ‘mengawinkan’ pemberdayaan perempuan dan ekonomi digital.

Pemberdayaan perempuan semakin gencar bahkan disambut dengan antusias, adanya banyak bantuan untuk memberdayakan perempuan, baik dari pemerintah maupun LSM dengan berbagai pelatihan mulai menjahit, memasak, membordir, membuat panganan dan bahkan ada juga pengorganisasian pengusaha perempuan.

Namun apakah pogram pemberdayaan perempuan ini mampu mewujudkan pertumbuhan ekonomi?
Pertumbuhan ekonomi memang akan dirasakan bagi kalangan perempuan yang punya akses akan semua itu. Tetapi tidak bagi perempuan miskin yang tidak punya akses. Hal yang sama terjadi, sebagaimana laki-laki.

Itulah tipikal gambaran kehidupan dalam peradaban kapitalis sekuler-barat. Pertumbuhan yang terjadi pun tidak akan pernah melejitkan ekonomi negara. Karena rakyat hanya berebut remah-remah, sisa dari akses ke sumber daya dan pasar yang sudah dikuasai  korporasi barat. Pada akhirnya, semua slogan dan narasi pemberdayaan perempuan dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi adalah pepesan kosong yang tidak akan pernah terwujud.

Satu-satunya harapan adalah kembali pada aturan Islam. Terbukti pada saat Peradaban Khilafah Islam yang pernah berjaya selama 13 abad, perempuan berkontribusi di berbagai sektor yang bermanfaat bagi masyarakat, dan memprioritaskan waktu berharganya untuk pembentukan generasi berkualitas, tanpa dipusingkan bagaimana memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan.

Karena kewajiban mencari nafkah dalam memenuhi semua kebutuhan pokok adalah tanggungjawab laki-laki. Negara pun berperan dalam membuka akses dunia kerja sampai tidak ada pengangguran. Negara juga diberi tanggung jawab memenuhi kebutuhan massal yang membutuhkan pembiayaan besar, pendidikan, kesehatan, keamanan dari keuangan negara Baitul Mal. 

Hanya dengan penerapan Islam kaffah semua permasalah perempuan akan bisa teratasi hingga terwujudlah kesejahteraan bagi perempuan.[MO/sr]

Posting Komentar