Oleh : Chusnatul Jannah

Mediaoposisi.com-Hari santri ternodai dengan ulah oknum Banser yang membakar bendera tauhid pada peringatan Hari Santri Nasional di Garut. Video itu menjadi viral dan menimbulkan reaksi keras dari kalangan umat Islam.

Ketua Umum Yaqut Cholil Qoumas mengklaim bahwa aksi pembakaran tersebut adalah membakar bendera ormas yang sudah dibubarkan pemerintah. Ia pun berkilah dengan mengatakan pembakaran yang dilakukan itu untuk menghormati dan menjaga kalimat tauhid.

"Membakar bendera yang ada tulisan kalimat tauhid tersebut, hemat saya, teman-teman ingin memperlakukan sebagaimana jika mereka menemukan potongan sobekan mushaf Alquran. Mereka akan bakar sobekan itu, demi untuk menghormati dan menjaga agar tidak terinjak-injak atau terbuang di tempat yang tidak semestinya," Ujarnya.

Sungguh alasan yang mengada-ada. Menjaga kalimat tauhid dengan membakarnya, masuk akalkah? Ibarat orang punya rumah, maka untuk menjaga rumahnya dengan cara dibakar. Bagaimana bisa?

Mereka kerap memberikan pembenaran atas tindakannya dengan mengait-ngaitkannya dengan HTI. Seolah – olah perbuatannya adalah sah dalam menjaga NKRI. Ada beberapa catatan kritis untuk ormas yang selalu teriak NKRI harga mati.

Pertama, peringatan Hari Santri dengan slogan ‘Bersama Santri, Damailah Negeri’ bertolak belakang dengan tindakan Banser. Mereka sebut dirinya santri, namun perilakunya jauh dari nila kesantrian yang ditanamkan, yakni mendahulukan adab sebelum berbuat.

Pembakaran kalimat tauhid jauh dari adab Islam, bahkan terkesan mengundang amarah umat Islam. Bagaimana mau damai negeri ini, bila perilaku mereka terkesan memicu kemarahan?

Kedua, paling getol teriak penjaga NKRI dan Pancasila. Ketahuilah, pembakaran bendera tauhid justru menegaskan bahwa merekalah perusak NKRI, memecah belah umat, dan memprovokasi umat dengan aksi tersebut.

Ketiga, alergi dengan kalimat tauhid. Insiden ini pernah terjadi pada kasus pembatalan tabligh akbar Ustadz Abdul Shomad di beberapa tempat. Alasannya menggelikan.

Tabligh Akbar UAS diduga ditunggangi HTI hanya karena ada salah satu panitia memakai topi bertuliskan kalimat tauhid. Setiap ada kalimat tauhid langsung dikaitkan dengan HTI.

Padahal syahadat yang senantiasa mereka baca adalah kalimat tauhid. Bacaan tahlil yang seringkali dilafalkan juga berisi kalimat tauhid. Kalimat tauhid ‘Laa ilaaha Illallah’ adalah kunci penyelamat bagi setiap muslim. Jika ada muslim begitu antipati dengan segala simbol yang berkaitan dengan lafadz tauhid, maka perlu dipertanyakan keislamannya.

Perlu dipahami, bendera tauhid bukanlah bendera ormas tertentu apalagi HTI. Itu adalah bendera Rasulullah saw yang juga berarti milik kaum muslimin seluruh dunia. Dalam sebuah hadis dikatakan,

“Panji Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berwarna hitam, berbentuk segi empat dan terbuat dari kain wol.” (HR. Tirmidzi).

Pada Rayah dan Liwa’ Rasulullah saw. tertulis kalimat tauhid Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh, sebagaimana hadis penuturan Ibnu Abbas ra.: Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam dan Liwa’ beliau berwarna putih; tertulis di situ lâ ilâha illa AlLâh Muhammad RasûlulLâh (HR Abu Syaikh al-Ashbahani dalam Akhlâq an-Nabiy saw).

Bersikaplah dewasa dalam menyikapi perbedaan pandangan tentang khazanah fiqih Islam. Bukan dengan kobaran kebencian yang membabi buta. Tidak menyenangi sebuah ormas lalu mempersekusi simbol Islam yang diidentikkan dengan mereka.

Berpikir waraslah saat berbuat. Karena bisa jadi perbuatan itu justru menjadi bumerang untuk diri sendiri. Jaga aqidah, jaga ukhuwah. Musuh bersama bukanlah saudara seiman dan sebangsa. Musuh bersama adalah mereka yang ingin memecah belah kekuatan umat Islam melalui tangan – tangan anteknya.

Posting Komentar