Oleh: Kartiara Rizkina Murni

Mediaoposisi.com- Pada Jumat 28 September 2018 kabar duka datang dari provinsi Sulawesi, tepatnya dari Palu dan Donggala yang di landa gempa kemudian di susul dengan terjangan tsunami. Peristiwa tersebut telah menewaskan lebih kurang 1.200 orang, dalam kasus yang jasadnya sudah di temukan, masih banyak lagi korban yang belum di temukan.

Kemudian tsunami itu telah menghancurkan rumah-rumah warga dan fasilitas umum seperti jembatan, masjid, jalan, dan lainnya. Saat ini masyarakat Indonesia berbondong-bondong mencari donasi dan bantuan yang akan di salurkan ke korban bencana gempa dan tsunami di Palu Dan Donggala.

Menelesik dari bencana yang terjadi di Sulawesi, sebahagian orang berpendapat bahwa itu merupakan suatu ujian atau cobaan untuk masyarakat Palu dan Donggala, sebahagian lagi juga mengatakan bahwa itu merupakan azab dari Allah Swt. Kedua pendapat tersebut memang benar, akan tetapi ada sebuah fakta yang dapat kita analisis apakah ini benar hanya sebuah bencana alam atau azab dari Allah?

 Sebelum tragedi bencana itu terjadi ada seribuan warga yang sedang berada di pinggirang pantai Anjungan Nusantara, kota Palu. Masyarakat setempat saat itu sedang menantikan acara pembukaan festival ‘Pesona Palu Lomoni’ yang di gelar di pantai tersebut. (republika,co,id 29/9/2018)

Selain Festifal Pesona Palu Lomoni ada aktifitas ritual yang di lakukan oleh suku kaili, salah satu suku yang ada di kota palu. Ritual tersebut adalah sesajen penyembuhan suku kaili yang di sebut Baliya. Ritual ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.

Dahulu ritual ini di lakukan untuk pengobatan yang di anggap ampuh bagi masyarakat yang mengalami sakit parah, sebelum adanya pengobatan medis seperti dokter dan rumah sakit. ritual ini kembali di hidupkan di area kampung kaili bersama penyelenggaraan pekan budaya indonesia festifal Pesona Palu Lomoni.

Upacara baliya ini biasa di selenggarakan saat ada warga yang sakit namun, upacara baliya kali ini di khususkan untuk kesembuhan masyarakat dunia yang sakit dan berharap akan di berikan kesembuhan oleh Allah. Tarian ritual dengan alunan gindam ini berlangsung sejak usai matahari terbenam hingga larut malam di mana para baliya kemudian turun mengikuti alunan tersebut dan menyatu dengan roh leluhur.

Di siapkan juga kambing dan ayam sebagai pengorbanan yang nantinya dilarungkan ke laut. Demikian juga upacara adat baliya tersebut di selenggarakan di kabupaten Donggala dengan melakukan ritual yang tidak jauh berbeda seperti yang ada di Palu. Upacara ini memang sudah hampir punah, karena itulah walikota Palu Hidayat bertekad untuk mengembalikan dan menjadikan upacara ini sebagai pagelaran rutin dalam festival budaya Lomoni setiap tahunnya. Menjadikan upacara baliya sebagai cagar budaya yang dapat menarik wisatawan untuk datang ke kota palu. (Antaranews)

Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia memang memiliki sejuta kebudayaan. Yang dalam kacamata islam sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai fundamental ajaran islam. Melakukan ibadah apapun kepada yng bukan selain Allah Swt. dalam kondisi sempit maupun lapang, atau saat tertimpa musibah, penyakit, dan lainnya adalah bentuk ke syirikan. Kalau ada yang mengatakan “bahwa upacara itu tidak syirik, karena upacara ini di niatkan kepada Allah, ini hanya cara lain untuk meminta kepada-Nya yang sesuai khazanah budaya setempat”.

Ketahuilah ibadah yang tidak pernah di ajarkan oleh Rasulullah dan tidak termaktub dalam Al-quran adalah bid’ah. Kapan suatu ibadah tersebut di ridhai Allah, adalah di saat ada perintah untuk melaksanakannya. Contoh seperti berkurban Qs.Al-kautsar: 2, atau tentang sholat dan zakat Qs.Al-baqarah: 110, Al-baqarah: 177 dan masih banyak lagi. Kemudian hal tersebut pernah di paraktekkan oleh Rasulullah, serta indikasi lainnya yang mengisyaratkan perbuatan tersebut adalah ibadah. Maka haram hukumnya di peruntukan kepada ritual-rirual lain.

Hal lain yang kita baca bahwa pemerintah kabupaten Purbalingga juga akan mengusulkan festival gunung slamet (FGS) yang rutin di selenggarakan setiap tahun, dapat menjadi agenda pariwisata nasional. Hal ini di sampaikan oleh Plt Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Partiwi.(Republika.co.id 30/9/2018)

Sebanyak 15 ribu wisatawan di targetlan mengunjungi kegiatan FGS dengan serangkaian acara dan tempat penginapan yang di sediakan untuk wisatawan yang ingin bermalam. Pergelaran FGS ini sebagai upaya pelestarian budaya dan promosi wisata di lereng sebelah gunung slamet. (Republika.co.id 12/9/2018)

Bisa saja hal yang menerjang Palu dan Donggala terjadi kembali di Purbalingga sebab budaya festival gunung slamet yang mengandung aktifitas syirik seperti iring-iringan dengan membawa tombak pusaka dan tumpeng serta ingkungan ayam, berjalan dengan diiringi rebana dan shalawatan.

Dengan maksud agar masyarakat desa selalu sadar mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Upacara yang mengandung kesyirikan seperti ini bisa mendatangkan musibah. Sungguh benar, bahwa sumber segala bencana dan problema adalah karena ulah manusia itu sendiri. Sebagai mana Allah Swt. berfirman:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Qs. Ar-Rum: 41)

Dalam pemikiran sosialis-komunis memandang bencana alam hanya sebatas peristiwa alam yang terjadi dengan sendirinya,bahwa gempa dan tsunami merupakan suatu yang lazim di sebabkan pergesaran lempeng bumi, sehingga tidak dikaitkan akibat ulah manusia. Memang di saat sistem yang di terapkan di suatu negara bukanlah sistem islam, maka jelas saja pemikiran seperti ini dan aktifitas kesyirikan ada dan tetap bertahan.

Pengembangan pariwisata dengan menghidupkan budaya lokal yang mengandung ajaran animisme-dinamisme  (kesyirikan) dengan alasan ‘daya jual’ terbukti mendatangkan bencana. Bencana sebagai bentuk ujian dan peringatan Allah Swt. atas dasar kerusakan dan kemungkaran yang merajalela oleh tangan-tangan manusia.

Di dalam khilafah yang menerapkan hukum Islam secara kaffah, tidak akan memberikan ruang sedikitpun kegiatan kemaksiatan termastuk dalam sektor pariwisata. Pengelolaan pariwisata di dalama islam bukan sebagai sumber pendapatan negara/daerah dan tidak melarang suburnya kemaksiatan dan kemungkaran. pariwisata dalam Islam sebagai ajang Taqarrub ilallah/kesadaran akan kemahabesaran Allah.

Objek yang di jadikan tempat wisata adalah tempat yang bernuansa alam seperti, pemandangan, pantai, gunung, yang dianya bersifat nota-bone (natural) dan anugerah dari Allah Swt. atau berupa peninggalan sejarah peradaban Islam. objek wisata seperti ini bisa di pertahankan, dan penanaman nilai tentang  kehebatan Islam dan umatnya yang mamapu menghasilkan produk madaniah yang luar biasa bagi wisatawan yang mengunjunginya.

Jiak objek tersebut merupakan tempata peribadatan kaum kafir, maka harus di lihat apakah masih di gunakan sebagai tempat peribadatan, maka tempat itu akan di biarkan. Jika sudah tak terpakai maka tempat itu akan di tutup atau di hancurkan.

Namun ada juga yang dulunya tempat peribadatan yang bukan Islam di sulap menjadi tempatnya umat Islam. seperti ketika Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel, ia mengubah sebuah gereja menjadi mesjid. Gambar-gambar dan ornamen khas kristen di rubah menjadi nuansa islam. Pariwisata bukan merupakan fokus utamanya devisa suatu negara.

Di dalama khilafah pemanfaatan dan penyaluran SDA yang menjadi sektor utama pemasukan ekonomi negara. Berbeda dengan kapitalis yang memanfaatkan pariwisata sebagai pemasokan negara sehingga membiarkan adanya kemaksiatan untuk menarik lebih banyak keuntungan yang kemudian sebab kemaksiatan tersebutlah akan datang peringatan dari Allah untuk menghentikan kemaksiatan tersebut.

 “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rizkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Karena itulah Allah mengenakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya. Karena itu, mereka dimusnahkan oleh azab Ilahi dan mereka adalah orang-orang yang zalim”.(Qs. An-Nahl: 112 dan 113)[MO/sr]


Posting Komentar