Oleh : Jaya Wijaya

Mediaoposisi.com-Ada yang menarik pada orasi aksi damai bela bendera tauhid di Jakarta, Jumat (26/10/18).

Tidak hanya memberikan semangat, salah satu orator yakni jubir HTI, Ustadz Ismail Yusanto memberikan orasi dengan kemampuan dakwah dan komunikasi tingkat tinggi.

Di sela orasinya, Ustadz Ismail setidaknya melakukan 3 tahap penyadaran secara sekaligus dalam waktu kurang dari 10 menit.

1. Ustadz Ismail memberikan edukasi mengenai dalil Al Liwa dan Ar Rayah sebagai jawaban dari tuduhan pihak yang menyatakan hadits mengenai Al Liwa dan Ar Rayah adalah dhaif. Padahal, menurut penjelasan Ustadz Ismail, hadits mengenai Al Liwa dan Ar Rayah adalah maqbul.

2. Ustadz Ismail langsung memahamkan ribuan peserta aksi damai, seperti apa itu Al Liwa dan seperti apa itu Ar Rayah.

3. Tahap inilah yang menurut saya merupakan tahapan paling cerdas, lugas, dan tegas. Seperti apa bentuknya? berikut pemaparannya.

Setelah melakukan penjelasan mengenai status hadits dan bagaimana ciri - ciri fisik Al Liwa dan Ar Rayah, Ustadz Ismail langsung mengecek apakah pesan edukasi yang disampaikan dirinya sampai atau tidak kepada peserta aksi damai. Dalam komunikasi, hal ini untuk melihat apakah pesan dari komunikator ( penyampai pesan ) direspon positif oleh komunikan ( penerima pesan ).

Ustadz Ismail : "Sekarang, angkat Ar Rayah nya tinggi tinggi". Maka serentak ribuan peserta aksi damai mengibarkan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid putih tinggi tinggi.

Lalu Ustadz Ismail mengatakan : "Lalu sekarang, angkat Al Liwa nya tinggi tinggi." Lalu serentak ribuan peserta aksi damai mengibarkan bendera putih bertuliskan kalimat tauhid warna hitam.

Yang menarik adalah ucapannya yang selanjutnya.

Ustadz Ismail : "Sekarang, angkat bendera HTI tinggi tinggi. angkat bendera HTI ! angkat bendera HTI ! angkaaaatttt !!!"

Dan tidak ada satu orang pun dari ribuan peserta aksi damai yang mengibarkan bendera apapun.

Dalam waktu kurang dari 10 menit, Ustadz Ismail mampu memahamkan ribuan orang mengenai Al Liwa dan Ar Rayah, sekaligus mematahkan argumen mengenai bendera HTI. Dalam komunikasi, Ustadz Ismail berhasil mendapatkan respon positif komunikan. Dari sisi konteks tujuan komunikasi, Ustadz Ismail juga mengubah pemahaman, sikap, dan tingkah laku ribuan peserta komunikasi.

Dan yang paling spektakuler adalah ucapannya yang terakhir. Dalam dunia dakwah, hal ini mungkin bisa terkategori kasyful khutot dan dharbu alaqah, yakni membongkar makar dan memutuskan kepercayaan. terhadap apa? terhadap kebohongan yang dilakukan oleh penguasa yang zhalim.

Ustadz Ismail : "Jadi, yang mengatakan Al Liwa dan Ar Rayah itu bBendera HTI itu apa?" Serentak ribuan massa meneriakan : "Bohoooongggg !!!"

Saya jadi iri kepada anggota HTI, memiliki jubir yang bukan hanya mampu meningkatkan semangat dalam orasinya, tapi sekaligus bisa mencerdaskan, memahamkan, dan sekaligus  bisa membongkar makar dan memutuskan kepercayaan ribuan peserta aksi damai terhadap kebohongan penguasa zhalim.

Maka, saya menilai tidak berlebihan dan sangat pas sekali ketika jubir persaudaraan alumni 212, habib Novel Bamukmin mengatakan : UMAT ISLAM HARUSNYA BERTERIMA KASIH KE HTI

Saya jadi ingin ikut mengatakan : "Ehm anggota HTI, meski badan hukum organisasi anda dicabut, pekerjaan anda justru jadi lebih banyak. Sebab kepercayaan umat sudah di depan mata. anda mesti jadi Ustadz Ismail Berikutnya". [MO/gr]

Posting Komentar