Oleh : Anna Ummu Maryam

Mediaoposisi.com-Pejudo putri Indonesia Miftahul Jannah meninggalkan arena usai didiskualifikasi sebelum pertandingan kelas 52 kg blind judo Asian Para Games 2018 karena peraturan IJF (Federasi Internasional Judo) tentang larangan hijab.

Kejadian ini semakin memahamkan kita bahwa begitu sulitnya sebuah prestasi bagi muslim untuk diakui dunia internasional. Dengan kemampuan yang mempuni pun ternyata dipandang sebelah mata oleh dunia. Hal senada juga pernah dialami oleh atlet sepak bola muslim internasional.

Pemain sayap Liverpool FC asal Mesir, Mohamed Salah, yang sebelumnya dikucilkan karena dia seorang muslim dan akhirnya menjadi buah bibir setelah meraih gelar Professional Footballers' Association (PFA) Player of the Year 2017-2018

Khabib Nurmagomedov, atlet MMA asal Rusia yang berhasil menjadi juara UFC 229. Khabib menumbangan lawannya.

Conor McGregor yang dikenal rasis dan meremehkan muslim pada pertandingan UFC 229 di T-Mobile Arena, di Las Vegas, Amerika Serikat pada Sabtu (6/10/2018).
Dilema Dunia Atlet.

Apa yang terjadi pada atlet muslim hari ini tidak terlepas dari sistem kapitalis demokrasi yang diterapkan di dunia hari ini. Dimana sebuah pertandingan tidak lagi murni untuk ditampilkan karena keahlian menghadapi lawan.

Tapi telah beralih fungsi demi kepentingan dari orang tertentu yaitu pemilik modal yang bermain dibalik layar.

Sehingga merekalah yang sebenarnya telah membuat aturan permainan menjadi arena politik dan keuntungan. Karena jika memang ini sebuah permainan tentunya memperhatikan adap sebelum dan sesudah permainan yaitu menghormati lawan walaupun beda agama.

Karena pada hakekatnya dalam sebuah pertandingan ada menang dan kalah dan itu biasa. Keadaan atlet pada hari ini juga memprihatinkan dimana keahlian dan kerja keras para atlet benar - benar seperti susu perahan.

Dimana kemampuan dan fasilitas yang diberikan terkadang tidak sebanding dengan hasil yang telah dicurahkan. Bahkan akan dibayar jika memiliki prestasi yang gemilang tapi jika tidak maka kurang diperhatikan padahal latihan siang dan malam.

Dalam pertandingan yang diikuti oleh atlet muslim tidak jarang mendapatkan pelecehan bahkan sampai ke agama nya. Tentu ini harusnya mendapatkan perhatian dapat menurunkan mental sebelum bertanding dan juga pelanggaran besar karena telah melecehkan islam.

Namun terlepas dari itu semua,  kemenangan demi kemenangan terus diraih para atlet islam, ternyata tidak menurunkan semangat.

Untuk memberikan yang terbaik dan menjadi ajang bagi mereka untuk memperkenalkan dan memahamkan adap islam kepada seluruh para penonton saat sebelum dan sesudah permainan atau tanding.

Olahraga Dalam Islam

Islam hadir sebagai cahaya yang menyinari gelap nya peradaban manusia. Dimana manusia dalam melakukan aktivitasnya tak memiliki makna selain melepas lelah saja, namun bukan sekedar lepas lelah saja atau suka melakukannya.

Tapi islam hadir menjelaskan bagaimana aktivitas dan kreativitas manusia tidak hanya dianggab  berprestasi saja tapi memiliki nilai yang tinggi. Yaitu saat menjalankan aktivitas sesuai dengan perintah Allah maka bahagia dunia dan akhirat dapat dicapai bersama.

Karena islam hadir sebagai solusi dan pengatur hidup yang ideal maka begitupun dengan olah raga juga ada pengaturannya. Bahkan olah raga sangat dianjurkan dalam islam untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.

Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berolahraga dalam islam yaitu :

Pertama,  setiap olahraga apasaja boleh dimainkan asal tidak merusak fisik dan membahayakan manusia lainnya.

Kedua,  Sarana olahraga haruslah memperhatikan keselamatan jiwa dan fisik para pemainnya termasuk atlet.  Dan memastikan tidak mengandung kesyirikan didalamnya.

Ketiga,  Antara pemain dan penonton tidak boleh bercampur- baur antara lelaki dan perempuan tetapi duduk secara terpisah.

Keempat,  memahami bahwa dalam dunia pertandingan pasti ada kalah dan menang maka perlu berbesar hati menerima kekalahan dan tidak melakukan kecurangan dan lain sebagainya untuk mengalahkan lawan.

Kelima,  menutup aurat secara sempurna (baca,jilbab dan khimar) bagi para muslimah dan batas aurat laki - laki.

Maka jika olahraga ini telah menjadi pertandingan yang diperlombakan antar negara maka negara sebagai penjaga haibah islam dan penjaga pelaksanaan syariat islam berkewajiban untuk memfasilitasi segala yang diperlukan atlet sampai perlombaan selesai.

Menjaga para atlet dalam perlombaan agar tidak melakukan pelanggaran syariat islam. Dan membatasi olahraga yang merusak fisik dan membahayakan.

Memberikan penghargaan yang pantas atas jerih payah yang telah di usahakan para atlet negara dari berbagai daerah.

Quran Surat an Nisa ayat 58 :

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.

Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat”.

Inilah yang harus difahami betul oleh kaum muslimin sehingga aktivitas menjadi bermakna yaitu meraih ridha Allah semata bukan hanya sekedar menjadi atlet olahraga.

Tapi menjadi ladang pahala dan syiar islam dimanapun kita berada.[MO/gr]

Posting Komentar