Oleh: Ayu Mela Yulianti, SPt
(Pemerhati Masalah Umat)

Mediaoposisi.com- Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko meminta pekerja honorer tak memaksakan kehendak untuk mengikuti seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2018. Pasalnya, ada aturan yang harus dipatuhi untuk menjadi PNS.

Menurut dia, pekerja honorer harus memahami ada aturan untuk menjadi seorang PNS. Sehingga, aturan tersebut harus dipenuhi. (Okezone.com, Jakarta, 20 September 2018)

Beginilah hidup dalam sistem kapitalis sekuler.  Tidak ada penghargaan sama sekali bagi para pahlawan tanpa tanda jasa, utamannya sekelompok guru honorer. Tidak ada kejelasan nasib dari pekerjaan yang diampunya. Pekerjaan sebagai guru honorer.

Gaji kecil tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang nilai dan harganya semakin melambung tinggi tak terkendali. Harapan satu-satunya adalah mengharap diangkat menjadi Pegawai Negeri sipil (PNS).

Akan tetapi, untuk sampai diangkat menjadi PNS pun, rasanya jauh panggang dari api, karena begitu banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Sedangkan kebanyakan guru honorer terpentok pada persyaratan yang kadang-kadang sulit untuk dipenuhi. Entah faktor usia, latar belakang pendidikan, atau yang lainnya. Kembali harapan menjadi PNS tinggal angan-angan semata.

Sistem sekuler kapitalis telah memasukan pendidikan sebagai salah satu program jasa yang  dikomersialisasi atau dikapitalisasi.

Atau dengan kata lain sistem sekuler menempatkan sistem pendidikan hanya sebagai komponen ekonomi, yakni sebagai bagian pencetak mesin industri bukan pembangun peradaban sehingga kental dengan hitungan untung rugi.

Karenanya menjadi sebuah kewajaran jika penghargaan untuk para guru utamanya guru honorer sebatas slogan semata yaitu pahlawan tanpa tanda jasa. Tanpa ada upaya sungguh-sungguh mengangkat derajatnya sebagai elemen dasar pencetak kecerdasan manusia. Apakah dari sisi kesejahteraannya ataupun penjagaan marwah dan kehormatannya sebagai guru.

Banyak guru honorer yang mengambil pekerjaan sampingannya sebagai pekerja kasar. Hal ini menyebabkan terbaginya perhatian dan konsentrasi dalam upaya untuk mencerdaskan anak bangsa tersebab keharusan memenuhi kebutuhan hidup yang sangat asasi yang tidak bisa ditunda-tunda. Selain banyaknya kasus negatif yang menimpa para guru akibat tekanan hidup yang diciptakan oleh sistem kapitalis sekuler.

Sistem kapitalis sekuler menyerahkan sepenuhnya kepada kemampuan tiap individu manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, entah itu kebutuhan pokok/dasar/asasi ataupun kebutuhan sekunder dan tersier. Tidak ada jaminan hidup yang bisa diberikan oleh negara. Semua diserahkan pada mekanisme pasar yang disetir oleh para kapital.

Negara hanya berfungsi sebagai regulator semata dan penjaga kepentingan para kapital. Karenanya, manusia yang terlahir lemah tidak akan mampu bertahan hidup dalam sistem kapitalis sekuler. Mereka yang terlahir lemah akan tergerus kehidupannya hingga mati tak berdaya. Layaknya kehidupan dihutan belantara. Yang kuat memakan yang lemah, yang pintar memperdaya yang bodoh.

Berbeda dengan sistem kapitalis sekuler, yang memasukkan pendidikan sebagai sektor jasa yang dikomersialisasikan. Maka sistem Islam memandang jika sektor pendidikan masuk dalam kategori kebutuhan pokok dan asasi setiap  warga negara, yang pemenuhannya wajib ditunaikan oleh seorang Khalifah.

Islam menjadikan pendidikan sebagai pilar peradaban mulia, dan menempatkan para guru sebagai salah satu arsiteknya. Hal ini nampak dari concern Khilafah terhadap pendidikan dan jaminan kesejahteraan para guru.

Tercatat dalam sejarah, bagaimana tingginya kedudukan seorang guru dalam Islam, antara lain :
pertama, Rasulullah SAW, memberikan jaminan kemerdekaan pada seorang tawanan perang yang berhasil mengajarkan baca tulis kepada duabelas kaum muslimin. Penghargaan yang sangat teramat tinggi kepada seorang guru.

Kedua, tercatat dalam sejarah, tingginya gaji dan tunjangan yang diberikan oleh Khalifah Umar bin Khatab ra, kepada seorang guru setingkat sekolah dasar, dengan memberikannya gaji senilai 45jt rupiah jika disandarkan dengan nilai mata uang rupiah saat ini. Dengan kondisi terpenuhinya kebutuhan pokok seluruh individu manusia saat itu dalam kepemimpinannya. Jadi bisa disimpulkan jika gaji 45jt itu adalah gaji bersih, tanpa potongan apapun.

Ketiga, tingginya penghargaan Islam terhadap guru dan dunia pendidikan dengan memberikan penghargaan berupa sejumlah emas yang setara dengan timbangan buku sebagai karya yang dihasilkan dari proses pendidikan.

Keempat, Islam menjadikan guru sebagai mercusuar peradaban, pencetak generasi mulia, arsitek peradaban. Sebagaimana sejarah mencatat bagaimana pengaruh ilmu yang diajarkan oleh seorang guru yang membentuk kepribadian hebat seorang Sultan Muhammad Alfatih hingga mampu mewujudkan bisyarah Rasulullah Muhammad SAW dengan berhasil menjadi penakluk kota Konstansinopel dan menggantinya dengan nama Islambul.

Dan masih banyak lagi bukti, betapa Islam sangat memuliakan profesi guru dengan menjadikannya sebagai pilar dasar pembentuk peradaban mulia manusia. Sehingga Islam bersungguh-sungguh dalam menjamin kehidupan dan kesejahteraan para guru khususnya dan seluruh individu manusia seluruhnya.

Karenanya, jika sistem kapitalis sekuler hanya menyumbang kepedihan dan mirisnya kehidupan bagi para guru honorer.

Maka sudah selayaknya dan sepatutnya seluruh guru honorer dan umat manusia semuanya menggantungkan harapannya hanya pada Islam yang sudah pasti akan kembali memuliakan dan menyejahterakan para guru honorer dan seluruh umat manusia, melalui penerapan syariat Islam kaffah oleh seorang Khalifah dalam bingkai Khilafah.[MO/sr]





Posting Komentar