Oleh : Eva yulia

Mediaoposisi.com-Aksi mogok ribuan guru honorer bila terus berlangsung dengan jumlah yang lebih banyak, bisa mengganggu proses belajar mengajar ratusan ribu siswa di sebagian besar wilayah Cianjur, Jawa Barat.

Belum adanya kejelasan dari pemerintah daerah dan pusat atas tuntutan guru honorer ini membuat aksi mogok ribuan guru di 100 kecamatan akan terus meluas ke wilayah lain.

Ketua Forum Honorer Cianjur, Magfur pada wartawan Ahad (21/10) mengatakan pihaknya akan terus melakukan aksi hingga Pemkab Cianjur merealisasikan janjinya untuk memberikan legalitas bagi guru honorer berupa Surat Keputusan (SK).

"Sebelumnya mogok dari 17 sampai 20 Oktober, tapi ternyata sampai akhir pekan belum ada kejelasan, sehingga rencana tersebut akan berlanjut dengan jumlah guru yang mogok akan bertambah," katanya.

Hidup dalam sistem kapitalis sekuler tidak ada kebahagiaan sedikitpun. Seperti yang dialami oleh para guru honorer yang menunggu keajaiban dan menuntut kejelasan pemerintah dari pengabdian selama ini.

Peran seorang guru dalam sistem kapitalis ini tidak ada penghargaan sedikitpun, apalagi guru honorer yang rela bekerja berjam-jam dan dibayar dengan upah yang menyedihkan.

Gaji guru honorer dibawah UMR. Bahkan ada guru honorer yang digaji dari komite sekolah dan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) hanya Rp.300.000/bulan, bahkan ada juga yang hanya Rp250.000/bulan. Dan akan cair per 3 bulan. Menyedihkan bukan?

Satu-satunya jalan adalah menjadi PNS, namun menjadi PNS pun tidak mudah. Banyak persyaratan-persyaratan yang menyulitkan, baik itu dari segi umur, pendidikan, faktor usia, atau lainnya. Yang membuat harapan seketika pudar.

Jika dilihat antara Guru Pegawai Negeri Sipil  (PNS) dengan honorer keduanya memiliki perbedaan yang mencolok seperti anak kandung dan anak tiri dalam segi finansial.

Karena gaji keduanya sangat jauh berbeda, gaji PNS berkisar 3 sampai 5 jutaan rupiah perbulan plus tunjangan dari negara. Sedangkan guru honorer ada yang hanya sekitar 200-300 ribu rupiah saja perbulannya, itupun kadang tidak sesuai dari tanggal penerimaanya.

Bagaimana bisa seorang guru mendidik penerus bangsa yang gemilang sedangkan dirinya jauh dari kata gemilang. Padahal peran seorang guru sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan, dari sanalah anak dibentuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Perlakuan buruk rezim sekuler kapitalis terhadap para guru menunjukkan kadar penghargaan rezim terhadap pendidikan dan masa depan generasi.

Dalam kapitalisme, profesi guru tidak berharga karena tidak menghasilkan produk materi yang langsung bisa dijual. Sementara dalam Islam peran guru sangat sentral dalam proyek investasi masa depan peradaban.

Sejarah telah mencatat bahwa guru dalam naungan sistem kepemerintahan Islam mendapatkan penghargaan yang tinggi dari Negara termaksuk pemberian gaji yang melampaui kebutuhannya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al-Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madinah yang mengajar anak-anak dan Khalifah Umar bin Khattab memberi gaji lima belas dinar

(1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp500 ribu, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar Rp31.875.000). Fantastis bukan? Sangat berbanding terbalik dengan saat ini.

Saatnya guru turut berjuang menerapkan hukum-hukum Islam.[MO/gr]



Posting Komentar