Oleh: Dwi Rahayuningsih, S.Si


Mediaoposisi.com-Belum kering air mata duka akibat gempa bumi Lombok dan tsunami Palu. Kembali negeri ini diguncang dengan getaran yang bermagnitudo 6.3 SR di Situbondo, Kamis 11 Oktober 2018. Susul-menyusul bencana melanda Indonesia. Seolah tak cukup hanya satu daerah yang terkena bencana, daerah lain ikut berpartisipasi memberikan kabar duka ini. Korban berjatuhan meninggalkan kesedihan. Ada apa dengan negeri ini? Kenapa musibah datang bertubi-tubi?

Bencana Sebagai Teguran

Menurut BMKG, gempa di Donggala diakibatkan adanya sesar Palu Koro. Sesar itu memanjang di wilayah Sulawesi Tengah dan sepertiganya menjorok ke lautan. “Disebabkan oleh sesar Palu Koro yang berada di sekitar Selat Makasar” kata Rahmat triyono, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG dalam konferensi pers pada jumat (28/9/2018).

Gempa Donggala memiliki pola sesar geser yang seharusnya tidak diikuti dengan tsunami. Sesar geser biasanya tidak menyebabkan tsunami seberapapun besarnya magnitudo gempa, kecuali jika diikuti dengan longsosran yang cukup besar akibat gempa. Sedangkan gempa Situbondo menurut BMKG disebabkan sesar naik Flores. Menurut ilmuwan sesar naik tersebut memang sedang aktif di beberapa bagian. (liputan6.com, Kamis, 11/10/2018)

Terlepas dari benar tidaknya pengkajian para ilmuwan, terkadang peristiwa yang terjadi di bumi ini tidak dapat diterima akal manusia. Ada hal-hal yang hanya bisa diyakini tanpa harus melibatkan akal. Namun apalah daya akal manusia yang sangat terbatas? Meski tak mampu otak mencerna, namun inilah kenyataannya. Segala kejadian yang terjadi di bumi dan seluruh alam semesta tidak terlepas dari campur tangan Allah Sang Maha Kuasa.

Bukti kebesaran Allah untuk menyadarkan umat manusia dari silau dan gemerlapnya dunia. Bukan rahasia umum jika saat ini Indonesia sering kali melakukan aktivitas kemaksiatan yang memicu kemurkaan Allah. Dan kemaksiatan akbar yang menjadi sumber bencana adalah tidak diterapkannya hukum-hukum Allah di muka bumi ini.

Bahkan hukum dianggap memecah belah. Hukum manusia dianggap lebih mulia. Ulama panutan umat tidak lagi memperjuangkan tegaknya kalimatul haq. Sebaliknya, ulama lebih memilih dekat dengan penguasa. Membiarkan hukum-hukum Islam dihinakan. Bersama para penista bergandengan tangan. Berpaling dari seruan kebenaran. Astaghfirullah, inilah salah satu sebab murka Allah. Jangan sampai Allah mempercepat azab-Nya di dunia.

“Dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akherat.” (QS. At-taubah [9]: 74)

Jika mereka, orang-orang yang paham Islam lebih memilih untuk menyembunyikan kebenaran dan memilih untuk bersatu dengan para pencela dan penista agama, maka jangan salahkan jika negeri ini senantiasa tertimpa musibah bertubi-tubi.

“Dan kami timpakan kepada mereka azab supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Az-
Zukhruf: 48)

Kembali Pada Syariah

Penerapan hukum selain Islam, terbukti telah menghantarkan pada kesengsaraan. Berbagai musibah datang silih berganti. Mulai dari musibah kemiskinan, kelaparan, wabah penyakit, hingga musibah berupa bencana alam. Memang benar bahwa musibah bisa jadi sebagai ujian atas manusia supaya keimanannya meningkat. Bahkan dikatakan dalam Al-quran bahwa musibah yang terjadi di bumi sudah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh).

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfidz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagu Allah.” (QS. Al-Hadiid [57]: 22)

Dalam ayat lain juga dijelaskan bahwa segala musibah yang terjadi adalah atas ijin Allah.
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Ath-Tahgabun [64]: 11)

Namun demikian, tidak diterapkannya hukum Islam adalah suatu kemaksiatan yang nyata. Apalagi mengganti hukum yang berasal dari-Nya dengan hukum buatan manusia yang penuh kecacatan dan ketidakadilan. Diantara kecacatan hukum buatan manusia adalah jaminan terhadap kebebasan yang menyebabkan manusia berbuat semaunya. Menyebabkan banyak kerusakan, baik keruskan akidah, moral dan kekayaan alam.

Jika sudah demikian, maka tinggal menunggu musibah Allah turun dan menimpa semua manusia tanpa kecuali.

“Takutlah pada musibah yang tidak hanya menimpa orang zhalim di antara kalian saja. Ketahuilah
bahwa Allah memiliki hukuman yang pedih.” (QS. Al-Anfal: 25)

Meski jumlah orang-orang yang bermaksiat hanya segelintir saja. Dan mereka yang taat jauh lebih banyak, ternyata tidak menjamin keselamatan dari musibah yang Allah timpakan. Karena ketaatan atau kesalehan yang diminta Allah adalah ketaatan kolektif bukan individual. Ketika kemaksiatan dilakukan oleh beberapa orang saja dan yang lain berdiam diri, maka tunggulah azab itu datang kepada semuanya.

“Demi Allah hendaknya kalian mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Atau
Allah akan menimpakan hukuman kepada kalian, lalu kalian berdo’a namun tidak dikabulkan.” (HR. At-Tirmidzi no. 2323, ia berkata “hadits ini hasan”)

Ditegaskan pula dalam Al-Qur’an:
“Berapa banyak golongan yang sedikit Berjaya menewaskan golongan yang ramai, dengan izin Allah dan Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 249).

So, sudah saanya kembali kepada Islam. Terapkan syari’at Islam agar keselamatan senantiasa menaungi. Kesejahteraan tetap terjamin. Dan ketenteraman meliputi jiwa-jiwa manusia karena Islam Rahmatan Lil ‘Alamiin. [MO/dr]

Posting Komentar