Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com- Saat itu aku tertegun, merasa bingung dengan situasi yang ada. Aku telah membaca doa, agar dikaruniai kemudahan dan petunjuk untuk memilih pemimpin yang amanah. Telah beristikharah agar diberi cahaya dan petunjuk jalan.

Dengan berat hati aku memasuki bilik persegi, kulihat disana ada secarik kertas tergambar foto yang sangat aku kenal. Ya, foto seorang ulama yang mampu menghimpun aksi sejuta umat tolak RUU pornografi. Seorang Kiyai, yang mampu membuat terobosan fatwa yang mengharamkan Sekulerisme, pluralisme dan liberalisme. Seorang ulama yang teguh dan tangguh, menjadi saksi dan mempertahankan argumentasi bahwa Ahok sah telah menghina agama Islam.

Tak terasa iba rasa hati melihat wajah beliau yang kian sepuh, yang seharusnya pensiun dari amanah besar, dan mewakafkan diri untuk dzikrullah dan menambah perbendaharaan amal.

Meski demikian, teringat keteguhan sang Kiyai, hampir saja aku mencoblosnya. Sebab, ketaatan pada agama telah membimbing diri untuk mentaati ulama.

Tetapi, setelah kulihat foto disampingnya, terlihat seolah tersenyum menyaksikan derita rakyat. Terbayang, 66 janji kampanye yang terbukti dusta. Terbayang, negara ini akan dikelola ala tebak-tebakan ikan. Terbayang, utang makin menggunung, tarif listrik makin naik, TKA China makin melimpah, BUMN diobral murah, pejabat korupsi, dan setumpuk prestasi buruk lainnya.

Aku berhenti dan berfikir sejenak, ini bukan soal memilih Kiyai, tapi ini soal memberi amanah kepada pendusta dan pelaku khianat. Kiyai juga hanya jadi tangan kiri, cuma menjadi 'tukang cebok' kebijakan beol rezim zalim dan anti Islam.

Jangankan Kiyai yang sudah uzur, wakil yang enerjik saja masih bisa dikelabui. Jangankan hanya seorang Kiyai, jutaan rakyat saja mampu ditipu dan dikhianati. Jadi, maaf Pak Kiyai.

Maafkan kami, urung memilihmu bukan karenamu, tapi karena foto yang ada didampingmu. Maafkan kami bukan tidak mempercayaimu, tapi kami sudah eneg ditipu lelaki yang ada disampingmu.

Akhirnya, aku urungkan niatku memberi amanah dan kepercayaan. Aku tidak mau, di akhirat menanggung dosa karena kezaliman penguasa. Aku tak mau, mendapati diri tak berdaya, ketika didakwa Allah SWT karena memberi legitimasi pada penguasa yang menerapkan hukum kufur. Aku tak mau, amalku yang sedikit tergerus habis oleh dosa jariyah, karena memilih pemimpin yang zalim, yang tidak menerapkan Islam, yang terus menimpakan kerusakan dan beban kepada rakyat.

Pak Kiyai, mohon maaf. Inilah Caraku untuk menyelamatkan diriku, juga Pak Kiyai. Tidak memilih pak Kiyai, berarti menyelamatkan Pak Kiyai dan diriku. Yakinlah, kelak di akhirat Pak Kiyai akan bersyukur atas pilihanku ini.

Pak Kiyai, jujur saja aku rindu sosok Pak Kiyai yang dulu. Pak Kiyai yang mengambil tempat bersama kami, bukan di barisan partai penista agama. Jujur saja kami menunggu fatwa darimu, untuk taat dan patuh merontokkan selulerusme dan pluralisme.

Tapi sudahlah, dunia ini cuma mainan, kehidupan yang sesungguhnya ada di akhirat. Aku, telah menetapkan pilihan menjual seluruh diriku dan dunia yang ada, dengan kehidupan surga yang kekal, bersama Nabi SAW, bersama Sahabat, Para Ulama, Para Syuhada. Semoga saja, Pak Kiyai berada Disana, bersama barisan Pengikut Nabi, bukan penentang ajaran Nabi.

Apapun, setiap keputusan ada konsekuensi. Aku telah berazam, telah berketetapan untuk tidak memilih kezaliman dan pengkhianatan. Terserah Pak Kiyai, apakah masih Istiqomah dalam kezaliman, atau segera menepi dan kembali pada ketaatan.[MO/sr]

Posting Komentar