Oleh: Tika Maesaroh, M.Pd.

Mediaoposisi.com- Suasana politik di tanah air kian memanas pasca Pilkada serentak beberapa bulan lalu, hingga puncaknya menjelang Pilpres 2019 mendatang, baik yang terliput di media elektronik maupun yang terjadi di media sosial yang saat ini lebih banyak digunakan oleh sebagian besar rakyat terutama kaum milenial.

Akhirnya, 20 September  KPU telah resmi menetapkan dua kandidat presiden dan wakil presiden yang terpilih, yaitu pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin pada nomor urut 1 dan pasangan Prabowo-Sandiaga Uno pada nomor urut 2. Selanjutnya, kampanye Pilpres akan berlangsung selama 7 bulan, mulai 23 September 2018 hingga 13 April 2019.

Kampanye berupa pertemuan terbatas, tatap muka, penyebaran bahan kampanye kepada umum dan pemasangan alat kampanye. Masa tenang jelang pencoblosan berlangsung 14-16 April 2019 dan pencoblosan serentak dilaksanakan pada 17 April 2019. (Rakyatku.com, 15/09/17)

Munculnya tokoh Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno sebagai cawapres yang diusung oleh masing-masing capres menambah suasana keramaian di tengah publik.

Siapa yang menduga, setelah sebelumnya publik disuguhkan dengan kasus-kasus besar atas ketidakadilan dan cacat hukum yang dilakukan penguasa beserta jajarannya terhadap masyarakat, khususnya terhadap kaum Muslim Indonesia, Presiden Jokowi yang mendaftar kembali menjadi capres pada pemilu mendatang lantas menggaet Prof. Dr. KH Ma’ruf Amin yang menjabat selaku ketua MUI untuk menjadi pasangannya.

Bagaimana tidak, publik dibuat kaget atas sikapnya selama ini yang telah banyak melakukan kedzaliman terhadap umat Islam, tetapi kemudian memilih ketua MUI selaku cawapresnya, seakan publik dibuat lupa untuk menutupi kebijakannya selama ini.

Sebut saja peristiwa seperti kasus persekusi terhadap beberapa ulama hingga berujung dipenjarakan, kasus pembunuhan da’i yang belum tuntas penyelidikannya hingga sekarang, pencabutan Badan Hukum Perkumpulan (BHP) ormas besar HTI yang legal oleh Kemenkumham tanpa adanya mekanisme due process of law,

pembubaran pengajian-pengajian secara semena-mena dengan alasan diisi oleh ulama yang dipandang anti Pancasila dan anti NKRI, padahal pengajian tersebut telah memenuhi izin dukungan dan dihadiri ratusan peserta, juga pengkerdilan daya kritis para pakar intelektual dengan mencopot jabatannya di dunia akademik hanya karena menyuarakan aspirasi intelektualnya yang bertentangan dengan kepentingan penguasa dan memberikannya cap radikal, anti Pancasila, dan anti NKRI.

Di sisi lain, capres Prabowo yang menjadi pihak oposisi pemerintah saat ini, mendapat dukungan yang cukup besar dari ulama-ulama yang menamakan dirinya tergabung dalam GNPF Ulama (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa) yang telah merekomendasikan beberapa nama ulama untuk diusung sebagai wakilnya pada pilpres mendatang.

Misalnya saja, UAS (Ustad Abdul Somad) dan Hasif Assegaf yang direkomendasikan dari pertemuan rapat Ijtima Ulama I.

Ternyata Ijtima Ulama I ini tidak membuahkan hasil yang berarti karena selain salah satu ustadz yang direkomendasikan GNPF menolak untuk dicalonkan, ternyata Prabowo sendiri telah memiliki nama cawapres yang akan diusungnya hingga pada 15 September, sehari setelah Jokowi meresmikan Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya, menyusul Prabowo mengadakan konferensi pers dan menyatakan memilih Sandiaga Uno selaku Wakil Gubernur DKI Jakarta waktu itu untuk menjadi pasangannya.

Akhirnya, ulama-ulama GNPF mengadakan Ijtima Ulama sesi II pada 21 September dan dari sana dihasilkan 17 poin pakta integritas sebagai bentuk dukungan resmi GNPF terhadap pasangan Prabowo-Uno sekaligus komitmen janji yang diminta kepada pasangan capres cawapres ini jika lolos terpilih menjadi presiden periode mendatang.

Dengan sama-sama menarik kalangan ulama pada pesta perpolitikan demokrasi di pilpres mendatang, dapat kita lihat bagaimana hiruk pikuk perang opini bahkan opini yang membawa nama Islam di tengah masyarakat dalam mendukung masing-masing paslon pilihan mereka. Tidak sedikit adu argumen yang berujung pada kekerasan verbal hingga kekerasan di lapangan secara fisik dengan melakukan persekusi dan intimidasi.

Sebagai contoh persekusi terhadap para pendukung tagar #2019GantiPresiden yang marak terjadi di beberapa daerah yang dilakukan di tempat-tempat umum hingga harus menurunkan ratusan personil kepolisian agar tidak terjadi bentrokan antar masa pendukung masing-masing. Di tataran politisi, manuver-manuver partai politik termasuk juga relawan pemenangan pengusung capres dari kedua belah pihak yang tergabung dalam tim kampanye mulai disusun.

Pindah kubu yang dilakukan tokoh-tokoh politik pun menjadi suatu hal yang lazim demi kepentingan politik dan jabatan. Istilah main gebuk dan pukul oleh oknum masyarakat bahkan diserukan oleh para politisi hingga pidato presiden yang kontroversional seakan menjadi legitimasi tindak kekerasan jika ada kubu lawan yang menyerang atau merugikan kepentingan kelompoknya.

Akhirnya, dari semua ini umat disibukkan dengan kegaduhan pilihan politik antar kedua kubu yang berujung pada perpecahan bahkan di tubuh kaum Muslimin sendiri. Tanpa memperhatikan adab, akhlak dan ukhuwah, dan tanpa berpikir lebih jernih tentang persoalan utama kaum Muslim dan umat lainnya yang paling utama.

Umat akhirnya hanya fokus tentang pergantian pemimpin, siapa pemimpin yang akan menggantikan pemerintahan dzalim saat ini tanpa memikirkan dengan apa dan bagaimana pemimpin tersebut menjalankan sistem kepemimpinannya.

Kesatuan Umat di Tanah Air
Namun jangan lupa, umat Islam di tanah air pernah bersatu dan akan mampu untuk terus bersatu, yaitu sebagai contoh ‘Aksi 212’ pada 2 Desember 2016. Aksi Bela Islam (ABI) itu nyata-nyata menunjukkan satu kekuatan besar kaum Muslim Indonesia, yakni ukhuwah Islamiyah.

Saat itu, jutaan orang-konon tidak kurang dari 7 juta massa-tumpah ruah di Ibu kota, Jakarta tepatnya di sekitar kawasan Tugu Monas dan sekitarnya. Mereka berasal dari seluruh komponen umat Islam dengan berbagai latar belakang berbeda, berkumpul untuk satu tujuan yang sama, yakni membela kemuliaan Al-Qur’an yang telah dinistakan oleh Ahok.

Tentu, kaum kafir dan munafik tidak suka jika umat Islam bersatu. Mereka tetap menghendaki umat Islam terpecah belah dan lemah. Mereka merasa takut dan khawatir jika persatuan umat menjelma menjadi sebuah kekuatan besar yang bisa mengancam rezim dan sistem sekuler yang mereka emban.

Berbagai upaya-mulai dari yang ‘halus’ (seperti perang pemikiran, propaganda hitam, bantuan finansial pendidikan dengan kompensasi berupa perubahan kurikulum madrasah dan pesantren agar menjadi lebih moderat) hingga yang ‘kasar’ (seperti perang melawan terorisme maupun melawan radikalisme)-terus dilakukan oleh baik oleh AS dan sekutunya.

Semua itu dilakukan tidak lain untuk menggembosi Islam sebagai gerakan politik. Karena itu sangat disayangkan jika banyak tokoh Muslim yang justru malah terbawa arus propaganda Barat dan AS dengan ikut-ikutan mengecam gerakan politik Islam. Penyematan radikal pada kelompok-kelompok Islam yang istiqamah menyerukan kembali gagasan kembalinya peradaban Islam dalam bentuk penerapan syariah secara kaffah dalam institusi Khilafah semakin digencarkan.

Lebih parahnya, sebagian kaum Muslim menggugat simbol-simbol Islam berupa kalimat tauhid dan membuat phobia Muslim untuk menggunakannya sebagai identitas kehidupan. Tindakan demikian, selain hanya menguntungkan musuh-musuh Islam, juga akan semakin melemahkan posisi Islam dan kaum Muslim sebagai satu-satunya kekuatan potensial di dunia yang dapat meruntuhkan dominasi Kapitalisme saat ini, yang sesungguhnya telah terbukti banyak menimbulkan kerusakan dan aneka krisis di berbagai belahan dunia, termasuk di negeri ini.

Oleh karena itu, momen persatuan umat ini harus diarahkan kembali pada asas yang benar agar tidak hanya sekadar persatuan yang bersifat sementara.

Akar Masalah Perpecahan Umat
Setidaknya ada tiga faktor penyebab keterpecahbelahan umat Islam saat ini di dunia, termasuk di tanah air.

Pertama, lemahnya kaum Muslimin terhadap pemahaman ajaran Islam yang benar sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, salah satunya kaum Muslimin tidak paham kewajiban menjaga persatuan umat dan larangan untuk terpecah belah. Umat Islam abai dalam menjadikan asas Islam sebagai landasan menjaga kesatuan umat, sehingga mereka terjebak dengan ide-ide dan ikatan-ikatan semu seperti nasionalisme, kebangsaan, ashabiyyah, kepentingan (maslahiyah), atau bahkan hanya mencukupkan pada ikatan spiritual ibadah mahdoh.

Kedua, serangan politik Barat, baik secara fisik yang memerangi negeri-negeri Muslim, embargo ekonomi, perang dagang dan utang luar negeri maupun serangan nonfisik  berupa ide-ide, pemikiran dan opini buruk tentang Islam tetapi mengagungkan segala sesuatu yang datang dari Barat.

Ketiga, ketiadaan Khilafah sebagai perisai umat, institusi pelindung kaum Muslimin sehingga kaum Muslim mudah diadu domba oleh musuh-musuh Islam dan antek-anteknya. (disarikan dari kitab Daulah Islam, Syeikh Taqiyyuddin An-Nabhani)

Umat Wajib Bersatu
Ketika umat Islam bersatu, kaum Muslim telah menjadi satu umat yang kuat, yang disegani oleh semua pihak. Kaum Muslim selama 14 abad sejak diterapkan oleh Rasulullah SAW sangat tangguh karena keperkasaan Rabb mereka dan sangat mulia karena menerapkan agama mereka.

Jika mereka mengeluarkan satu kata, maka kata-kata itu pasti menggema di seluruh pelosok dunia; jika mereka melakukan aksi, maka aksi itu pasti akan menimbulkan rasa gentar di hati orang-orang kafir. Cukup dengan sekali jeritan, seorang Muslimah yang meminta tolong (dengan berseru):

Dimana Mu’tashim?!”, maka khalifah itu pun segera mengerahkan pasukan yang dipimpinnya sendiri. Beliau menuntut balas untuk (menebus kehormatan) wanita itu dari pihak yang menzhaliminya, dan beliau pun berhasil mengembalikan kemuliaan dan kehormatan wanita itu. Negeri Islam ketika itu dikelilingi dengan pagar kemenangan, sehingga orang-orang kafir tidak berani menerobosnya. Justru umat Islamlah yang telah membuka berbagai futuhat (pembebasan), dan menyebarluaskan kebajikan di seluruh penjuru dunia.

Khatimah
Ukhuwah itu menyatukan, menghangatkan dan menguatkan. Ukhuwah Islamiyah juga mengokohkan dan membangkitkan. Kondisi umat Islam saat ini yang hanya untuk peduli pada urusan umat Islam (ihtimam bi amr al-muslimin) saja sulit, merupakan indikasi bahwa umat ini sedang lemah dan tak berdaya.

Di sisi lain penjajahan di negeri-negeri Islam demikian nyata. Kelemahan ini harus segera diakhiri dengan merajut kembali ikatan ukhuwah Islamiyah agar menjadi kokoh, menenun kembali helaian mahabbah agar tampak indah dan merangkai kembali mozaik peradaban sehingga kita benar-benar pantas mewarisi kepemimpinan atas bumi ini. Mengambil pelajaran dari kisah Mesir yang berhadapan dengan Fir’aun, mari kita renungkan firman Allah SWT:

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).” (Q.S. Al-Qashash [28]: 5)

Oleh karena itu, untuk mengembalikan persatuan dan kesatuan kaum Muslimin seluruhnya, maka pokok perjuangan kaum Muslim hari ini adalah bagaimana menyatukan kembali negeri-negeri Islam dalam kesatuan negara Islam, yakni daulah Khilafah Islamiyah sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah dan para sahabat. Ini bukanlah perkara yang mustahil jika mayoritas kaum Muslim telah memiliki kesadaran tentang pentingnya kesatuan pandangan Islam yang menyeluruh dan pandangan kesatuan negeri Islam.[MO/sr]

Posting Komentar