Oleh: Arin RM, S.Si
"Member TSC"


Mediaoposisi.com-Gadget didefinisikan di KBBI sebagai peranti (perangkat) elektronik atau mekanikyang memiliki fungsi paraktis. Gadget kerap disebutkan pula dengan istilah gawai. Di Indonesia sendiri, gadget identik dengan benda kecil canggih yang bisa dibawa kemana-mana (mobile). Contoh bendanya meliputi smartphone, handphone, notebook, walkman, dan sejenisnya (dowithgadget.com, 30/10/2017). 

Di masa kini gadget sangat diperlukan bagi sebagian orang untuk menunjang berbagai aktivitas keseharian, seperti urusan bisnis dan komunikasi sistem cepat. Dan smartphone adalah salah satu jenis yang paling diminati. Bahkan Kominfo menyebutkan Indonesia adalah "raksasa teknologi digital Asia yang sedang tertidur". Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa adalah pasar yang besar. Pengguna smartphone Indonesia juga bertumbuh dengan pesat.

Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika (kominfo.go.id, 02/10/2015).

Realitas di lapangan melebihi dari perkiraan 2015 silam. WeAreSocial yang bekerja sama dengan Hootsuite kembali melansir Global Digital Report tahun 2018, didapatkan hasil bahwa jumlah pengguna internet di Tanah Air mencapai 132 juta orang. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa setengah atau lebih dari 50 persen penduduk Indonesia telah bisa mengakses internet. Sementara di laporan yang sama dijelaskan dari ratusan juta pengguna internet di Indonesia tersebut 60% persennya telah mengakses internet menggunakan smartphone (goodnewsfromindonesia.id, 06/02/2018).

Penyalahgunaan dan Ancaman Negatif

Data yang terbaca di atas menujukkan bahwa penetrasi media sosial yang terfasilitasi oleh kemudahan mengakses internet menggunakan smarthphone juga berpotensi meningkat. Tidak menjadi soal apabila peningkatan itu ke arah yang positif, tetapi justru menjadi boomerang jika yang terjadi adalah sebaliknya. Terlebih potensi penggunaan internet dengan cara yang tidak benar juga sama besar potensinya. Maka, jika ditemukan banyak dampak negative dari kecanggihan teknologi ini adalah hal yang sangat wajar. Sebab selama ini derasnya peningkatan penggunaan smathphone tidak dibarengi dengan edukasi penggunaannya. Bahkan semua level usia bisa memiliki dan menggunakan jenis gadget ini dengan sesuka hati. Dan di titik inilah yang perlu dikritisi.

Abainya pemantauan terhadap penggunaan smathphone memunculkan dampak negative ikutan yang tak diinginkan. Hanya saja kemunculannya masih menjadi fenomenya gunung es. Apa yang tertangkap media masih ujungnya saja. Sedangkan yang tersembunyi, bisa jadi lebih besar. Sebutlah kasus penyalahgunaan media sosial yang mengarah pada pornografi sebagai contohnya. Hingga 2017, konten negatif pornografi yang diblokir Kominfo paling banyak dibanding kategori lainnya. Berdasarkan Database Trust Positif, antara tahun 2014-2017 jenis konten ini menduduki peringkat pertama dengan total 16.574 situs yang diblokir (tirto.id, 16/03/2018).

Paparan pornografi menjadi sesuatu yang jelas mengkhawatirkan. Setiap hari umpan pornografi yang masuk pada benak pengguna akan menjadi provokator untuk melakukan tidak asusila hingga pergaulan bebas yang mengarah pada free sex. Dan kalangan remajalah yang menjadi korbannya. Sebab  merekalah yang berpeluang besar sebagai pengakses internet.

Informasi yang diperoleh dari laman databoks.katadata.co.id (23/02/2018), menerangkan bahwa kelompok usia produktif merupakan pengguna internet terbanyak di Indonesia. Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), hampir separuh dari total pengguna internet di Indonesia merupakan masyarakat dalam kelompok usia 19-34 tahun (49,52%). Sementara pengguna  n terbanyak kedua merupakan kelompok usia 35-54 tahun (29,55%), kelompok usia 13-18 tahun (16,68%), dan pengguna dengan usia di atas 54 tahun (4,24%).

Walhasil dampak negative penggunaan gadget dalam konten pornografi ini akhirnya juga menyatroni generasi muda bangsa. Apa yang terjadi pada sejumlah pelajar  Jawa Barat adalah contohnya. KPA Bekasi mendapatkan temuan adanya tindak asusila melalui grup whatsapp. Grup bernama “All Star” itu menjadi ajang membernya untuk bercengkerama tidak senonoh, berbagi vodeo porno, hingga ajakan berbuat asusila (pikiran-rakyat.com, 03/10/2018).

Bahkan di Garut terdapat grup FB gay yang diikuti oleh siswa SMP dan SMA. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai 2600 orang lebih (regional.kompas.com, 06/10/2018). Contoh tersebut menunjukkan bahwa kerusakan generasi ada di depan mata. Tak selamanya apa yang ada dalam genggaman mereka aman mesikpun itu penting. Dan inilah mengapa perlu ada upaya mengendalikan pengaruh negative atas penggunaan teknologi bagi generasi muda.

Memblokir Pengaruh Negatif Gadget

Sebagai produk teknologi, gadget merupakan benda yang bersifat universal. Siapapun memang boleh menggunakannya. Siapapun bisa memperoleh manfaat positif dari keberadaanya. Namun, di alam yang serba bebas saat ini, benda bernama gadget itu tidak bisa terlepas dari misi-misi khusus yang sengaja diselipkan dibalik pesatnya perkembangannya. Produsen teknologi memang menarget Indonesia sebagai pasar penjualan produknya. Namun punggawa kebebasan berekspresi (negara Barat) juga tak mau ketinggalan untuk ambil bagian. Mereka akan menawarkan berbagai konten kebebasan melalui berbagai aplikasi yang diciptakan. Dan pornografilah yang akhirnya menjadi brand penjualan pergaulan bebas di kalangan remaja pengguna media elektronik.

Masuknya arus pornografi melalu media lebih cepat dan lebih rahasia. Akses apapun yang dilewatkan pesan pribadi pengguna sosial media akan rapi dan hanya diketahui oleh mereka yang terkait. Inilah salah satu alasan yang menjadikan para pemilik kepentingan menjadikan media sosial sebagai kendaraan untuk meraup keuntungan dari bisnis asusila. Minim resiko tapi disaat yang sama bisa tersebar secara massif dalam hitungan detik. Dan hasilnya pergaulan bebas marak di kalangan remaja. Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan bahwa keberadaan gadget dijadikan tunggangan mesin perusak masa depan generasi.

Banyaknya pengaruh negative gadget tak lantas menjadikannya terlarang untuk dimiliki. Gadget, termasuk yang berwujud smartphone tetaplah benda. Tetap mubah digunakan. Yang harus diwaspadai adalah kebudayaan dan gaya hidup khas barat yang dimasukkan di dalamnya, terutama yang bertentangan dengan ajaran Islam dan yang berpotensi merusak aqidah dan moral generasi.

Oleh karenanya diperlukan cara pandang yang bijak, yang tak lantas melarang dan membatasai penggunaan smartphone. Sekali lagi, tetap boleh digunakan, namun penggunalah yang harusnya diberikan kekebalan agar bisa memblokir otomatis  virus peradaban yang menyusup di gadgetnya.  Iman harus kuat, setting pemahaman harus mantap, sehingga virus berbahaya sekelas pornografi dan ajakan pergaulan bebas bisa dilawan. Dimanapun itu, baik di dunia nyata ataupun di dunia maya.

Langkah blokir pertama kali dimulai dari sterilisasi dan imunisasi di lingkungan keluarga. Lazimnya, remaja menghabiskan masa tumbuh kembangnya dari bayi hingga bisa dikatakan ABG dalam buaian keluarganya. Maka disinilah zona pertama peletakan imunisasi terkuat, penanaman aqidah yang kokoh. Kokoh dalam hal ketauhidan, pengajaran ritual, sekaligus pengetahuan tentang mana-mana saja budaya asing yang sejalan dengan keyakinannya dan mana-mana yang tidak. Pengokohan aqidah seperti ini akan menjadikan remaja punya prinsip, tidak serta merta menolak apapun yang dari asing, tetapi juga tidak sembarangan mengambil apapun dari  budaya asing ketika hal tersebut dibalut dengan istilah “tren atau kekinian”.

Di samping itu,  serangan budaya hakikatnya adalah serangan terhadap akidah, karena budaya pasti lahir dari akidah tertentu.  Akidah Islam yang kuat akan mampu memblokir semua bentuk serangan budaya kufur.  Virus pornografi, pergaulan bebas, ataupun konten berbahaya dari gadget dengan sendirinya akan mati oleh sikap berpegang teguhnya Muslim terhadap akidah Islam. Terlebih, Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk hanya menetapi agama Islam dan tidak mencampuradukkan dengan agama lain (lihat QS Ali Imran: 85).

Daya blokir aqidah individu remaja akan semakin hebat jika disertai dengan kekukuhan memegang syariat Islam. Keterikatan terhadap syariat akan menjadikan remaja muslim senantiasa menyelaraskan tindakannya dengan keridlaan Allah.  Oleh karenanya, seorang Muslim ketika hendak berbuat apapun perlu mengetahui status hukum atas perbuatanya tersebut. Sehingga tak menjadi korban pengaruh negative kemajuan teknologi. Dan tentunya untuk menilai baik-buruknya pengaruh teknologi, haruslah ditimbang dengan timbangan syariah, bukan mengikuti hawa nafsunya.  Sebab, hanya Allah sebagai Pembuat Syariah yang mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk bagi manusia (Lihat QS al-Baqarah: 216).

Hanya saja kekuatan keluarga dan ketaqwaan individu remaja muslim dalam menjalankan syariat agamanya ini akan tertatih-tatih tatkala mereka dibiarkan hidup di lingkungan yang justru menyemarakkan sekulersime. Oleh karena itu, diperlukan pemblokiran di zona kedua dan ketiga. Yakni sinergi dari segenap masyarakat dan juga institusi yang lebih besar guna mengawal perlindungan masa depan remaja ini. 

Zona dua berupa lingkungan masyarakat tempat hidup remaja haruslah kondusif, disterilkan dari cemaran virus negatif termasuk di dalam gadgetnya masing-masing. Dan peran zona tiga, yakni negaralah yang paling dominan dalam upaya sterilisasi ini. negara perlu ambil bagian untuk serius memblokir situs pornografi tanpa terkecuali. Bahkan negara harus tegas melarang aplikasi yang di dalamnya memasarkan konten asusila. Sebaliknya, konten yang mampu meningkatkan imun aqidah, memperkuat ketikatan terhadap syariah harus diperbanyak agar nutrisi untuk produksi imun semakin hebat.

Terakhir, semua zona harus saling proaktif, saling peduli untuk memblokir keburukan konten gadget. Tanpa kepedulian dari masyarakat, upaya keluarga bisa jadi sia-sia belaka, apalagi jika sistemnya cenderung jauh dari Islam. Maka, harus ada aktivitas di tengah masyarakat untuk mengawal lingkungan Islami yang siap memblokir pengaruh buruk teknologi bagi kelangsungan generasi ke depannya. Lingkungan islami yang menyajikan program sistem pergaulan Islam sekaligus barrier pertahanan berlapis pada setiap zona. Jika selama ini memang belum ditemukan lingkungan ideal seperti itu, maka itulah yang harus diperjuangkan dengan serius dan sungguh-sungguh. [Arin RM]




Posting Komentar